Konsumsi Energi ASEAN Melonjak, Pertamina Soroti Ketergantungan Impor Minyak di Tengah Geopolitik
Kebutuhan energi ASEAN terus meningkat dengan konsumsi mencapai 463 Mtoe pada 2024, sementara ketergantungan pada impor minyak membuat kawasan rentan terhadap gejolak geopolitik. Melalui ajang 51st ASCOPE di Bali, Pertamina mendorong kolaborasi strategis antarnegara ASEAN, sementara LEMIGAS menekankan pentingnya pengembangan SDM sebagai fondasi ketahanan energi.
Kebutuhan dan konsumsi energi di kawasan ASEAN terus menunjukkan tren kenaikan yang signifikan. Mengacu pada Asean Energy Statistical Yearbook 2026 yang dirilis Agustus 2026, total konsumsi akhir energi (TFEC) ASEAN pada 2024 mencapai 463 juta ton setara minyak (Mtoe), melesat dibandingkan kondisi 2005. Minyak masih menjadi bahan bakar paling dominan sepanjang periode tersebut.
Laporan Southeast Asia Energy Outlook 2026 dari International Energy Agency (IEA) mencatat kebutuhan minyak di kawasan yang dihuni 9 persen populasi dunia itu mencapai 5 juta barel per hari, naik 1,5 persen per tahun sejak 2015. Industrialisasi menjadi salah satu pemicu utama, dengan sektor industri menyerap 45 persen dari total konsumsi energi ASEAN. Selain itu, meningkatnya pendapatan masyarakat turut mendorong mobilitas dan kepemilikan kendaraan, terutama roda dua, sehingga konsumsi bahan bakar minyak ikut naik.
Di balik pertumbuhan tersebut, tantangan ketahanan energi membayangi. Pasokan energi ASEAN masih didominasi bahan bakar fosil, sementara kapasitas produksi minyak dalam negeri terbatas sehingga negara anggota bergantung pada impor. Kerentanan semakin terasa karena 55 persen impor minyak ASEAN berasal dari Timur Tengah, kawasan yang kerap dilanda ketegangan geopolitik.
Menjawab tantangan itu, PT Pertamina (Persero) mendorong penguatan kolaborasi strategis antarnegara ASEAN dalam rangkaian agenda 51st ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE). Acara bertema Strengthening Resilience Through Collaboration itu digelar di The Meru, Sanur, Bali, Senin (26/10).
Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menegaskan, ketahanan energi bukan sekadar kemampuan memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga keberlanjutan pasokan bagi generasi mendatang. "Di sektor energi, ketahanan berarti memastikan bahwa sistem yang kita andalkan saat ini mampu terus memenuhi kebutuhan masyarakat, mendukung perekonomian, dan melayani generasi mendatang," ujarnya, Selasa (27/10).
Simon juga mengangkat tema Nusantara in Harmony untuk menekankan pentingnya kerja sama di tengah keberagaman negara ASEAN. Ia mengibaratkan kolaborasi sebagai orkestra, di mana setiap instrumen memiliki peran berbeda namun saling melengkapi. "Kekuatan kita bukan terletak pada upaya menjadikan setiap negara sama, melainkan pada kemampuan untuk mendorong setiap negara menyumbangkan keunggulan dan kapasitas uniknya demi mencapai tujuan bersama," jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS) Ikhsan Kiat menyoroti pentingnya sumber daya manusia dalam menjaga ketahanan energi. Menurutnya, keberlanjutan industri energi tidak cukup hanya ditopang ketersediaan sumber daya alam dan infrastruktur. "Sumber daya terbesar suatu bangsa bukanlah yang berada di bawah tanah atau di dasar laut, melainkan yang ada di dalam diri manusianya. Inilah yang kita sebut sebagai human energy atau energi manusia," ujarnya.
Ikhsan mendorong pengembangan konsep Human Energy Security melalui empat prinsip, yakni availability (ketersediaan talenta), accessibility (akses terhadap kesempatan), affordability (keterjangkauan pendidikan dan pelatihan), serta acceptability (integritas, martabat, keselamatan, dan kesejahteraan). Ia menilai ASCOPE perlu memperluas peran kerja sama regional, tidak hanya menghubungkan infrastruktur dan pasar energi, tetapi juga mengembangkan kapabilitas tenaga kerja di sektor tersebut.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)