Dari Pabrik Kecil di Sidoarjo, Lakshmi Mittal Kini Kuasai Baja Dunia dan Berharta Rp529 Triliun
Lakshmi Mittal merintis pabrik baja PT Ispat Indo di Sidoarjo pada 1976 sebelum membangun ArcelorMittal menjadi produsen baja terbesar dunia. Forbes menaksir kekayaannya US$29,2 miliar atau sekitar Rp529 triliun, menempatkannya di peringkat ke-79 orang terkaya dunia. Pria kelahiran Rajasthan ini pernah menjadi orang terkaya keempat dunia pada 2008 dengan harta US$45 miliar.
Nama Lakshmi Mittal dikenal sebagai salah satu penguasa industri baja global. Namun jauh sebelum ArcelorMittal menjadi produsen baja terbesar dunia, pria kelahiran Rajasthan, India, 15 Juni 1950 itu memulai langkahnya dari sebuah pabrik kecil di Sidoarjo, Jawa Timur.
Forbes menaksir kekayaan Mittal kini mencapai US$29,2 miliar atau setara Rp529 triliun dengan asumsi kurs Rp18.105 per dolar AS. Dengan harta sebesar itu, ia menempati posisi ke-79 dalam daftar orang terkaya di dunia.
Perjalanan Mittal di industri baja dimulai pada 1976 ketika ia memutuskan pindah ke Indonesia dan mendirikan PT Ispat Indo di Sidoarjo. Pabrik tersebut menjadi fondasi kerajaan bisnisnya sebelum lebih dari satu dekade ia habiskan untuk mempelajari cara mengelola pabrik secara efisien.
Naluri bisnis dan strategi akuisisi yang cermat membawa Mittal pada sejumlah langkah besar. Pada 1989, ia membeli pabrik baja milik pemerintah Trinidad dan Tobago yang tengah merugi, lalu berhasil menggandakan produksinya dalam setahun. Pola serupa ia terapkan di berbagai negara dengan membeli perusahaan bermasalah, mengirim tim manajemen, dan merestrukturisasi operasionalnya.
Puncak akuisisinya terjadi pada 2006 ketika Mittal Steel bergabung dengan Arcelor, perusahaan asal Luksemburg, dalam kesepakatan senilai US$33 miliar. Penggabungan itu melahirkan ArcelorMittal yang kini menjadi produsen baja terbesar di dunia. Sebelumnya, pada 2004, Mittal juga menggabungkan Ispat International dan LNM Holdings serta mengakuisisi International Steel Group yang berbasis di Ohio, Amerika Serikat.
Kesuksesan itu membuat kekayaan Mittal melesat. Pada 2008, harta bersihnya mencapai US$45 miliar atau sekitar Rp814,75 triliun, menjadikannya orang terkaya keempat di dunia saat itu. Sejak Februari 2021, jabatan CEO ArcelorMittal diserahkan kepada putranya, Aditya Mittal, sementara Mittal beralih menjadi executive chairman untuk mengarahkan strategi perusahaan.
Meski masih warga negara India, Mittal dilaporkan tinggal di Swiss setelah puluhan tahun menetap di London, Inggris. Ia menikah dengan Usha Mittal dan dikaruniai dua anak, Aditya Mittal dan Vanisha Mittal Bhatia, yang kini menjabat sebagai direktur ArcelorMittal.
Kisah hidup Mittal jauh dari kemewahan. Ia dibesarkan dalam keluarga Hindu Marwari sederhana di Sadulpur, Rajasthan, bersama sekitar 20 anggota keluarga dalam satu rumah. Pada 1960-an, keluarganya pindah ke Calcutta karena ayahnya menjalankan pabrik baja. Mittal sempat ditolak St. Xavier's College karena kemampuan bahasa Inggrisnya dinilai terbatas, tetapi ia berjanji menguasainya dalam setahun dan akhirnya lulus dengan predikat first-class honors.
Meski dikenal sebagai sosok yang enggan tampil di media, sejumlah pengeluarannya sempat menjadi pemberitaan. Ia pernah membeli rumah 12 kamar tidur di London seharga US$128 juta atau Rp2,32 triliun, serta merogoh kocek US$60 juta atau Rp1,09 triliun untuk pernikahan putrinya di Paris pada 2004. Mittal juga pernah menyumbang sekitar US$180 ribu atau Rp3,26 miliar kepada Partai Buruh Inggris pada 2001, donasi yang menuai kontroversi karena terjadi setelah terungkapnya bantuan Perdana Menteri Tony Blair dalam pembelian perusahaan baja di Rumania.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)