Kiat Mengatur Keuangan di Tengah Kenaikan Harga
Kenaikan harga pangan dan transportasi mendorong masyarakat mencari cara menghemat pengeluaran tanpa menurunkan kualitas hidup. Perencana keuangan menyarankan fokus pada kebutuhan, berjalan kaki untuk jarak dekat, menggunakan transportasi umum, menyisihkan uang sejak gajian, dan menjaga porsi pengeluaran harian maksimal 55 persen.
Kenaikan harga pangan dan biaya transportasi dalam beberapa waktu terakhir tidak hanya memberatkan masyarakat berpenghasilan rendah, tetapi juga mulai dirasakan oleh kelas menengah dan pelaku usaha. Setiap kelompok masyarakat merasakan dampak yang berbeda, tergantung pada pola konsumsi dan ketergantungan terhadap subsidi.
Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE), Andy Nugroho, menjelaskan bahwa masyarakat berpenghasilan rendah menjadi kelompok yang paling cepat merasakan dampak kenaikan harga. Ketika harga pangan naik, mereka harus mengurangi kualitas makanan atau mencari alternatif yang lebih murah agar kebutuhan tetap terpenuhi.
Sementara itu, kalangan atas lebih banyak merasakan dampaknya melalui bisnis yang menghadapi kenaikan biaya operasional, penurunan daya beli konsumen, hingga tuntutan kenaikan upah pekerja. Perencana Keuangan Zelts Consulting, Ahmad Gozali, menambahkan bahwa kelompok menengah justru menjadi kelompok yang paling rentan dalam jangka panjang karena memiliki biaya transportasi yang cukup besar untuk bekerja, tetapi tidak mendapatkan bantuan atau subsidi seperti masyarakat berpenghasilan rendah.
Untuk mengatasi hal ini, para perencana keuangan memberikan sejumlah tips. Pertama, fokus pada kebutuhan, bukan gaya hidup. Andy menyarankan untuk menjalani hidup sesuai kemampuan tanpa terus membandingkan diri dengan orang lain. Masyarakat tetap bisa memperoleh makanan bergizi dengan harga terjangkau melalui warung atau memasak sendiri di rumah. Kebiasaan membeli kopi kekinian atau jajanan harian bisa menggerus anggaran tanpa disadari.
Kedua, mulai berjalan kaki untuk jarak dekat. Ahmad Gozali menilai masyarakat kini terlalu bergantung pada layanan transportasi daring, bahkan untuk jarak yang sebenarnya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Kebiasaan berjalan kaki untuk first mile atau last mile perjalanan dapat memangkas biaya transportasi sekaligus meningkatkan kesehatan.
Ketiga, pertimbangkan transportasi umum. Jika biaya bahan bakar dan kendaraan pribadi semakin tinggi, masyarakat bisa beralih ke moda transportasi umum. Meskipun ada kompromi dari sisi kenyamanan, penghematan yang diperoleh bisa cukup signifikan. Penggunaan sepeda untuk perjalanan tertentu juga bisa menjadi alternatif yang lebih murah dan sehat.
Keempat, sisihkan uang sejak hari gajian. Andy menyarankan untuk langsung mengalokasikan dana untuk kebutuhan wajib seperti cicilan rumah, listrik, air, biaya pendidikan, dan tabungan. Gunakan rekening berbeda agar dana kebutuhan utama tidak tercampur dengan uang belanja harian.
Kelima, jaga porsi pengeluaran harian maksimal 55 persen. Menurut Andy, tidak ada aturan baku berapa persen gaji yang harus digunakan untuk makan dan transportasi karena sangat relatif, terutama bagi mereka yang tinggal dan bekerja di area megapolitan seperti Jabodetabek. Namun, secara umum, kebutuhan sehari-hari termasuk makan dan transportasi idealnya berada di kisaran 55 persen dari total pengeluaran bulanan. Jika kebutuhan tersebut membengkak, masyarakat bisa memangkas pos pengeluaran lain seperti hiburan atau me time terlebih dahulu.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0