Kebakaran Hutan Papua Meluas, Ribuan Satwa Endemik dan Burung Migran Terancam Kehilangan Habitat
Kebakaran hutan di Papua yang mencapai ribuan hektare mengancam satwa endemik dan burung migran. Data Global Forest Watch mencatat Papua kehilangan 27 ribu hektare hutan primer sepanjang 2025, tertinggi sejak 2017. BNPB melaporkan 695 hektare terbakar di Papua Selatan dengan 379 titik panas. Ekosistem Taman Nasional Wasur yang menjadi habitat 403 spesies burung turut terancam.
Kebakaran hutan yang melanda Papua telah mencapai luas ribuan hektare dan menimbulkan ancaman serius bagi kelangsungan hidup satwa endemik serta keanekaragaman hayati di pulau tersebut. Burung-burung migran yang bergantung pada ekosistem hutan dan lahan basah juga berada dalam risiko besar akibat peristiwa ini.
Peneliti dari University of California, Irvine, Yang Chen, mengungkapkan bahwa aktivitas kebakaran di Papua Nugini dan Indonesia bagian timur pada tahun ini jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah Indonesia bagian barat. "Kami melihat aktivitas kebakaran yang sangat tinggi di Papua Nugini dan Indonesia Timur, khususnya Papua Indonesia dan Kalimantan, tahun ini dibandingkan Sumatra dan wilayah Indonesia Barat lainnya," ujarnya.
Data Global Forest Watch menunjukkan bahwa Papua kehilangan sekitar 27 ribu hektare hutan primer sepanjang 2025. Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan tahun 2024 dan menjadi yang tertinggi sejak 2017. Deforestasi skala besar dalam dua dekade terakhir untuk perkebunan kelapa sawit, tanaman bahan baku bubur kertas, pertanian, perluasan kota, dan pertambangan turut memperparah kondisi.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Minggu (1/11) mencatat luas area terbakar di Papua Selatan mencapai 695 hektare dengan 379 titik panas dan 171 titik api. Sekitar 253 hektare di antaranya masih belum padam. "Berdasarkan data BNPB per 1 November 2026 pukul 17.00 WIB, Papua Selatan masih menjadi salah satu wilayah prioritas penanganan karhutla," kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan, Senin (2/11).
Papua memiliki beragam ekosistem, mulai dari hutan hujan dataran rendah, hutan rawa, savana, hingga lahan basah. Kebakaran berisiko mengganggu keberlangsungan satwa endemik yang semakin langka. Data Kementerian Kehutanan menyebut Taman Nasional Wasur seluas sekitar 431.425 hektare di Kabupaten Merauke memiliki 403 spesies burung, dengan 74 spesies endemik Papua dan 114 spesies dilindungi.
Taman Nasional Wasur juga menjadi tempat singgah bagi burung migran dari Australia dan Selandia Baru. Ribuan burung memanfaatkan lahan basah tersebut untuk mencari makan dan beristirahat selama perjalanan migrasi. Ketika kebakaran terjadi, satwa-satwa ini kehilangan tempat tinggal, sumber pakan, dan lokasi berkembang biak.
Damianus V.S. Woghomugu dan Hermanus Warmetan dari Universitas Papua yang meneliti pengelolaan lahan basah Taman Nasional Wasur mengungkapkan bahwa kerusakan satu bagian habitat memengaruhi fungsi ekologis kawasan secara lebih luas. Kebakaran yang berulang setiap tahun juga menjadi perhatian karena ekosistem hutan membutuhkan waktu lama untuk memulihkan vegetasi dan fungsi ekologisnya.
Pada ekosistem lahan basah, perubahan vegetasi dan kondisi perairan berpotensi memengaruhi ikan kecil, serangga, dan organisme akuatik yang menjadi bagian dari rantai makanan. Para pakar menilai perlu upaya pemantauan kondisi ekosistem dan pemulihan habitat pascakebakaran agar dampak terhadap satwa endemik dan burung migran tidak semakin meluas.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)