Kabut Asap Karhutla RI Meluas, Kunjungan Pasien ke Klinik dan IGD Singapura Ikut Naik
Kementerian Kesehatan Singapura mencatat kenaikan kunjungan pasien ke klinik dan IGD akibat kabut asap karhutla di Indonesia. Meski tak menyebut angka pasti, MOH memastikan tidak ada kasus kematian atau perawatan intensif. Dokter melaporkan lonjakan 20-30 persen pasien dengan gejala pilek, sakit tenggorokan, asma, hingga iritasi mata, seiring kualitas udara Singapura yang kembali masuk kategori tidak sehat.
Kementerian Kesehatan Singapura (MOH) melaporkan adanya peningkatan kunjungan pasien ke klinik dan Instalasi Gawat Darurat (IGD) seiring memburuknya kualitas udara akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia. Laporan tersebut disusun setelah MOH mengumpulkan data dari rumah sakit-rumah sakit di Singapura.
Meski menyebut adanya "sedikit peningkatan" kunjungan, MOH tidak merinci angka pasti pasien yang terdampak. Yang jelas, otoritas kesehatan Singapura menegaskan belum menemukan kasus kematian maupun pasien yang memerlukan perawatan intensif akibat paparan kabut asap. "Kami tak menemukan ada kasus yang perlu perawatan di unit perawatan intensif atau kematian akibat kabut asap," ujar juru bicara MOH, seperti dikutip Straits Times, Selasa (13/10).
Kendati demikian, sejumlah dokter dan staf medis melaporkan adanya kenaikan 20 hingga 30 persen pasien dengan gejala terkait kabut asap. Gejala yang dikeluhkan beragam, mulai dari pilek, sakit tenggorokan, bersin-bersin, iritasi mata, asma, ruam kulit, hingga gangguan pernapasan.
Laporan pada akhir September lalu juga menunjukkan lonjakan konsentrasi polutan yang berbarengan dengan meningkatnya kunjungan ke IGD. Setiap kenaikan 10 mikrogram per meter kubik polutan PM 2,5 di atas tingkat referensi tercatat meningkatkan kunjungan darurat akibat asma dan penyakit paru-paru sebesar 3,2 persen dalam dua hari setelahnya.
Plt Direktur Medis Parkway Shenton, Sharon Ngoh, membenarkan adanya peningkatan kunjungan pasien pada Oktober dibandingkan pertengahan September. Menurutnya, jumlah pasien dengan keluhan terkait kabut asap naik sekitar 30 persen. "Paparan kumulatif, bukan hanya satu hari kualitas terburuk, yang menjadi penyebab beban kesehatan," kata Sharon.
Sharon menambahkan, pihaknya kini menerima lebih banyak pasien yang mengeluhkan sakit kepala dan kelelahan, yang diduga berkaitan dengan paparan kabut asap. Keluhan tersebut muncul di tengah memburuknya kualitas udara di Singapura dalam beberapa pekan terakhir.
Kualitas udara di Singapura sebelumnya sempat masuk kategori tidak sehat pada 4 September, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir. Sejak saat itu, polusi udara menjadi perhatian serius di negara tersebut. Pada Selasa siang, indeks kualitas udara Singapura kembali berada di angka 128 hingga 174, yang masuk kategori tidak sehat.
Situasi ini menjadi perhatian lintas negara karena kabut asap yang menyelimuti Singapura bersumber dari karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Meski belum menimbulkan korban jiwa atau kasus berat, lonjakan kunjungan pasien ke fasilitas kesehatan menunjukkan dampak kesehatan yang nyata dari paparan kabut asap yang berkepanjangan.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)