Serangan Houthi ke Bandara Riyadh Tewaskan 13 Orang, dari Mana Pendanaan Militernya Berasal?

Milisi Houthi Yaman kembali menyita perhatian setelah serangan ke Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menewaskan 13 orang. Serangan ini memicu pertanyaan tentang sumber pendanaan kelompok tersebut, yang diduga berasal dari dukungan Iran, pajak dan bea cukai di wilayah Yaman, serta perdagangan minyak ilegal senilai miliaran dolar per tahun.

Oct 13, 2026 - 04:02
Updated: 9 hours ago
0 0
Serangan Houthi ke Bandara Riyadh Tewaskan 13 Orang, dari Mana Pendanaan Militernya Berasal?
Serangan Houthi ke Bandara Riyadh Tewaskan 13 Orang, dari Mana Pendanaan Militernya Berasal?

Serangan milisi Houthi Yaman terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, pada akhir pekan lalu menewaskan 13 orang dan melukai ratusan lainnya. Aksi tersebut menjadi bagian dari rangkaian serangan Houthi ke Arab Saudi dan sejumlah situs pentingnya sejak Juli, yang mereka klaim sebagai balasan atas dugaan keterlibatan Riyadh dalam serangan di bandara Sanaa, Yaman.

Intensitas serangan Houthi yang meningkat memunculkan pertanyaan mengenai asal pendanaan kelompok tersebut. Saudi dan negara-negara Barat meyakini Iran menjadi salah satu sumber dana utama bagi operasional Houthi. Teheran diduga menyelundupkan berbagai jenis senjata, termasuk drone, rudal jelajah, dan rudal balistik, selama perang saudara Yaman berlangsung, meskipun tindakan itu melanggar embargo senjata Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Sebuah panel ahli PBB pada 2024 menyimpulkan bahwa Houthi telah berkembang menjadi organisasi militer yang kuat berkat transfer material, bantuan, dan pelatihan dari Garda Revolusi Iran, Hizbullah Lebanon, serta spesialis dari Irak. Laporan Conflict Armament Research (CAR) pada Mei 2026 juga menyebut Teheran memasok komponen rakitan kepada proksinya di Timur Tengah dan membagikan teknologi rudal canggih, setelah sebelumnya mengirim senjata dalam bentuk jadi.

Selain dukungan eksternal, Houthi disebut mengumpulkan dana dari dalam Yaman melalui penarikan pajak, bea cukai, zakat, dan berbagai pungutan lain kepada masyarakat. Pendapatan tersebut mulai diamankan setelah kelompok itu merebut ibu kota Sanaa pada September 2014. Laporan Mokha Center for Strategic Studies pada Juli menggambarkan praktik ini sebagai "ekonomi paralel" yang diperkirakan menghasilkan sumber daya dan biaya keuangan langsung maupun tidak langsung bagi Houthi sekitar US$2,5 miliar setiap tahun.

Rincian laporan tersebut mencakup US$800 juta dari pajak dan bea cukai, US$600 juta dari tambahan biaya dan pungutan, serta US$300 juta dari kontribusi tunai dan non-tunai untuk upaya perang. Sekitar US$100 juta terkait dengan kegiatan mobilisasi, sedangkan US$700 juta lainnya merupakan biaya tidak langsung yang ditanggung dunia usaha akibat tingginya biaya transportasi, layanan, dan berbagai pungutan.

Pemerintah Amerika Serikat juga menyoroti perdagangan minyak ilegal sebagai salah satu sumber pembiayaan eksternal terpenting bagi Houthi. Kementerian Keuangan AS pada Januari menuduh kelompok tersebut menghasilkan lebih dari US$2 miliar setiap tahun melalui penjualan minyak ilegal. Kombinasi dukungan luar negeri dan pemasukan domestik itu membuat Houthi tetap mampu membiayai operasi militernya di tengah konflik Yaman yang berkepanjangan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User