Eks Mendag Lutfi Buka Suara soal Asap, Sindir Singapura hingga Singgung Taipan Sawit
Kabut asap akibat karhutla Indonesia memicu aksi saling balas antara eks Mendag Muhammad Lutfi dan pejabat Malaysia serta Singapura. Lutfi menuding Singapura menikmati keuntungan dari perusahaan sawit yang beroperasi di Indonesia, sementara pejabat Singapura menolak komentar yang menyebut negaranya harus menerima asap karena menghirup oksigen dari hutan Indonesia.
Kabut asap yang melanda sejumlah negara Asia Tenggara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia memicu perdebatan panas di antara pejabat dan politikus. Mantan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi ikut angkat bicara dan menuding Singapura hanya menjadikan Indonesia sebagai tempat pembuangan sampah.
Pernyataan Lutfi muncul setelah sejumlah pejabat Malaysia dan Singapura mengomentari kabut asap serta pernyataan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI (Bakom) Syahganda Nainggolan. Sebelumnya, Nainggolan menuai kritik karena menyebut oksigen Singapura dan Malaysia berasal dari hutan Indonesia. "Kita bukan hanya mengirim asap, tapi kalau asapnya engga ada, kita mengirim oksigen. Oksigen Singapura dan Malaysia itu kan datang dari hutan-hutan kami," ujar Nainggolan pada 10 Oktober.
Pernyataan itu langsung mendapat respons dari Menteri Kesehatan sekaligus Menteri Penerangan dan Pembangunan Digital Singapura, Rahayu Nahzam. Ia menegaskan negaranya tidak bisa menerima kualitas udara buruk akibat karhutla ilegal. "Kita tak bisa menerima pencemaran udara yang begitu parah. Kita juga kecewa dengan komentar yang menyebut Singapura harus menerima kabut asap karena selama ini menghirup oksigen yang dihasilkan hutan Indonesia," kata Rahayu pada Senin (19/10).
Senada dengan Rahayu, Menteri Dalam Negeri Singapura K Shanmugam menilai pernyataan tersebut tidak tepat di tengah kondisi kabut asap. Menurutnya, seluruh kawasan menderita akibat ulah perusahaan yang melanggar aturan di Indonesia, dan yang paling terdampak justru rakyat Indonesia sendiri. Singapura juga telah merilis hasil investigasi terhadap perusahaan-perusahaan di Indonesia yang diduga menyebabkan kebakaran hutan dan lahan, serta berencana menindak mereka berdasarkan undang-undang kabut asap lintas batas.
Dari Malaysia, anggota parlemen Kalam Salan turut mengomentari pernyataan pejabat Bakom tersebut. Ia sengaja menggunakan bahasa Jawa agar pesannya dapat dipahami pejabat dan rakyat Indonesia. "Mula, aja malah iki digawe guyuan, digawe lelucuan. Ngomong, nek alas Indonesia wis ngirim oksigen kanggo Malaysia. Lah, alas Malaysia kuwi opo? Mongko kok plastik ora iso ngasilke oksigen?" kata Salan.
Sebelumnya, anggota parlemen Malaysia Lim Guan Eng mendesak pemerintah negaranya mempertimbangkan langkah hukum terhadap Indonesia untuk menuntut ganti rugi imbas kabut asap. Ia menyampaikan hal itu saat pidato membahas Anggaran 2027 di Dewan Rakyat pada Kamis (15/10).
Menanggapi rentetan pernyataan tersebut, Lutfi membongkar praktik bisnis perusahaan sawit yang beroperasi di Indonesia tetapi berlindung di balik bendera Singapura. Ia menuding para taipan sawit meminjam uang hingga triliunan rupiah dari bank dalam negeri untuk membangun perkebunan raksasa, karena bank di Singapura enggan mengambil risiko pinjaman tersebut.
Setelah perkebunan beroperasi dan menghasilkan, Lutfi menyebut perusahaan-perusahaan itu mendirikan perusahaan induk di Singapura, melantai di bursa saham sana, dan membayar pajak jauh lebih murah. Keuntungan yang berlipat ganda kemudian diinvestasikan ke family office di Singapura yang mensyaratkan aset minimum 20 juta dolar. "Ini seperti mempunyai rumah, makan, dan minum di Singapura, tetapi membuang sampah dan air besar di Indonesia," ujar Lutfi.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)