Upaya Penyelamatan Gagal, Teleskop Tua NASA Bakal Jatuh ke Bumi Akhir Pekan Ini

Observatorium Swift milik NASA diperkirakan jatuh ke Bumi pada Jumat (6/11) setelah upaya penyelamatan darurat gagal. Aktivitas Matahari yang intens membuat teleskop berusia 22 tahun itu kehilangan kestabilan. Sebagian besar material diperkirakan terbakar di atmosfer, namun beberapa bagian seperti tungsten dan cermin berpotensi bertahan dan jatuh ke lautan atau wilayah tertentu.

Nov 02, 2026 - 08:02
Updated: 1 day ago
0
Upaya Penyelamatan Gagal, Teleskop Tua NASA Bakal Jatuh ke Bumi Akhir Pekan Ini
Upaya Penyelamatan Gagal, Teleskop Tua NASA Bakal Jatuh ke Bumi Akhir Pekan Ini

Observatorium Swift, teleskop tua milik NASA yang telah mengorbit selama 22 tahun, diprediksi akan jatuh ke Bumi pada Jumat (6/11) atau sekitar waktu tersebut. Kepastian ini muncul setelah upaya penyelamatan darurat yang dilakukan NASA bersama Katalyst Space tidak membuahkan hasil. Aktivitas Matahari yang terlalu intens disebut turut mempercepat penurunan teleskop dari orbitnya.

Prediksi waktu jatuhnya teleskop disampaikan oleh Angkatan Luar Angkasa Amerika Serikat (U.S. Space Force). Lembaga itu menyatakan sedang memantau jalur jatuh Observatorium Swift yang semakin mengecil. Menurut kepala ilmuwan misi Brad Cenko dari NASA, sebagian besar bagian teleskop seberat sekitar satu setengah ton kemungkinan akan terbakar saat memasuki atmosfer.

Meski demikian, sejumlah material yang lebih kuat seperti tungsten atau bagian cermin diperkirakan masih bisa bertahan. Sisa puing tersebut kemungkinan besar akan jatuh ke lautan. Namun, sebagian besar wilayah Afrika, Australia, India, Asia Tenggara, serta Amerika Tengah dan Selatan berada dalam zona re-entry yang menjadi perhatian.

Observatorium Swift diluncurkan pada 20 November 2004 dengan misi mengamati peristiwa paling dahsyat di alam semesta, seperti semburan sinar gamma dan supernova. Selama beroperasi, teleskop ini telah membantu ilmuwan menemukan lebih dari 2.000 semburan sinar gamma dan 1.400 bintang yang meledak, termasuk sejumlah komet, asteroid, dan lubang hitam yang menghancurkan bintang.

John Nousek, astronom yang memimpin tim pengendali, mengaku sudah mengetahui risiko akhir ini sejak lama. Menurutnya, benda apa pun yang berada di orbit Bumi rendah pada akhirnya akan kembali ke Bumi. "Kami sudah tahu hari ini akan tiba bahkan sebelum Swift diluncurkan. Setidaknya di orbit Bumi rendah, sesuatu yang naik pasti akan turun. Dan akhir seperti ini merupakan bencana," ujarnya.

Upaya penyelamatan sebenarnya telah dirancang sejak tahun lalu. NASA dan Katalyst Space menyiapkan robot berlengan tiga bernama Link untuk mendekati teleskop. Namun, robot tersebut diluncurkan pada Juli dan hanya mampu mendekati Swift hingga jarak 12 sampai 15 kilometer sebelum akhirnya jatuh kembali ke Bumi pada September.

Setelah penyelamatan dibatalkan, Swift sempat melanjutkan pengamatan dan justru menemukan lebih banyak semburan sinar gamma serta peristiwa berenergi tinggi lainnya. Namun pada akhir Oktober, teleskop semakin merendah dan kehilangan kestabilan hingga sistemnya dimatikan. NASA menyebut Swift merupakan wahana yang memberi sinyal pertama kepada teleskop Hubble, Webb, dan teleskop lainnya untuk melakukan investigasi lebih mendalam.

Kini para ilmuwan tengah mencari cara untuk menemukan pengganti Observatorium Swift. Nousek berharap pelajaran dari keberhasilan Swift dapat diterapkan pada generasi baru misi luar angkasa. "Dengan tulus, harapan kami adalah bahwa pelajaran yang dipetik dari keberhasilan Swift ini dapat diterapkan pada generasi baru misi luar angkasa untuk mempercepat penemuan kita tentang alam semesta," katanya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User