Rekor Baru Gas Rumah Kaca 2025: CO2 Tembus 482,8 ppm, Bumi di Jalur Panas Ekstrem
Laporan WMO mencatat konsentrasi CO2 global pada 2025 mencapai 482,8 ppm, rekor tertinggi sepanjang pengamatan. Metana dan dinitrogen oksida juga naik ke level baru. WMO memperingatkan tren ini memperkuat pemanasan jangka panjang dan memicu cuaca ekstrem, dengan laju kenaikan CO2 yang kini tiga kali lipat dibanding era 1960-an.
Konsentrasi karbon dioksida (CO2) dan gas rumah kaca utama lainnya di atmosfer kembali mencatat rekor tertinggi pada 2025. Temuan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) ini menegaskan bahwa tekanan terhadap iklim global semakin kuat dan berdampak jangka panjang.
Dalam WMO Greenhouse Gas Bulletin, rata-rata konsentrasi CO2 global pada 2025 mencapai 482,8 parts per million (ppm). Angka itu setara 153 persen dari level tahun 1750, sebelum era industrialisasi. Metana dan dinitrogen oksida (N2O), dua gas rumah kaca berumur panjang terpenting setelah CO2, juga meningkat ke rekor baru akibat aktivitas manusia.
Wakil Sekretaris Jenderal WMO Ko Barret menyebut kondisi ini sebagai rekor yang berulang setiap tahun. Menurutnya, gas rumah kaca kini memerangkap panas dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya di atmosfer. "Kondisi ini menyediakan energi bagi terjadinya cuaca yang lebih ekstrem dan berbagai risiko terkait bagi perekonomian serta masyarakat kita," ujarnya.
Barret juga menegaskan sebelas tahun terakhir merupakan periode terpanas di Bumi yang pernah tercatat, dan tren tersebut diperkirakan berlanjut. CO2 memiliki masa bertahan sangat panjang, sehingga dampaknya terhadap iklim global tidak hanya berlangsung bertahun-tahun, tetapi juga puluhan hingga ratusan tahun.
Laporan itu mencatat sekitar setengah dari total CO2 yang dilepaskan setiap tahun tetap berada di atmosfer, sementara sisanya diserap ekosistem daratan dan lautan. Ketika buletin ini pertama kali diterbitkan pada 2004, rata-rata tahunan kadar CO2 yang diukur melalui jaringan stasiun Global Atmosphere Watch WMO baru mencapai 377,5 ppm.
Laju peningkatan CO2 pun meningkat tiga kali lipat sejak 1960-an. Kenaikan rata-rata tahunan yang sebelumnya 0,8 ppm menjadi 2,4 ppm per tahun pada periode 2011-2020. Pada 2024-2025, konsentrasi CO2 global naik 2,8 ppm, lebih tinggi dari rata-rata satu dekade, meski sedikit lebih rendah dibanding lonjakan besar pada 2023-2024.
Pejabat ilmiah Senior WMO, Oksana Tarasova, menjelaskan kenaikan yang lebih rendah pada 2024-2025 mencerminkan pulihnya kemampuan ekosistem daratan menyerap karbon dan berkurangnya emisi akibat kebakaran pada 2025. Hal ini terjadi setelah El Nino kuat pada 2023-2024 yang menurunkan kemampuan biosfer menyerap karbon akibat kekeringan dan kebakaran hutan yang lebih sering.
Meski begitu, Tarasova memperingatkan konsentrasi CO2 akan kembali meningkat pada 2026 akibat pembakaran bahan bakar fosil dan berkembangnya El Nino kuat. "Fenomena ini akan memengaruhi kemampuan ekosistem daratan menyerap karbon, seperti yang terjadi pada 2023-2024. Risiko berkurangnya penyerapan CO2 oleh lautan juga semakin meningkat seiring perubahan iklim," katanya.
Selain CO2, metana menyumbang sekitar 16 persen efek pemanasan dari gas rumah kaca berumur panjang. Sekitar 35 persen metana berasal dari sumber alami seperti lahan basah, sedangkan 65 persen dari aktivitas manusia seperti peternakan, pertanian padi, eksploitasi bahan bakar fosil, tempat pembuangan sampah, dan pembakaran biomassa. Konsentrasi metana global pada 2025 mencapai 1.948 parts per billion (ppb) atau 267 persen dari level 1750.
Dinitrogen oksida, gas rumah kaca berumur panjang terpenting ketiga, berasal dari sumber alami maupun aktivitas manusia seperti pembakaran biomassa, pupuk, dan proses industri. Konsentrasinya mencapai 339,1 ppb pada 2025, atau 126 persen lebih tinggi dibanding 1750. WMO juga menyoroti sulfur heksafluorida (SF6) yang konsentrasinya terus naik selama tiga dekade terakhir seiring meningkatnya penggunaan listrik. SF6 bertahan di atmosfer lebih dari 1.000 tahun dengan potensi pemanasan global sekitar 24.300 kali lebih besar dari CO2. Buletin ini diterbitkan sebagai acuan ilmiah bagi para negosiator dalam konferensi iklim PBB, termasuk COP31 yang akan membahas komitmen iklim dan implementasinya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)