Bukan Ditindih Makhluk Halus, Ini Penjelasan Sains soal Fenomena Ketindihan Saat Tidur

Fenomena ketindihan atau sleep paralysis sering dikaitkan dengan hal mistis, padahal sains punya penjelasan medisnya. Ahli neurologi IPB University Yeni Quinta Mondiani menjelaskan kondisi ini terjadi saat tubuh masih di fase tidur REM tetapi otak sudah aktif, sehingga seseorang sadar namun tak mampu bergerak. Kurang tidur, stres, hingga narkolepsi disebut jadi pemicunya.

Oct 31, 2026 - 16:01
Updated: 1 day ago
0
Bukan Ditindih Makhluk Halus, Ini Penjelasan Sains soal Fenomena Ketindihan Saat Tidur
Bukan Ditindih Makhluk Halus, Ini Penjelasan Sains soal Fenomena Ketindihan Saat Tidur

Pengalaman ketindihan saat tidur masih sering dikaitkan sebagian orang dengan hal mistis, seolah ada makhluk halus yang menindih tubuh. Padahal, dunia medis telah lama memiliki penjelasan ilmiah atas fenomena yang dikenal sebagai sleep paralysis tersebut.

Ahli neurologi dari Fakultas Kedokteran IPB University, Yeni Quinta Mondiani, memaparkan bahwa tidur merupakan proses fisiologis berulang yang ditandai penurunan kesadaran secara reversibel. Saat tidur, fungsi kognitif menurun secara global sehingga otak tidak mampu merespons penuh rangsangan di sekitar.

Menurut Yeni, siklus tidur manusia terdiri atas lima fase, yakni empat fase Non-Rapid Eye Movement (NREM) dan satu fase Rapid Eye Movement (REM). Fase ketiga dan keempat NREM merupakan tahap tidur paling dalam yang berperan memulihkan kesegaran tubuh setelah beraktivitas. Fase ini punya ambang tinggi untuk terbangun dan kerap dikaitkan dengan gangguan tidur seperti sleep walking dan sleep terror.

Sementara itu, fase REM menjadi fase ketika mimpi dapat diingat. Pada fase ini terjadi hambatan sinyal motorik yang sangat kuat sehingga hanya sedikit gerakan yang muncul. Sleep paralysis sendiri termasuk jenis gangguan tidur bernama parasomnia, yaitu kondisi terbangunnya tidur yang tidak mengubah kualitas maupun kuantitas tidur.

"Sleep paralysis itu sendiri adalah ketidakmampuan bergerak pada saat awal atau akhir tidur, sementara subjek telah terbangun," jelas Yeni, dikutip dari laman resmi IPB University.

Gangguan ini muncul pada fase REM, ketika otot seharusnya tidak dapat digunakan selama seseorang tertidur. Saat sleep paralysis terjadi, tubuh masih berada di fase tidur tetapi otak sudah aktif, sehingga penderitanya merasa tidak bisa bergerak atau seperti sedang tertindih. Umumnya kondisi ini pertama kali muncul pada usia 15 hingga 35 tahun dan dapat datang secara tidak menentu.

Sejumlah faktor disebut dapat memicunya, mulai dari kurang tidur, stres, gangguan kecemasan, faktor keturunan, hingga kondisi medis seperti narkolepsi. Yeni menyebut sebagian besar penderita tertidur dalam posisi terlentang dan tidak dapat bergerak, meski napas serta jantung tetap bekerja normal. Setiap episode biasanya berlangsung beberapa detik hingga menit.

Selama kejadian berlangsung, penderitanya sadar sedang mengalami kondisi tersebut tetapi tidak mampu bergerak. Ketidakmampuan bergerak inilah yang sering memicu rasa takut dan membuat sebagian orang mengaitkannya dengan hal mistis. Gejala lain seperti halusinasi juga bisa muncul, terutama bila dipicu gangguan tidur narkolepsi, meski episode ini dapat berakhir secara spontan.

Untuk mengatasinya, Yeni menyarankan penderita mulai memperbaiki gaya hidup dan pola tidur. Menerapkan sleep hygiene seperti mengatur jam tidur dan bangun, membatasi konsumsi kafein, serta menghindari makanan berlemak atau cepat saji dapat mengurangi pemicu kondisi ini. "Langkah lain dengan melakukan exercise ringan dan mengatur perangkat elektronik di sekitar kita," terangnya.

Jika keluhan tak membaik, ia menganjurkan penderita berkonsultasi ke dokter ketika sleep paralysis cukup mengganggu aktivitas atau frekuensinya terus meningkat. "Perlu berobat ke dokter spesialis untuk pemberian obat antidepresan, dan tata laksana untuk penyakit underlying-nya seperti narkolepsi," pungkas Yeni.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User