Pemilu Israel 27 Oktober: 7,3 Juta Pemilih Menentukan Nasib Netanyahu

Israel menggelar pemilu nasional pada 27 Oktober dengan sekitar 7,3 juta pemilih berhak memberikan suara. Benjamin Netanyahu berupaya mempertahankan kekuasaan di tengah persaingan ketat dengan blok oposisi yang dipimpin kandidat seperti Gadi Eisenkot. Sistem proporsional dan ambang batas 3,25 persen membuat pembentukan koalisi 61 kursi Knesset menjadi kunci penentu pemerintahan.

Oct 21, 2026 - 12:02
Updated: 19 hours ago
0
Pemilu Israel 27 Oktober: 7,3 Juta Pemilih Menentukan Nasib Netanyahu
Pemilu Israel 27 Oktober: 7,3 Juta Pemilih Menentukan Nasib Netanyahu

Warga Israel dijadwalkan menuju tempat pemungutan suara pada 27 Oktober mendatang untuk mengikuti pemilihan umum nasional. Ini menjadi pemilu pertama di Israel sejak berlangsungnya perang di Gaza, Lebanon, dan Iran, sekaligus ajang penentuan apakah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mampu mempertahankan kekuasaannya.

Netanyahu, yang telah memimpin Israel selama total 19 tahun dalam tiga periode berbeda, kembali mencalonkan diri meski masih menghadapi persidangan atas tuduhan korupsi yang ia bantah. Partai Likud yang dipimpinnya bersaing ketat dengan blok oposisi, sementara hasil jajak pendapat belum menunjukkan kubu mana pun yang dipastikan meraih mayoritas kursi parlemen.

Menurut Komite Pemilihan Pusat Israel, sekitar 7,3 juta warga berusia 18 tahun ke atas berhak memberikan suara. Sebagian besar tempat pemungutan suara akan dibuka mulai pukul 07.00 hingga 22.00 waktu setempat pada hari pemungutan suara.

Israel menerapkan sistem pemilu proporsional, di mana partai memperoleh kursi di Knesset berdasarkan persentase suara nasional yang diraih. Partai harus melewati ambang batas elektoral sebesar 3,25 persen agar dapat masuk parlemen, sedangkan suara untuk partai yang gagal mencapai ambang batas tidak diperhitungkan dalam pembagian kursi.

Knesset memiliki 120 kursi, sehingga sebuah partai perlu menguasai setidaknya 61 kursi untuk meraih mayoritas. Namun, belum pernah ada satu partai pun yang berhasil memenangkan mayoritas mutlak dalam pemilu Israel. Karena itu, partai dengan suara terbanyak belum tentu menjadi pemenang dalam perebutan kekuasaan.

Setelah pemilu, partai-partai harus membentuk koalisi yang mampu mengamankan minimal 61 kursi. Proses pembentukan koalisi berlangsung selama 28 hari dan dapat diperpanjang hingga 14 hari. Jika tidak ada koalisi yang terbentuk, pemilu ulang dapat digelar.

Dari sisi pemilih, sekitar tiga juta warga Palestina dewasa di Jalur Gaza, Tepi Barat yang diduduki, dan Yerusalem Timur yang diduduki tidak memiliki hak suara dalam pemilu Knesset. Sebaliknya, sekitar 1,2 juta warga Yahudi Israel dan warga Palestina yang menjadi warga negara Israel dapat memberikan suara, dan lebih dari 750 ribu pemukim Israel di Tepi Barat serta Yerusalem Timur yang diduduki juga memiliki hak pilih.

Di kubu oposisi, mantan kepala militer Gadi Eisenkot dipandang sebagai salah satu kandidat potensial untuk menggantikan Netanyahu. Partai barunya, Yashar, dilaporkan memperoleh dukungan yang sebanding dengan Likud dalam jajak pendapat. Blok oposisi juga mencakup Naftali Bennett, Yair Lapid, Avigdor Liberman, dan Yair Golan, sementara tokoh sayap kanan Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich serta partai-partai ultra-Ortodoks tetap menjadi pemain penting dalam perebutan kursi.

Partai-partai yang dipimpin warga Arab juga berpotensi memengaruhi pembentukan pemerintahan, meski sebagian besar pemimpin oposisi dari tokoh Yahudi telah menolak bergabung dengan partai-partai tersebut. Pemilu 27 Oktober menjadi pemilu nasional keenam Israel sejak 2019, tetapi untuk pertama kalinya dalam 38 tahun pemilu bertepatan dengan berakhirnya masa jabatan penuh Knesset.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User