Ekspedisi Baru Gagal Buktikan Keberadaan Pesawat Amelia Earhart di Nikumaroro
Ekspedisi terbaru yang menyisir Pulau Nikumaroro tidak menemukan bukti meyakinkan bahwa pesawat Amelia Earhart mendarat di pulau itu. Objek misterius yang diduga puing pesawat ternyata kumpulan pohon yang mengendap. Meski demikian, tim peneliti tetap yakin Earhart dan navigatornya, Fred Noonan, pernah terdampar di pulau tersebut sebelum hilang pada 1937.
Upaya mengungkap misteri hilangnya pesawat penerbang legendaris Amelia Earhart kembali menemui jalan buntu. Ekspedisi terbaru yang menyisir Pulau Nikumaroro di Pasifik Selatan tidak menemukan bukti meyakinkan bahwa pesawat yang membawa Earhart pernah mendarat di pulau tersebut.
Tim gabungan yang dipimpin Archaeological Legacy Institute (ALI) dan Universitas Purdue mengumumkan hasil ekspedisi mereka pada Senin (19/10). Sebanyak 17 peneliti dan teknisi tiba di Pulau Nikumaroro pada 12 Oktober untuk menyelidiki objek misterius di sebuah laguna yang diduga sebagai puing-puing pesawat Earhart. Objek yang dikenal sebagai Objek Taraia itu pertama kali terdeteksi melalui citra satelit pada 2020.
Pemimpin ekspedisi sekaligus arkeolog, Rick Pettigrew, menduga objek tersebut merupakan bagian dari pesawat Lockheed 10E Electra yang diterbangkan Earhart saat menghilang pada 1937. Namun, hasil pemeriksaan di lokasi tidak mendukung dugaan tersebut. Universitas Purdue menyatakan tim tidak menemukan bukti konklusif yang mengonfirmasi keberadaan pesawat Earhart di laguna Pulau Nikumaroro.
Tim peneliti menduga objek yang terlihat dalam citra satelit tersebut merupakan kumpulan pohon besar yang terbawa dan mengendap di sepanjang gosong pasir semenanjung. Saat tim tiba, sebagian besar material itu telah hancur dan hanyut.
Meski demikian, Pettigrew menegaskan kegagalan mengidentifikasi objek tersebut tidak serta-merta menggugurkan dugaan bahwa Earhart dan navigatornya, Fred Noonan, pernah terdampar di pulau terpencil itu. "Bukti untuk hipotesis orang terdampar, yang membawa kita ke sini, tetap sangat, sangat kuat," kata Pettigrew dalam pernyataan video. "Kami pikir sangat mungkin Amelia dan navigatornya, Fred Noonan, memang terdampar di Pulau Nikumaroro ini," lanjutnya.
Penasihat umum dan anggota tim lapangan Universitas Purdue, Steve Schultz, juga mengatakan bahwa hasil ekspedisi tersebut tidak menghilangkan bukti lain yang mendukung hipotesis tersebut. Earhart dan Noonan menghilang pada 2 Juli 1937 saat berusaha menyelesaikan penerbangan keliling dunia. Earhart berambisi menjadi perempuan pertama yang terbang mengelilingi dunia. Keduanya terakhir kali terlihat lepas landas dari Lae, Papua Nugini, untuk menempuh perjalanan sekitar 18 jam menuju Pulau Howland, sebuah pulau kecil di Samudra Pasifik.
Saat menghilang, Earhart telah menempuh sekitar 22.000 mil atau 35.405 kilometer. Ia masih harus terbang sekitar 7.000 mil atau 11.265 kilometer untuk menyelesaikan perjalanan tersebut. Pendapat utama dari pencarian besar-besaran yang dipimpin pemerintah AS setelah hilangnya Earhart menunjukkan bahwa Earhart dan Noonan kehabisan bahan bakar dan pesawat mereka jatuh ke Samudra Pasifik di dekat tujuan. Namun, pendapat lain menyebut keduanya mungkin mendarat di Pulau Nikumaroro, sekitar 644 kilometer di selatan Pulau Howland, dan bertahan hidup sebagai orang terdampar sebelum meninggal akibat kehausan atau kelaparan.
Pulau Nikumaroro kini menjadi bagian dari Republik Kiribati. Pulau tak berpenghuni tersebut dikelilingi terumbu karang dan berada di lokasi terpencil di Pasifik Selatan. Tim ekspedisi terbaru bahkan membutuhkan waktu lima hari perjalanan laut dari Tarawa, ibu kota Kiribati, untuk mencapai pulau itu.
Ekspedisi terbaru ini menambah panjang daftar pencarian pesawat Earhart yang berakhir tanpa hasil pasti. Pakar Earhart sekaligus mantan kurator Smithsonian National Air and Space Museum di Washington, Dorothy Cochrane, mengatakan Pulau Nikumaroro telah disisir lebih dari 15 kali. Namun, berbagai ekspedisi tersebut belum menemukan bukti nyata keberadaan pesawat, Earhart, maupun Noonan di pulau itu. Pada 2024, perusahaan eksplorasi laut Deep Sea Vision mendeteksi objek menyerupai pesawat melalui citra sonar di kawasan laut sekitar 160 kilometer dari Pulau Howland, tetapi setelah diperiksa lebih lanjut objek tersebut ternyata merupakan formasi bebatuan. Ekspedisi lain yang dipimpin ahli oseanografi Bob Ballard pada 2019 juga tidak berhasil menemukan pesawat Earhart di sekitar Nikumaroro.
Dalam ekspedisi terbaru, tim Universitas Purdue dan ALI menggunakan magnetometer untuk mendeteksi benda berbahan besi serta teknologi sonar untuk mencari objek yang tertimbun sedimen di dasar laguna. Pettigrew mengatakan tim telah mencapai tujuan utama mereka, yakni menguji dugaan bahwa objek Taraia merupakan bagian dari pesawat Earhart. Meski dugaan tersebut tidak terbukti, tim tetap mempertahankan kemungkinan bahwa Earhart dan Noonan pernah terdampar di Nikumaroro. Pencarian pesawat Earhart kemungkinan belum berakhir. Perusahaan eksplorasi laut dalam Nauticos tengah berupaya mengumpulkan dana sebesar US$8 juta hingga US$10 juta untuk membiayai ekspedisi berikutnya di perairan sekitar Pulau Howland.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)