Pakar IABI Jelaskan Kapan Hujan Abu Anak Krakatau Berhenti, Ternyata Tak Bisa Diprediksi Tanggalnya

Hujan abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau melanda sejumlah wilayah Lampung. Pakar IABI Daryono menyatakan hujan abu tidak bisa diprediksi berdasarkan kalender karena bergantung pada pasokan magma dan arah angin. Selama kantong magma masih terisi, letusan susulan akan terus terjadi. Belum ada teknologi yang mampu mengukur sisa magma secara persis.

Oct 04, 2026 - 16:02
Updated: 14 hours ago
0 0
Pakar IABI Jelaskan Kapan Hujan Abu Anak Krakatau Berhenti, Ternyata Tak Bisa Diprediksi Tanggalnya
Pakar IABI Jelaskan Kapan Hujan Abu Anak Krakatau Berhenti, Ternyata Tak Bisa Diprediksi Tanggalnya

Hujan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau mengguyur sejumlah wilayah di Provinsi Lampung sejak Sabtu (5/9) sore hingga malam. Warga di beberapa kabupaten dan kota mengeluhkan dampak abu, mulai dari mata perih, tenggorokan tidak nyaman, hingga gangguan pernapasan. Perubahan arah angin diduga menjadi penyebab utama abu terbawa lebih jauh.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menegaskan bahwa hujan abu vulkanik tidak dapat ditentukan kapan berakhirnya hanya dengan melihat kalender. Menurutnya, letusan baru akan berhenti jika pasokan magma segar dari perut bumi habis dan tekanan di dapur magma kembali tenang.

"Selama kantong magma di bawah gunung masih terus mendapat kiriman magma baru dari kedalaman bumi, letusan susulan yang membawa abu akan terus terjadi secara naik-turun, kadang tenang, kadang membesar," ujar Daryono dalam pernyataan tertulisnya, Senin (7/9).

Daryono menjelaskan bahwa arah dan sebaran abu sangat dipengaruhi oleh dua faktor, yakni kekuatan letusan dan arah angin. Jika letusan kuat, abu halus dapat terlempar tinggi ke lapisan udara atas, lalu angin kencang membawanya melayang hingga puluhan bahkan ratusan kilometer sebelum akhirnya jatuh ke tanah.

Pasokan magma sendiri akan berhenti ketika dorongan alami dari dalam bumi melemah. Tanpa dorongan kuat, magma di saluran gunung mendingin, mengeras, dan tersumbat batuan sekitar. Saat itulah gunung api kembali stabil dan tidak lagi menyemburkan material. Tanda-tanda pasokan magma habis dapat dipantau dari hilangnya gempa dalam, menurunnya bau gas menyengat, serta tubuh gunung yang mulai menyusut.

Meski demikian, Daryono menekankan bahwa berhentinya pasokan magma sulit diprediksi. Hingga kini belum ada teknologi yang mampu mengukur sisa magma di dalam Bumi secara persis. "Belum ada teknologi di dunia yang bisa mengukur sisa jumlah magma di dalam Bumi secara persis. Ini mirip kejadian gempa yang belum dapat diprediksi hingga saat ini karena mekanisme terjadinya di kedalaman jauh di bawah permukaan bumi," imbuhnya.

Alih-alih menebak tanggal, para ahli vulkanologi biasanya membaca pola dengan memantau penurunan gempa serta perubahan badan gunung secara terus-menerus, seperti deflasi dan deformasi permukaan. "Yang bisa dilakukan oleh para ahli vulkanologi bukanlah menebak tanggal, melainkan membaca pola. Appreciate untuk PVMBG Badan Geologi yang tiada lelah terus bekerja untuk ini," tutup Daryono.

Sebaran abu vulkanik dilaporkan melanda Kabupaten Lampung Selatan, Kota Bandar Lampung, Lampung Timur, Pesawaran, Pringsewu, Tanggamus, Pesisir Barat, Mesuji, hingga Lampung Barat. Hujan abu mulai turun sejak pukul 17.00 WIB dan berlanjut hingga malam hari.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User