Erupsi Anak Krakatau Berhenti, PVMBG Ingatkan Potensi Letusan Susulan Masih Tinggi

Erupsi menerus Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda berhenti pada Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Meski begitu, PVMBG menegaskan status gunung tetap Level III Siaga karena potensi letusan susulan masih tinggi. Sejarah menunjukkan gunung muda ini pernah memicu tsunami pada 2018 akibat longsoran material ke laut.

Oct 04, 2026 - 16:02
Updated: 14 hours ago
0 0
Erupsi Anak Krakatau Berhenti, PVMBG Ingatkan Potensi Letusan Susulan Masih Tinggi
Erupsi Anak Krakatau Berhenti, PVMBG Ingatkan Potensi Letusan Susulan Masih Tinggi

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kembali menjadi sorotan setelah erupsi menerus yang berlangsung sejak Jumat, 4 September 2026 malam dinyatakan berhenti. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat erupsi menerus tersebut berakhir pada Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Kendati demikian, potensi letusan susulan masih tergolong tinggi sehingga status gunung tetap berada pada Level III atau Siaga.

Kepala PVMBG Kementerian ESDM, Siti Sumilah Rita Susilawati, dalam keterangannya menegaskan bahwa tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau tidak diturunkan meski erupsi menerus telah berhenti. Erupsi pada Jumat malam itu sendiri sempat menampilkan semburan lava pijar berwarna merah menyala yang dikenal sebagai lava fountain atau air mancur lava. Aktivitas tersebut disertai suara dentuman yang terdengar hingga Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau di Pasauran, Banten. Peralatan CCTV di sekitar kawah juga dilaporkan mengalami gangguan setelah terkena lontaran material erupsi.

Gunung Anak Krakatau memiliki sejarah panjang yang berkaitan erat dengan letusan besar Gunung Krakatau pada 1883. Letusan itu menghancurkan sebagian besar tubuh gunung dan meninggalkan kaldera besar di Selat Sunda. Pada akhir 1927, erupsi kembali terjadi dari kawasan kaldera tersebut, namun aktivitasnya masih berlangsung di bawah permukaan laut. Material vulkanik kemudian menumpuk hingga sebuah gunung baru muncul ke permukaan pada 1929, yang selanjutnya dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau.

Sejak kemunculannya, gunung ini terus mengalami proses konstruksi. Lava, abu, dan material vulkanik yang keluar dari kawah perlahan menumpuk dan membentuk tubuh gunung. Badan Geologi mengategorikan Anak Krakatau sebagai gunung aktif tipe A yang berada di perairan Selat Sunda. Gunung ini juga terus memperlihatkan aktivitas magmatik meski intensitasnya berubah-ubah.

Pada 2026, aktivitas gunung ini sudah meningkat sejak beberapa bulan sebelum erupsi. Badan Geologi mendeteksi adanya emisi gas SO2 dan anomali panas melalui satelit sejak Juni 2026. Aktivitas kegempaan dan asap kawah kemudian meningkat, hingga status gunung dinaikkan dari Level II Waspada menjadi Level III Siaga pada 2 Juli 2026. Dengan demikian, fenomena erupsi yang terjadi bukanlah peristiwa tanpa tanda.

Di sisi lain, gunung api pada dasarnya merupakan sistem yang terus bergerak. Magma dari dalam Bumi dapat naik melalui rekahan menuju permukaan, berubah menjadi lava dan berbagai material vulkanik, lalu menumpuk di sekitar kawah. Jika proses ini berlangsung berulang kali, tubuh gunung dapat bertambah tinggi dan berubah bentuk. Namun, proses tersebut tidak selalu berarti gunung hanya bertambah besar.

Gunung Anak Krakatau justru menunjukkan proses sebaliknya pada 2018. Saat itu, aktivitas vulkanik menyebabkan sebagian tubuh gunung longsor ke laut. Material yang masuk ke laut dalam jumlah besar kemudian memicu tsunami pada 22 Desember 2018 yang menghantam pesisir Banten dan Lampung. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa bahaya Anak Krakatau tidak hanya berasal dari lava, abu, atau lontaran batu, melainkan juga dari perubahan bentuk gunung.

BMKG menyatakan longsoran material vulkanik ke laut sebagai salah satu bahaya sekunder yang perlu dipantau karena dapat memicu tsunami non-tektonik. Meski demikian, erupsi tidak otomatis menyebabkan tsunami. BMKG tidak mendeteksi tsunami maupun perubahan muka air laut yang mengindikasikan tsunami pada peristiwa kali ini. Potensi tsunami akan menjadi perhatian apabila terjadi mekanisme tertentu, terutama longsoran material gunung api dalam jumlah signifikan ke laut.

Oleh karena itu, pemantauan Gunung Anak Krakatau dilakukan tidak hanya berdasarkan tinggi kolom abu atau aktivitas letusan. Para pakar perlu mengamati perubahan bentuk gunung, pergerakan massa batuan, aktivitas magma, serta kondisi laut di sekitarnya. Hal ini semakin penting karena Anak Krakatau merupakan gunung api yang relatif muda dan masih mengalami pertumbuhan. Setiap erupsi dapat menjadi bagian dari proses pembangunan sekaligus perubahan, sehingga setiap aktivitas terbaru dan perubahannya menjadi informasi penting bagi para ilmuwan untuk memahami bagaimana gunung ini berkembang dan seberapa besar potensi bahayanya di masa depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User