Pakar IABI Beberkan Ancaman Abu Vulkanik di Mesin Jet, Suhu 2.000 Derajat Bikin Silika Meleleh

Erupsi Gunung Anak Krakatau memicu pembatalan penerbangan di sejumlah bandara Indonesia. Anggota IABI Daryono menjelaskan abu vulkanik berbahaya karena partikel silika tajam dan abrasif dapat merusak kaca kokpit, sensor pitot tube, serta meleleh di mesin jet bersuhu hingga 2.000 derajat Celsius dan menyumbat turbin. BMKG juga mengingatkan abu vulkanik bisa mematikan mesin dan mengganggu navigasi.

Oct 04, 2026 - 16:02
Updated: 14 hours ago
0 0
Pakar IABI Beberkan Ancaman Abu Vulkanik di Mesin Jet, Suhu 2.000 Derajat Bikin Silika Meleleh
Pakar IABI Beberkan Ancaman Abu Vulkanik di Mesin Jet, Suhu 2.000 Derajat Bikin Silika Meleleh

Sejumlah penerbangan di berbagai bandara Indonesia terpaksa dibatalkan sejak Minggu (6/9) hingga Senin (7/9) akibat erupsi Gunung Anak Krakatau yang menyebarkan abu vulkanik ke udara. Pembatalan ini bukan tanpa alasan. Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, menegaskan bahwa abu vulkanik memang sangat berbahaya bagi penerbangan sehingga penutupan bandara menjadi langkah yang tepat.

Daryono menjelaskan bahwa abu vulkanik memiliki karakter fisik dan kimiawi yang jauh berbeda dari awan biasa. Abu vulkanik bukanlah kumpulan tetesan air atau kristal es, melainkan fragmen batuan mikroskopis, silika SiO2, serta kristal mineral berujung tajam yang sangat abrasif. Ketika pesawat melintasi awan abu pada kecepatan jelajah tinggi, gesekan partikel keras tersebut dapat mengikis kaca kokpit hingga buram, merusak sensor dinamika udara seperti pitot tube yang mengukur kecepatan udara, serta mengikis bilah turbin dan lapisan pelindung mesin jet.

Menurut Daryono, ancaman paling krusial justru terjadi di dalam mesin turbofan. Suhu ruang bakar mesin jet saat beroperasi bisa mencapai 1.400 hingga 2.000 derajat Celsius, jauh melampaui titik leleh senyawa silika dalam abu vulkanik yang meleleh di kisaran 1.100 derajat Celsius. Saat abu terhisap masuk, partikel silika meleleh secara mendadak, mengalir, lalu membeku kembali menjadi kerak kaca ketika melewati bagian turbin yang lebih dingin. Kerak kaca ini menyumbat nosel aliran udara dan mengganggu aerodinamika bilah turbin, yang berujung pada engine stall hingga flameout atau hilangnya pembakaran internal secara total.

Selain kerusakan mekanis dan termal, Daryono menyebut abu vulkanik juga memicu gangguan sistemik pada navigasi dan kelistrikan pesawat. Gesekan antarpartikel abu halus yang terlempar dengan kecepatan tinggi menimbulkan muatan listrik statis ekstrem, memicu fenomena St. Elmo's Fire di kaca kokpit serta gangguan interferensi frekuensi radio komunikasi. Komposisi asam yang melekat pada abu juga berpotensi menyebabkan korosi instan pada komponen elektronik sensitif dan mencemari sistem pengondisian udara kabin, yang tidak hanya mengancam fungsi instrumen penerbangan tetapi juga membahayakan sistem pernapasan kru dan penumpang.

Senada dengan Daryono, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa abu vulkanik merupakan material halus yang dapat terbawa angin dalam jarak jauh. Partikel ini berpotensi memengaruhi kesehatan, kualitas udara, aktivitas masyarakat, lingkungan, hingga sektor transportasi dan penerbangan. Dalam unggahan di Instagram pada Minggu (6/9), BMKG menjelaskan salah satu dampak abu vulkanik pada penerbangan adalah kemampuannya mematikan mesin pesawat.

"Abu vulkanik mengandung serpihan kaca dan batuan tajam. Jika terhisap masuk ke mesin pesawat yang sangat panas, abu akan meleleh dan menyumbat mesin hingga mati," tulis BMKG dalam unggahan tersebut.

BMKG juga mengingatkan bahwa abu vulkanik dapat mengurangi jarak pandang pilot. Gesekan partikel abu bekerja seperti amplas yang mengikis kaca kokpit hingga buram sehingga pilot tidak bisa melihat ke luar. Selain itu, abu vulkanik berpotensi mengganggu sistem navigasi pesawat karena dapat menyumbat sensor kecepatan dan ketinggian, yang berimbas pada akurasi informasi penerbangan.

Dengan berbagai risiko tersebut, pembatalan penerbangan dan penutupan sejumlah bandara menjadi langkah preventif yang dinilai tepat untuk menjaga keselamatan penerbangan di tengah erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User