Trump Klaim AS Kuasai 65 Miliar Barel Minyak Venezuela, Investasi Rp1.775 Triliun Disiapkan
Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan minyak dengan Venezuela yang membuat AS menguasai sekitar 65 miliar barel cadangan terbukti. Menlu Marco Rubio menyebut kesepakatan ini akan membawa hampir US$100 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun investasi swasta. Venezuela mengonfirmasi perjanjian tersebut dan menyebutnya berdampak besar bagi kebangkitan bangsa.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kesepakatan minyak dengan Venezuela yang disebutnya sebagai salah satu transaksi minyak terbesar dalam sejarah. Dalam kesepakatan itu, AS diklaim memegang kendali mayoritas atas sekitar 65 miliar barel cadangan minyak terbukti milik Venezuela.
Pengumuman tersebut disampaikan Trump pada Jumat (28/8) melalui platform Truth Social. Ia menyatakan Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth telah mencapai kesepakatan dengan pejabat sementara Venezuela Delcy Rodriguez melalui kemitraan dengan perusahaan swasta. Menurut Trump, transaksi ini akan sangat memperkuat hubungan yang sudah berkembang antara Venezuela dan Amerika Serikat, sekaligus membuat cadangan minyak AS meningkat lebih dari dua kali lipat.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menambahkan bahwa kesepakatan tersebut akan membawa hampir US$100 miliar atau sekitar Rp1.775,74 triliun investasi swasta ke Venezuela, dengan asumsi kurs Rp17.757 per dolar AS. Melalui unggahan di X, Rubio menyebut investasi itu akan mendukung ribuan lapangan kerja bergaji tinggi dan mendorong pembangunan kembali ekonomi Venezuela. "Untuk rakyat Venezuela, kesepakatan ini akan membawa hampir US$100 miliar investasi swasta," tulis Rubio.
Pihak Venezuela telah mengonfirmasi perjanjian minyak dengan AS tersebut. Pemimpin sementara Venezuela Delcy Rodriguez menyebut perjanjian bersejarah itu akan mempunyai dampak signifikan terhadap kebangkitan bangsa. Meski demikian, rincian mengenai struktur kepemilikan maupun nilai investasi dalam kesepakatan tersebut belum dijelaskan lebih lanjut.
Sebelumnya, Axios melaporkan AS dan Venezuela tengah bernegosiasi mengenai pengembangan sekitar 12 ladang minyak produktif. Ladang-ladang itu memiliki sekitar 90 miliar barel cadangan terbukti, atau sekitar sepertiga dari total cadangan terbukti Venezuela yang mencapai 300 miliar barel. Dalam skema yang dilaporkan Axios, perusahaan swasta termasuk perusahaan asal AS akan mengembangkan ladang tersebut, dengan AS memperoleh kepemilikan saham sementara Venezuela mendapatkan bagian pendapatan minyak yang lebih besar.
Venezuela diketahui memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia. Kesepakatan ini juga berkaitan dengan kepentingan Trump untuk meningkatkan pasokan minyak bagi AS. Trump mengatakan kesepakatan itu akan membantu menurunkan harga bensin bagi masyarakat Amerika Serikat. Rubio menyebut kebijakan tersebut sebagai bagian dari upaya pemerintahan Trump untuk mendapatkan cadangan minyak yang stabil dan berbiaya rendah di kawasan Amerika serta menekan harga bahan bakar di dalam negeri.
Pemerintahan Trump sebelumnya telah mendorong perusahaan-perusahaan AS untuk kembali berinvestasi di Venezuela. Namun, sejumlah perusahaan masih berhati-hati karena kondisi infrastruktur minyak Venezuela yang rusak serta rekam jejak pemerintah Caracas dalam mengambil alih aset investor asing. Saat ini, Chevron menjadi satu-satunya perusahaan minyak AS yang masih beroperasi di Venezuela ketika pemerintahan Nicolas Maduro digulingkan dan ditangkap pada Januari. Chevron sempat menyatakan produksi minyak mentahnya di Venezuela mencapai 280 ribu barel per hari dan menargetkan peningkatan produksi sebesar 50 persen hingga akhir 2028.
Kesepakatan terbaru Trump dengan Venezuela muncul ketika cadangan minyak strategis AS berada di level terendah dalam sekitar 40 tahun. Di sisi lain, gangguan pasokan minyak global akibat perang AS dengan Iran turut membuat harga energi menjadi salah satu perhatian utama pemerintah AS.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)