Mantan Perwira Shin Bet Buka Rahasia Pertemuan dengan Petinggi Hamas di Tengah Perang Gaza
Mantan perwira intelijen Israel, Adi Rotem, mengungkap pertemuan rahasianya dengan pejabat senior Hamas, Ghazi Hamad, pada 2024 di tengah perang Gaza. Pembicaraan yang disetujui eselon politik itu disebut membantu terwujudnya kesepakatan Januari 2025 yang membebaskan puluhan sandera dan lebih dari 1.000 tahanan Palestina.
Mantan perwira intelijen Israel dari badan keamanan Shin Bet, Adi Rotem, membuka cerita tentang pertemuan rahasianya dengan pejabat senior Hamas, Ghazi Hamad, pada 2024. Pengakuan itu disampaikannya pada Sabtu (29/8) kepada Channel 12 dan menjadi kali pertama saluran komunikasi tersebut diungkap ke publik. Saat itu, Israel tengah menggempur Gaza.
Rotem menegaskan bahwa jalur pembicaraan langsung dengan Hamas tersebut telah mendapat persetujuan dari eselon politik. Menurutnya, ide mendekati Hamad muncul dari dirinya sendiri. Ia menilai Hamad sebagai sosok yang tepat karena pernah berperan dalam kesepakatan Shalit pada 2011, ketika Israel di bawah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu membebaskan 1.027 tahanan keamanan Palestina, termasuk Yahya Sinwar.
"Saya mengerti bahwa jika ada alamat, dialah alamat yang tepat. Ghazi Hamad adalah seseorang yang kami kenal dari masa lalu. Dia cukup senior, dan cerdik, memiliki akses ke seluruh pimpinan Hamas," kata Rotem. Ia mengaku tidak naif soal sosok Hamad, tetapi ada sesuatu pada diri Hamad yang membuatnya yakin diskusi tersebut mungkin dilakukan.
Keputusan menjajaki pembicaraan langsung dengan Hamas muncul setelah tewasnya enam sandera pada Agustus 2024, yakni Hersh Goldberg-Polin, Ori Danino, Eden Yerushalmi, Almog Sarusi, Alexander Lobanov, dan Carmel Gat. Sepanjang musim panas 2024, upaya negosiasi lanjutan dengan Hamas disebut terus berputar tanpa hasil. Rotem mengenang, hal itu terjadi setelah kesepakatan pembebasan sandera perempuan dan anak-anak pada akhir 2023.
Ketika ditanya soal isi pembicaraannya dengan Hamad, Rotem mengungkapkan kalimat yang ia sampaikan. "Kita adalah musuh di masa perang. Kita akan terus berperang. Pada saat yang sama, kita memiliki peran fungsional. Saat ini kita sedang menyelesaikan masalah negosiasi. Dan kita akan terus menjadi musuh bebuyutan sesaat sebelum dan sesaat setelahnya," ujarnya.
Pembicaraan itu disebut membantu memungkinkan tercapainya kesepakatan dengan Hamas pada Januari 2025. Dalam kesepakatan tersebut, puluhan sandera, baik yang masih hidup maupun yang telah tewas, dibebaskan secara bertahap. Sebagai imbalannya, bantuan kemanusiaan ke Gaza ditingkatkan dan lebih dari 1.000 tahanan keamanan Palestina yang ditahan di penjara Israel dibebaskan.
Kesepakatan Januari 2025 juga memuat kesepahaman untuk menggelar pembicaraan mengenai fase kedua dan ketiga. Fase lanjutan itu mencakup pembebasan seluruh sandera, pengakhiran perang, dan penarikan penuh Israel dari Jalur Gaza. Namun, gencatan senjata runtuh di tahap pertama setelah Israel terus menggempur Gaza. Pada Oktober, kesepakatan lain yang didukung Amerika Serikat tercapai untuk mengakhiri perang.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)