Bos SKK Migas Beberkan Kondisi Ketahanan Energi RI, Sejak 2004 Berubah Drastis
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengungkap kondisi ketahanan energi Indonesia yang berubah sejak 2004 dari negara eksportir menjadi importir minyak. Saat ini Indonesia masih mengimpor 50 persen kebutuhan bensin dan LPG, meski produksi gas alam masih surplus hingga 30 persen diekspor. Pemerintah menjalankan sejumlah kebijakan untuk menekan impor.
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto membeberkan kondisi ketahanan energi Indonesia saat ini. Dalam program The Economic CNN Indonesia TV With Rully Kurniawan pada Kamis (29/10) malam, ia menjelaskan bahwa Indonesia pernah berada di posisi surplus minyak dan menjadi negara eksportir.
Namun situasi itu berubah sejak 2004. Djoko menyebut Indonesia kemudian beralih menjadi negara pengimpor karena produksi dalam negeri tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan. Hal ini pula yang membuat Indonesia keluar dari keanggotaan OPEC.
"Sejak tahun 2004 kita sudah menjadi negara nett importir minyak. Dulu kita negara OPEC. Kemudian sekarang sudah menjadi importir sehingga kita keluar dari OPEC," ujarnya.
Menurut Djoko, saat ini Indonesia mengimpor sekitar 50 persen kebutuhan bensin. Selain itu, impor juga dilakukan untuk minyak mentah yang menjadi bahan baku kilang.
Berbeda dengan minyak, Djoko menilai ketahanan energi Indonesia untuk gas alam masih tergolong baik. Indonesia masih mampu mengekspor gas alam, baik melalui pipa maupun dalam bentuk LNG.
"30 persen produksi gas alam kita masih kita ekspor. Berupa gas pipa dan LNG," katanya.
Meski demikian, Indonesia tetap melakukan impor gas dalam bentuk LPG. Untuk mengurangi ketergantungan impor, pemerintah menjalankan sejumlah kebijakan di tiga komoditas energi tersebut.
Di sektor minyak, pemerintah berupaya menggenjot produksi dalam negeri. Sementara untuk menekan impor LPG, pemerintah terus membangun jaringan gas (jargas), mendorong penggunaan kompor listrik, serta menjalankan program CNG.
"Untuk mengatasi impor LPG kita ada jargas, kita ada kompor listrik juga, kita juga ada program CNG, kita sedang uji coba tabung CNG setara 3 kg," jelas Djoko.
Adapun untuk mengurangi impor bensin, pemerintah tengah menggenjot program kendaraan listrik. Selain itu, Djoko menyebut ke depan akan dikembangkan bio-gasolin yang dicampur dengan etanol, meniru keberhasilan sejumlah negara seperti Brazil.
"Selain kendaraan listrik, kita ke depan juga ada bio-gasolin, ada campur dengan etanol. Itu di Brazil, di beberapa negara itu sudah berhasil ya kita pakai bioful jenis bio-bensin dengan etanol. Kalau yang biodiesel kan kita sudah sukses ya," tuturnya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)