El Nino Belum Puncak tapi Suhu Pasifik Cetak Rekor 29,70 Derajat Celsius

El Nino yang belum mencapai puncaknya pada Desember telah memecahkan rekor suhu permukaan laut di zona pemantauan Nino3.4 Pasifik, mencapai 29,70 derajat Celsius pada September. Copernicus mencatat ini melampaui puncak El Nino 1982/1983, 1997/1998, dan 2015/2016, sementara suhu global September juga mencetak rekor 21,05 derajat Celsius.

Oct 13, 2026 - 08:02
Updated: 1 day ago
0 0
El Nino Belum Puncak tapi Suhu Pasifik Cetak Rekor 29,70 Derajat Celsius
El Nino Belum Puncak tapi Suhu Pasifik Cetak Rekor 29,70 Derajat Celsius

Fenomena El Nino yang belum mencapai puncaknya pada Desember mendatang ternyata sudah memecahkan rekor suhu terpanas di zona pemantauannya di Pasifik. Layanan Perubahan Iklim Uni Eropa Copernicus melaporkan suhu permukaan laut di wilayah Nino3.4 mencapai 29,70 derajat Celsius pada September, angka tertinggi sepanjang sejarah pengamatan.

Rekor tersebut melampaui suhu puncak peristiwa El Nino sebelumnya, yakni pada periode 1982/1983, 1997/1998, dan 2015/2016. Kondisi ini menunjukkan intensitas luar biasa dari El Nino saat ini, meskipun para peneliti masih belum bisa memastikan apakah fenomena kali ini akan menjadi yang terkuat yang pernah tercatat.

Copernicus menjelaskan bahwa perubahan iklim turut berkontribusi meningkatkan suhu laut, sehingga perbandingan historis menjadi rumit. Peristiwa El Nino terkini bisa tampak lebih kuat daripada masa lalu karena pengaruh pemanasan global. Jika diukur menggunakan indeks baru yang memperhitungkan pemanasan laut tropis, El Nino saat ini belum lebih kuat daripada peristiwa sebelumnya. Selain itu, tidak semua prakirawan cuaca memakai skala yang sama dalam menginterpretasikan El Nino.

Meski demikian, data yang dihimpun pada September menunjukkan El Nino sudah sangat kuat, terlebih karena fenomena ini belum mencapai puncaknya yang diperkirakan terjadi pada Desember. Pada Jumat (9/10), Badan Meteorologi Jepang bahkan menyatakan kondisi El Nino telah mencapai intensitas terkuat yang pernah tercatat, dengan suhu di area pemantauan mencapai 4 derajat Celsius di atas normal.

Dampak El Nino juga terlihat pada suhu global. Copernicus mencatat suhu permukaan laut rata-rata global mencapai rekor 21,05 derajat Celsius pada September tahun ini, melampaui rekor sebelumnya 20,92 derajat Celsius pada September 2023. Dunia mengalami bulan September terpanas kedua dalam sejarah dengan suhu udara permukaan rata-rata 16,27 derajat Celsius, atau 1,63 derajat Celsius lebih tinggi daripada rata-rata pra-industri (1850-1900).

Direktur Copernicus Carlo Buontempo menyatakan dunia tengah memasuki periode baru dengan suhu di atas 1,5 derajat Celsius selama beberapa bulan terakhir. Dengan El Nino yang masih terus meningkat, kondisi ini kemungkinan besar akan berlanjut hingga tahun 2027. Pernyataan itu merujuk pada kesepakatan iklim PBB di Paris tahun 2015 yang menargetkan pemanasan global tetap di bawah 2 derajat Celsius dan diupayakan tidak melewati 1,5 derajat Celsius dari tingkat pra-industri.

Para peneliti menekankan pentingnya mengurangi emisi gas rumah kaca dari bahan bakar fosil untuk membatasi periode peningkatan suhu di atas 1,5 derajat Celsius dan menurunkan suhu kembali secepat mungkin. El Nino sendiri merupakan siklus alami yang meningkatkan suhu laut di Pasifik tropis, memicu perubahan cuaca yang dapat meningkatkan risiko kekeringan dan banjir, serta memperburuk pemanasan global.

Fenomena ini terjadi setiap dua hingga tujuh tahun sekali dan berlangsung sekitar 9-12 bulan. Diperkirakan El Nino akan mendorong suhu global menembus rekor baru pada 2027. Sejak beberapa bulan terakhir, para peneliti telah memperingatkan bahwa El Nino kali ini berpotensi menjadi yang terkuat sepanjang sejarah pengamatan, dan kekhawatiran itu mulai terbukti bahkan sebelum puncaknya tiba.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User