Demo Prancis Berlangsung Sebulan, Gelombang Protes Kini Menyebar ke Sejumlah Negara Eropa
Unjuk rasa di Prancis yang bermula dari aksi pelajar menuntut perbaikan pendidikan telah berlangsung lebih dari tiga pekan dan meluas ke sejumlah negara Eropa. Italia, Albania, Yunani, Spanyol, dan Belgia ikut dilanda protes dengan tuntutan beragam, mulai dari biaya hidup hingga pendidikan. Sejumlah aksi berujung bentrokan dengan polisi.
Gelombang demonstrasi yang melanda Prancis selama lebih dari tiga pekan kini merembet ke sejumlah negara Eropa lainnya. Aksi yang awalnya dipicu tuntutan pelajar terhadap perbaikan sistem pendidikan itu berkembang menjadi protes yang melibatkan serikat pekerja dan kelompok lain, termasuk menolak mahalnya biaya hidup.
Di Prancis sendiri, demonstrasi pelajar yang berlangsung lebih dari tiga pekan memicu aksi lanjutan di berbagai wilayah. Seruan yang beredar di media sosial pada Jumat (16/10) menyebut mahasiswa, serikat pekerja, dan tokoh gerakan gilets jaunes atau rompi kuning akan bergabung dalam demonstrasi pada Sabtu. Aktivis gilets jaunes, Jeromes Rodrigues, menyatakan protes itu untuk memberi suara bagi mereka yang ingin hidup layak, tak menghitung setiap sen, dan tak perlu memilih antara makan dan berkendara. "Kemarahan tak mengenal partai politik, kulkas kosong tak mengenal partai politik," ujarnya seperti dikutip BBC.
Namun demonstrasi pada Sabtu diwarnai kerusuhan saat malam tiba. Sekelompok orang menjarah toko dan membakar barang ketika protes mulai mereda, sehingga polisi merespons dengan gas air mata. CEO raksasa ritel Carrefour melaporkan sekitar 1.500 tokoh di seluruh Prancis terdampak kekerasan. Bangunan di Paris dan daerah lain termasuk Limoges terbakar, salah satunya menara balai kota bersejarah yang runtuh. Beberapa kelompok juga menyalakan api di jalan, membakar kendaraan, hingga di lokasi ikonik seperti Place de la Republique. Di Lyon, kantor pariwisata yang bersejarah dan terkenal ikut terbakar.
Di Italia, demo berlangsung pada Sabtu di berbagai wilayah termasuk Roma dan Milan untuk memprotes kenaikan biaya hidup dan lonjakan harga bahan bakar minyak. Di Roma, serikat pekerja CGIL menggelar unjuk rasa menentang kebijakan pemerintahan Perdana Menteri Giorgia Meloni. Di Bologna, sekelompok orang bertopeng bentrok dengan polisi dengan melempar batu dan botol, sementara petugas membalas memakai tongkat dan gas air mata. Di Turin, demonstran meneriakkan slogan yang menyasar National Future, partai berhaluan kanan jauh pimpinan mantan jenderal Roberto Vannacci. Di Milan, demonstrasi menentang krisis biaya hidup berujung bentrokan di Piazza del Duomo, dengan sejumlah demonstran bertopeng melemparkan alat pemadam kebakaran.
Di Albania, demo di Kota Tirana telah berlangsung berhari-hari. Mahasiswa menuntut perbaikan sistem pendidikan, biaya terjangkau, dan lapangan pekerjaan. Kelompok lain ikut memprotes korupsi hingga ketidaksetaraan. Unjuk rasa itu bertepatan dengan Revolusi Flamingo yang berlangsung berbulan-bulan menolak resor mewah terkait menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner. Salah satu aksi di Tirana meningkat jadi kekerasan ketika sekelompok orang menyerang gedung pemerintahan, bank, dan infrastruktur sipil, sehingga polisi menembakkan gas air mata, water cannon, dan memasang beton.
Di Yunani, mahasiswa mendirikan tenda di Lapangan Syntagma Athena, tepat di sebelah Gedung Parlemen, pada 13 Oktober. Mereka memprotes kenaikan harga sewa asrama atau tempat tinggal dan perumahan yang tak memadai, serta menuntut penurunan harga sewa, lebih banyak perumahan mahasiswa, peningkatan subsidi, dan pendanaan pendidikan yang lebih baik. Aksi duduk di sekolah juga meningkat karena kekurangan guru.
Di Spanyol, guru hingga murid menggelar demo bertajuk Marea Verde atau Gelombang Hijau pada pertengahan Oktober. Mereka menuntut peningkatan pendanaan publik, gaji lebih tinggi, pengurangan jam mengajar, hingga staf yang lebih terspesialisasi. Kritikus di Spanyol menuduh pemerintah daerah mendorong privatisasi dan mengorbankan sekolah negeri, demikian dikutip Daily Sabah.
Di Belgia, ratusan orang yang sebagian besar anak muda turun ke jalan di Brussel pada Sabtu. Sebagian terlibat bentrokan dengan polisi di tengah kerusuhan yang turut dipicu aksi protes di Prancis. Gerakan pelajar Belgia ini memprotes kenaikan biaya pendidikan serta reformasi yang dikhawatirkan membuat pendidikan tinggi semakin sulit diakses. Banyak demonstran bertopeng meneriakkan slogan antifasis. Menurut saksi mata Reuters, polisi menggunakan gas air mata dan meriam air, sementara demonstran membalikkan sebuah mobil. Menteri Dalam Negeri Belgia Bernard Quintin menyatakan dalam unggahan di X bahwa apa yang terjadi di Brussel bukan lagi sekadar aksi protes, dan segala cara yang diperlukan akan digunakan untuk memulihkan ketertiban menghadapi para perusuh.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)