BRI Sebut 44 Persen KUR Mengalir ke Sektor Pertanian dan Perikanan, Ini Strateginya

BRI memperkuat ekosistem pangan dari hulu ke hilir untuk mendukung swasembada protein nasional. Hingga Triwulan II 2026, portofolio kredit BRI mencapai Rp1.645 triliun dengan 75,1 persen ke UMKM, dan sekitar 44 persen penyaluran KUR diarahkan ke sektor pertanian dan perikanan. Pendekatan ekosistem diterapkan agar pembiayaan tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan rantai nilai usaha.

Nov 02, 2026 - 08:02
Updated: 8 hours ago
0
BRI Sebut 44 Persen KUR Mengalir ke Sektor Pertanian dan Perikanan, Ini Strateginya
BRI Sebut 44 Persen KUR Mengalir ke Sektor Pertanian dan Perikanan, Ini Strateginya

Dukungan terhadap swasembada protein nasional tidak hanya soal meningkatkan produksi, tetapi juga memastikan pembiayaan menjangkau seluruh rantai usaha pangan. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menegaskan komitmennya mengawal ekosistem pangan dari hulu hingga hilir, sejalan dengan agenda pemerintah yang menyoroti sektor perikanan, peternakan, UMKM, koperasi, hingga industri pengolahan.

Komitmen itu mengemuka dalam CNN Indonesia Agrifood Forum 2026 bertema "Swasembada Protein di Tengah Tantangan Pangan Global" yang digelar Senin (19/10) di Jakarta. Forum tersebut menghadirkan Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Zulkifli Hasan, Menteri Kelautan dan Perikanan RI Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal RI Yandri Susanto, Wakil Menteri Pertanian RI Saleh Mustafa, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya, serta sejumlah pimpinan BUMN.

Zulkifli Hasan menekankan bahwa swasembada pangan bukan sekadar memenuhi kebutuhan domestik, melainkan berkaitan dengan kedaulatan nasional. Menurutnya, penguatan sektor pangan harus disertai keberpihakan kepada pelaku usaha di tingkat paling bawah, termasuk nelayan dan pembudidaya ikan. "Nelayan, dia paling menderita, dia paling miskin, kami harus pikirkan dia dulu," ujarnya dalam forum tersebut. Ia juga menyoroti pentingnya dukungan infrastruktur seperti cold storage serta akses pembiayaan agar produktivitas dan kesejahteraan pelaku usaha pangan meningkat.

Dari sisi perikanan, Menteri Kelautan dan Perikanan RI Sakti Wahyu Trenggono menilai sektor ini berperan strategis dalam pemenuhan kebutuhan protein masyarakat. Ia menekankan bahwa ikan dan hasil laut dapat dikembangkan menjadi berbagai produk pangan bernilai tambah yang lebih mudah diakses masyarakat. "Kalau dari ikan tidak usah ditanya, hampir seluruhnya," ujar Trenggono saat membahas besarnya potensi pangan berbasis hasil laut. Inovasi pengolahan dinilainya menjadi langkah penting agar sumber protein tersebut dapat dikonsumsi lebih luas dan terjangkau.

Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan BRI berada pada posisi strategis untuk mendukung pengembangan ekosistem pangan melalui pembiayaan yang tidak hanya menyasar pelaku usaha mapan, tetapi juga masyarakat yang baru memulai usaha. "Kalau kita bicara pembiayaan, BRI itu mulai dari orang yang baru punya niat untuk memulai usaha sampai dengan yang sudah besar. Jadi dari sisi ultramikro ada PNM, kemudian Pegadaian, lalu masuk ke segmen mikro, kecil, sampai korporasi. Ini yang membuat kami bisa melihat ekosistem secara lebih menyeluruh," ujarnya.

Menurut Akhmad, pendekatan ekosistem menjadi penting karena kebutuhan pembiayaan sektor pangan tidak berhenti pada tahap produksi. Pembiayaan dibutuhkan mulai dari hulu, seperti penyediaan benih, pakan, dan peningkatan kapasitas produksi; tahap pengolahan untuk investasi, pengemasan, dan modal kerja; hingga hilir yang mencakup distributor, pedagang, dan kebutuhan persediaan. Salah satu implementasinya terlihat pada ekosistem peternakan sapi perah di Malang, di mana BRI membiayai peternak sebagai produsen, mendukung koperasi yang memiliki fasilitas cold storage, sekaligus membiayai industri atau offtaker yang menyerap hasil produksi.

Dari sisi kinerja, hingga akhir Triwulan II 2026 total portofolio kredit BRI mencapai Rp1.645 triliun, dengan sekitar 75,1 persen disalurkan kepada segmen UMKM. Khusus KUR, sekitar 44 persen penyalurannya sepanjang Triwulan II 2026 mengarah ke sektor pertanian dan perikanan yang berperan penting dalam memperkuat ekosistem pangan dan protein nasional. Akhmad menegaskan porsi pembiayaan kepada UMKM tetap menjadi prioritas. "Tidak boleh di bawah 75 persen, itu harus kepada UMKM," tegasnya.

BRI juga memiliki sekitar 30 ribu tenaga pemasar di lapangan dengan spesialisasi pada berbagai sektor, termasuk peternakan, perikanan, pertanian, dan perdagangan. Kapabilitas itu memungkinkan BRI memahami karakteristik usaha sekaligus kebutuhan pembiayaan secara lebih dekat. "Dari awal kita sudah bisa masuk. Kita bisa membiayai dari hulu, kemudian prosesnya, sampai ke hilir. Jadi bukan hanya soal memberikan kredit, tetapi bagaimana pembiayaan itu bisa membuat ekosistem usahanya tumbuh," ujar Akhmad. Melalui pendekatan tersebut, BRI memperkuat peran intermediasi perbankan dalam ekosistem pangan nasional agar tercipta rantai pasok yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User