BMKG Peringatkan Musim Hujan Mundur 30 Hari, Waspadai Banjir dan Longsor Akhir Tahun
BMKG memprediksi awal musim hujan di Indonesia mundur 20-30 hari akibat El Nino dan IOD yang memicu kekeringan. Meski durasi musim hujan lebih singkat, intensitas hujan tetap normal sehingga risiko banjir dan longsor perlu diwaspadai pada akhir tahun hingga awal tahun depan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan tahun ini akan datang lebih lambat dari biasanya. Menurut Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, rata-rata musim hujan di seluruh Indonesia diperkirakan mundur sekitar dua hingga tiga dasarian, atau setara 20 sampai 30 hari.
Keterlambatan ini tidak lepas dari pengaruh El Nino yang bersamaan dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) pada musim kemarau tahun ini. Kombinasi keduanya membuat sebagian wilayah Indonesia mengalami kekeringan cukup parah, bahkan sejumlah daerah masih dilanda kebakaran hutan hingga kini.
"Musim hujan rata-rata di seluruh Indonesia diperkirakan mundur sekitar dua hingga tiga dasarian, atau 20-30 hari, akibat pengaruh El Nino," kata Faisal di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (26/10).
Menurut para ahli, kurangnya kelembapan permukaan akibat kekeringan berkepanjangan menurunkan proses penguapan yang mendukung pertumbuhan awan hujan. Karena itu, awal musim hujan di beberapa wilayah baru diprakirakan terjadi pada November, sementara wilayah lain baru memasuki musim hujan pada Desember.
Selain mundur, Faisal menyebut musim hujan kali ini akan berlangsung lebih singkat dibanding biasanya. Meski demikian, intensitas curah hujan diperkirakan tetap sama atau bersifat normal. Artinya, hujan deras berpotensi turun dalam durasi yang lebih pendek.
"Musim hujan juga akan terakumulasi cukup banyak dalam durasi yang lebih pendek, dengan sifat hujan normal. Jadi, kita harus bersiap mulai sekarang," ujarnya.
BMKG pun memperingatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor akibat akumulasi curah hujan yang deras. Puncak musim hujan diprakirakan berlangsung pada Desember, Januari, dan Februari, tergantung wilayahnya.
"Ini yang perlu kita waspadai karena sifat hujannya normal, artinya berdasarkan rata-rata klimatologis 30 tahun terakhir, jumlah hujan yang turun relatif sama, tetapi durasinya lebih pendek. Untuk akhir tahun ini hingga awal tahun depan, bencana hidrometeorologi basah perlu kita waspadai bersama," tegas Faisal.
Di sisi lain, BMKG bersama BNPB telah melakukan operasi modifikasi cuaca untuk mempercepat pembentukan awan hujan di titik-titik kebakaran prioritas, seperti Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah. Faisal menyebut potensi pertumbuhan awan di Kalimantan Tengah cukup tinggi mulai hari itu hingga lima hari ke depan, sedangkan di Sumatera Selatan potensinya tinggi mulai besok hingga lima hari berikutnya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)