Airlangga Beberkan Peluang Ekspor RI yang Belum Tergarap, Nilainya Capai Puluhan Miliar Dolar
Pemerintah melalui Kemenko Perekonomian mendorong penguatan ekspor produk bernilai tambah dengan memetakan peluang pasar yang belum tergarap. Menko Airlangga Hartarto menyebut potensi export gap Indonesia di Tiongkok mencapai US$31 miliar, Amerika Serikat US$14 miliar, India US$10 miliar, dan Jepang US$5,5 miliar. Strategi dilakukan lewat pendekatan berbasis komoditas dan pasar serta koordinasi lintas kementerian untuk mengurai hambatan ekspor.
Pemerintah terus menggenjot kinerja perdagangan nasional dengan mendorong ekspor produk bernilai tambah. Melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, strategi ini diarahkan untuk memanfaatkan peluang pasar internasional yang masih terbuka di tengah dinamika perdagangan global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa langkah tersebut dilakukan dengan menyelaraskan potensi produksi dalam negeri dan kebutuhan negara tujuan ekspor. Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat perdagangan nasional melalui strategi berbasis komoditas dan pasar.
Menurut Airlangga, strategi tersebut merupakan tindak lanjut dari evaluasi perkembangan neraca perdagangan nasional. Hasil pemetaan menunjukkan Indonesia masih memiliki ruang untuk meningkatkan ekspor ke sejumlah pasar utama, yakni Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Amerika Serikat, Jepang, dan India.
"Pemerintah memandang perkembangan ini perlu direspon melalui penguatan strategi ekspor berbasis komoditas dan pasar. Pendekatan ini dilakukan dengan mengidentifikasi komoditas berkapasitas ekspor tinggi, memetakan kesenjangan antara ekspor Indonesia dengan kebutuhan impor negara mitra, serta mengurai hambatan yang dihadapi pelaku usaha," kata Airlangga.
Peluang itu terlihat dari potensi export gap atau selisih antara nilai ekspor saat ini dan potensi ekspor maksimal di negara tujuan. Berdasarkan data 2025, potensi kesenjangan ekspor Indonesia di RRT mencapai US$31 miliar, terutama pada komoditas mineral dan logam beserta produknya, sumber daya mineral, mesin dan peralatan elektronik, kayu, kertas, karet, plastik, serta produk kimia.
Sementara itu, di Amerika Serikat terdapat potensi export gap senilai US$14 miliar, antara lain pada kendaraan, mineral dan logam, mesin dan peralatan elektronik, kayu, kertas, karet, plastik, serta produk kimia. Potensi serupa juga teridentifikasi di Jepang dengan export gap US$5,5 miliar dengan peluang utama pada produk mineral dan logam, produk hasil laut, produk nabati, serta bahan kimia. Adapun di India terdapat export gap US$10 miliar yang berasal dari mineral dan logam, bahan kimia, mesin dan elektronik, serta produk nabati.
"Pemetaan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan ekspor tidak hanya perlu dilakukan melalui pencarian pasar baru, tetapi juga dengan memperdalam pasar yang selama ini telah menjadi tujuan ekspor Indonesia," tutur Airlangga.
Untuk merealisasikan potensi tersebut, pemerintah akan mendorong penguatan ekspor melalui pendekatan berbasis komoditas. Strategi ini mempertemukan potensi produksi domestik dan kebutuhan spesifik negara tujuan, mencakup sektor pertambangan, pertanian dan perkebunan, perikanan, serta manufaktur. Pengembangan produk elektronik dan teknologi serta produk telekomunikasi juga masuk dalam pemetaan potensi ekspor.
Sebagai dukungan konkret, pemerintah terus memperkuat koordinasi lintas kementerian dan lembaga bersama pelaku usaha guna mengurai berbagai hambatan ekspor, mulai dari regulasi, standarisasi persyaratan pasar, hingga kendala teknis di lapangan. "Dengan pendekatan tersebut, optimalisasi pasar utama diharapkan tidak hanya dilakukan melalui peningkatan nilai ekspor secara agregat, tetapi juga melalui penguatan ekspor produk bernilai tambah dan diversifikasi komoditas, sehingga peluang pasar yang masih terbuka dapat dikonversi menjadi ekspor Indonesia yang lebih konkret," ujar Airlangga.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)