Vietnam Puncaki Pertumbuhan Ekonomi ASEAN Kuartal II 2026, Indonesia di Posisi Keempat
Pada kuartal II 2026, Vietnam mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi di ASEAN dengan 8,39 persen, disusul Malaysia 6 persen, Singapura 5,9 persen, dan Indonesia 5,29 persen. Filipina dan Thailand mencatat pertumbuhan lebih rendah, masing-masing 2,3 persen dan 1,9 persen. Pertumbuhan Indonesia ditopang konsumsi rumah tangga dan investasi, sementara sektor pertambangan terkontraksi.
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) telah merilis data pertumbuhan ekonomi untuk kuartal II 2026. Dari enam negara yang melaporkan, Vietnam mencatat pertumbuhan tertinggi dengan 8,39 persen secara tahunan (year on year/yoy). Sementara itu, Indonesia berada di posisi keempat dengan pertumbuhan 5,29 persen.
Vietnam menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di ASEAN pada kuartal II 2026. Berdasarkan laporan National Statistics Office of Vietnam, sektor industri dan konstruksi menjadi penopang utama dengan pertumbuhan 10,51 persen dan menyumbang 50,07 persen terhadap pertumbuhan ekonomi. Sektor jasa menyusul dengan pertumbuhan 7,87 persen, sedangkan pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 4,06 persen. Pada Juni 2026, produksi industri Vietnam tumbuh 12,7 persen yoy, sementara ekspor meningkat 8,2 persen.
Malaysia menempati posisi kedua dengan pertumbuhan ekonomi 6 persen yoy pada kuartal II 2026, menguat dibandingkan kuartal I yang mencapai 5,4 persen. Bank Negara Malaysia (BNM) melaporkan pertumbuhan ditopang oleh permintaan domestik yang kuat dan ekspor yang meningkat. Sektor jasa dan manufaktur menjadi penopang utama, dengan sektor teknologi informasi dan komunikasi (ICT) tumbuh seiring beroperasinya pusat data. Sektor manufaktur, terutama industri elektronik dan listrik (E&E), didorong oleh meningkatnya permintaan terkait kecerdasan buatan (AI).
Singapura berada di posisi ketiga dengan pertumbuhan 5,9 persen yoy, meningkat dari angka perkiraan awal sebesar 5,7 persen. Pertumbuhan didominasi oleh sektor manufaktur yang tumbuh 12,2 persen, didukung oleh peningkatan produksi elektronik dan precision engineering seiring tingginya permintaan terkait AI, termasuk semikonduktor. Pemerintah Singapura memprediksi pertumbuhan ekonomi 2026 mencapai 4,5-5,5 persen, salah satunya karena investasi di bidang AI terus meningkat.
Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi 5,29 persen yoy pada kuartal II 2026. Konsumsi rumah tangga masih menjadi komponen terbesar dengan sekitar 53,32 persen dari total PDB. Konsumsi pemerintah menjadi komponen dengan pertumbuhan tertinggi, yakni 15,97 persen yoy, diikuti investasi yang tumbuh 6,87 persen dan konsumsi rumah tangga sebesar 5,06 persen. Dari sisi produksi, sektor listrik dan gas mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 10,81 persen, kemudian akomodasi dan makan minum sebesar 10,60 persen. Namun, sektor pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi 1,64 persen.
Filipina mencatat pertumbuhan ekonomi 2,3 persen yoy pada kuartal II 2026, melambat dibandingkan kuartal I yang mencapai 2,8 persen dan kuartal II 2025 sebesar 5,4 persen. Berdasarkan data Philippine Statistics Authority (PSA), pertumbuhan ditopang oleh sektor perdagangan grosir dan eceran serta reparasi kendaraan yang tumbuh 4,6 persen, sektor pendidikan tumbuh 12,7 persen, dan manufaktur tumbuh 2,6 persen. Namun, investasi menjadi penekan utama setelah turun 9,2 persen. Menteri Ekonomi, Perencanaan, dan Pembangunan Filipina Arsenio Balisacan mengatakan penurunan tajam konstruksi publik menjadi penyebab utama turunnya investasi.
Thailand mencatat pertumbuhan ekonomi 1,9 persen yoy pada kuartal II 2026, melambat dibandingkan kuartal I yang mencapai 2,8 persen, tetapi masih di atas ekspektasi konsensus sebesar 1,7 persen. Berdasarkan data National Economic and Social Development Council (NESDC), pertumbuhan ditopang oleh meningkatnya ekspor barang dan jasa yang tumbuh 12,5 persen serta investasi swasta yang melesat 13,4 persen, terutama pada sektor elektronik dan infrastruktur AI. Sektor jasa tumbuh 2,4 persen, sedangkan pertanian dan industri masing-masing tumbuh 1,5 persen dan 1,1 persen. Namun, melemahnya konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah menjadi penekan utama. Konsumsi rumah tangga melambat menjadi 1,9 persen seiring anjloknya tingkat keyakinan konsumen ke level terendah dalam 14 kuartal, sementara belanja pemerintah hampir stagnan di angka 0,2 persen. Kementerian Perdagangan Thailand menyampaikan melonjaknya ekspor pada semester pertama terjadi karena para eksportir mempercepat pengiriman barang sebelum tarif baru AS berlaku, sehingga laju ekonomi diperkirakan melambat pada semester kedua.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)