IHSG Masih Bergejolak, Perencana Keuangan Beberkan Cara Pemula Hindari Keputusan Emosional

IHSG yang fluktuatif membuat investor pemula rentan panik dan mengambil keputusan emosional. Perencana keuangan Dandy dari AAG Indonesia dan Andy Nugroho menyarankan pemula menyiapkan strategi, menyesuaikan profil risiko, memastikan keuangan sehat, memilih saham fundamental dan likuid, serta menghindari FOMO agar investasi tetap terkendali.

Oct 24, 2026 - 12:02
Updated: 1 day ago
0
IHSG Masih Bergejolak, Perencana Keuangan Beberkan Cara Pemula Hindari Keputusan Emosional
IHSG Masih Bergejolak, Perencana Keuangan Beberkan Cara Pemula Hindari Keputusan Emosional

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih fluktuatif menjadi tantangan tersendiri bagi investor pemula. Fluktuasi pasar yang cepat dapat memicu kepanikan dan mendorong pengambilan keputusan berdasarkan emosi, padahal investasi saham membutuhkan strategi, pemahaman risiko, dan kedisiplinan menjalankan rencana.

Perencana Keuangan Advisors Alliance Group (AAG) Indonesia, Dandy, menilai orang yang mudah panik tetap bisa berinvestasi saham asalkan dibekali pengetahuan dan strategi yang memadai. Menurutnya, kepanikan biasanya muncul karena banyak ketakutan dan ketidaktahuan. "Memungkinkan banget buat orang yang gampang panikan, namun perlu handle dari segi pengetahuan dan psikologinya," ujar Dandy kepada CNNIndonesia.com, Jumat (23/10).

Untuk mengurangi kepanikan, Dandy menyarankan pemula menyesuaikan investasi dengan profil risiko, masuk dengan porsi kecil, menggunakan jangka waktu panjang, dan menerapkan strategi dollar cost averaging (DCA). Sebelum membeli saham, pemula perlu menentukan tujuan investasi, jangka waktu, batas kerugian yang siap ditanggung, serta porsi dana yang akan dialokasikan. "Untuk awal siapkan tujuan investasi, berapa lama, berapa persen siap ruginya, porsi uang yang akan dialokasikan dan dalam kondisi seperti apa beli, jual, kurangi porsi, pertahankan atau harus jual semuanya," jelasnya.

Dandy juga mengingatkan pentingnya memastikan kondisi keuangan pribadi sudah sehat sebelum masuk pasar saham. Hal yang perlu disiapkan meliputi arus kas yang sehat, dana darurat yang cukup, proteksi, strategi, dan pengetahuan investasi. Ia menekankan agar investor menggunakan uang yang memang disiapkan untuk investasi, bukan uang kebutuhan sehari-hari, serta tidak memasukkan seluruh dana sekaligus.

Dalam memilih saham, Dandy menyarankan investor melihat fundamental perusahaan, mulai dari kemampuan menghasilkan keuntungan hingga perkembangan bisnisnya. Untuk menghindari saham gorengan, pemula sebaiknya memilih saham yang telah masuk indeks dengan proses penyaringan, seperti LQ45, IDX30, Kompas100, dan Value30. Analisis teknis dapat dilakukan dengan melihat valuasi serta kondisi bid dan offer saham.

Sementara itu, Perencana Keuangan Andy Nugroho menilai sifat mudah panik dapat menjadi indikasi profil risiko konservatif atau moderat. Karakter tersebut kurang cocok dengan pasar saham yang agresif, terutama jika investasi dilakukan dengan cara trading. Namun, menurut Andy, investor dengan karakter tersebut tetap dapat berinvestasi di pasar saham melalui pendekatan jangka panjang.

Andy menyarankan investasi dilakukan dalam jangka waktu tiga hingga lima tahun atau lebih, termasuk mempertimbangkan potensi pembagian dividen. "Bila mau orang tersebut masih tetap dapat berinvestasi di pasar saham, namun mendapatkan cuannya dengan cara investasi jangka panjang misal 3-5 tahun atau bahkan lebih, serta menunggu pembagian dividen setiap tahunnya," ujar Andy.

Andy juga mengingatkan pemula untuk memahami analisis fundamental dan teknikal, menggunakan uang dingin, serta disiplin menentukan batas keuntungan dan kerugian. Untuk investasi pertama, ia menyarankan dana yang ditempatkan maksimal 30 persen dari modal yang dimiliki, lalu ditambah secara bertahap. Dalam memilih saham, ia menekankan pentingnya fundamental perusahaan dan likuiditas saham, serta menyarankan pemula memilih saham unggulan yang masuk daftar LQ45, IDX100, dan sejenisnya.

Baik Dandy maupun Andy sepakat bahwa FOMO (fear of missing out) harus dihindari. Menurut Andy, sifat FOMO dapat membuat investor terbawa arus pihak yang sedang menggoreng saham. "Sifat FOMO merupakan salah satu sifat yang harus dihindari bila berinvestasi di pasar saham. Karena dengan mudah kita dapat terbawa arus orang-orang yang sedang 'menggoreng' saham tersebut. Untuk itu selalu lakukan riset sendiri sebelum memutuskan membeli ataupun menjual," kata Andy. Dandy menambahkan agar investor tidak membuat keputusan investasi berdasarkan emosi dan tetap berpegang pada strategi yang telah dibuat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User