Malamang di Padang Pariaman: Tradisi Bambu dan Santan yang Mempererat Maulid Nabi

Perayaan Maulid Nabi di Padang Pariaman diwarnai tradisi malamang, memasak lamang dalam bambu. Prosesi ini menjadi simbol kebersamaan dan kearifan lokal, dihadiri Bupati dan Wakil Bupati, serta melibatkan masyarakat dalam gotong royong.

Aug 30, 2026 - 03:46
Updated: 2 months ago
0
Malamang di Padang Pariaman: Tradisi Bambu dan Santan yang Mempererat Maulid Nabi
Malamang di Padang Pariaman: Tradisi Bambu dan Santan yang Mempererat Maulid Nabi

Padang Pariaman, Senin (24/8/2026) – Aroma gurih santan bercampur ketan, kepulan asap kayu bakar, dan canda tawa warga memenuhi kompleks Masjid Raya IKK Ali Mukhni, Parit Malintang. Hari kedua Padang Pariaman Mauluik Gadang 2026 diwarnai ritual malamang, sebuah tradisi yang menjadi simpul kultural perayaan keagamaan di Ranah Piaman.

Dalam falsafah Minangkabau, malamang bukan sekadar memasak kudapan. Lamang adalah wujud syukur dan simbol persaudaraan. Setiap elemen pembuatannya sarat makna: bambu (talang) sebagai pelindung, daun pisang melambangkan kelembutan, serta ketan dan santan yang merekatkan silaturahmi antarwarga.

Persiapan malamang telah dimulai sehari sebelumnya. Para Bundo Kanduang bergotong royong memilih bambu, memeras santan, dan mengaduk ketan berbumbu. Pada puncak acara, kebersamaan semakin terasa ketika masyarakat dari berbagai kalangan—alim ulama, tokoh adat, hingga pejabat daerah seperti Bupati John Kenedy Azis dan Wakil Bupati Rahmat Hidayat—turun tangan mengisi bambu dan membakarnya di atas bara.

Proses pemanggangan lamang membutuhkan kesabaran ekstra. Bambu harus diputar agar matang merata, mencerminkan ketelitian dalam menjaga harmoni sosial nagari. "Prosesi malamang ini adalah wujud nyata kearifan lokal yang merawat kebersamaan kita," ujar John Kenedy Azis di sela-sela prosesi, Senin (25/8).

Saat bambu mulai membelah dan lamang hangat disajikan untuk makan bajamba, perayaan Maulid Nabi terasa sempurna. Padang Pariaman Mauluik Gadang tidak hanya menjadi ruang syiar agama, tetapi juga panggung hidup di mana tradisi malamang terus menjaga kehangatan persaudaraan warga Piaman lintas generasi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User