Lutfi Tuding Singapura Tekan Pasar Saham RI, Dino Patti Djalal Sebut Tudingan Konspirasi Tak Masuk Akal

Mantan Mendag Muhammad Lutfi dan eks Wamenlu Dino Patti Djalal berbeda pandangan soal hubungan Indonesia-Singapura. Lutfi menuding Singapura menekan pasar modal RI lewat MSCI dan menyoal penanganan karhutla, sementara Dino menilai tudingan konspirasi itu tidak masuk akal dan meminta diplomasi dikedepankan.

Oct 24, 2026 - 04:02
Updated: 1 day ago
0
Lutfi Tuding Singapura Tekan Pasar Saham RI, Dino Patti Djalal Sebut Tudingan Konspirasi Tak Masuk Akal
Lutfi Tuding Singapura Tekan Pasar Saham RI, Dino Patti Djalal Sebut Tudingan Konspirasi Tak Masuk Akal

Dua mantan pejabat era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Muhammad Lutfi dan Dino Patti Djalal, menyampaikan pandangan berseberangan soal hubungan Indonesia dengan Singapura. Perbedaan itu mencuat di tengah polemik klasifikasi pasar modal Indonesia dan persoalan kebakaran hutan dan lahan yang memicu kabut asap lintas negara.

Lutfi, mantan Menteri Perdagangan, menuding Singapura memiliki kepentingan di balik tekanan terhadap pasar saham Indonesia. Ia menduga ancaman perubahan status Indonesia dari emerging market menjadi standalone market dapat menurunkan harga saham domestik dan dimanfaatkan investor asing untuk membeli kembali saham dengan harga lebih murah. Ia pun menyoroti peran Temasek dan GIC yang menurutnya berpengaruh besar terhadap MSCI.

"Lalu, kenapa Singapura lewat institusi raksasa mereka seperti Temasek dan GIC yang punya pengaruh besar di MSCI begitu ngotot menekan Indonesia?" kata Lutfi melalui akun Instagram pribadinya, Senin (19/10). Ia juga mengaku mendapat informasi soal seorang petinggi GIC bernama Rachel Goh yang menekan MSCI, namun klaim tersebut belum terverifikasi secara independen.

MSCI sendiri pada 15 Oktober 2026 mengumumkan konsultasi atas usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia. Lembaga itu menyebut masukan pelaku pasar soal ketidakjelasan struktur kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta reformasi pasar modal yang belum berdampak konsisten. Keputusan final dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027, dan pengumuman itu tidak memuat bukti yang mengonfirmasi tudingan Lutfi.

Menanggapi hal itu, Dino Patti Djalal menilai anggapan bahwa Singapura berkonspirasi menjatuhkan pasar modal Indonesia tidak masuk akal. Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia itu menegaskan Singapura merupakan tetangga yang memiliki goodwill, trust, dan rekam jejak kerja sama yang telah teruji lama dengan Indonesia.

"Hukumnya tabu dan haram bagi elit politik Singapura untuk berkonspirasi mencelakai Indonesia. Sebagaimana juga tabu dan haram bagi Indonesia untuk mencelakai Singapura," tegas Dino melalui Instagram, Kamis (22/10). Menurutnya, stabilitas Indonesia juga penting bagi Singapura karena gejolak di dalam negeri berpotensi berdampak ke negara tetangga.

Perbedaan pandangan juga muncul soal karhutla. Lutfi mengkritik rencana Singapura mengirim surat peringatan kepada tujuh perusahaan di Indonesia yang diduga terkait kebakaran. Ia menilai surat itu tidak cukup dan mendesak Singapura menindak perusahaan yang bertanggung jawab, termasuk yang kantor pusatnya berada di Singapura. Lutfi menyoroti pola bisnis sawit yang membuat Indonesia menanggung risiko lingkungan sementara keuntungan dinikmati negara lain.

"Jangan hanya menulis surat, jangan hanya mengirim peringatan ke Jakarta, geledah kantor mereka di Singapura pakai hukum Singapura," ujar Lutfi. Ia juga menolak seruan politikus Malaysia Syed Saddiq Syed Abdul Rahman yang meminta Indonesia ditekan secara diplomatik, dan menegaskan pertanggungjawaban harus diarahkan ke perusahaan yang terbukti terlibat.

Sementara Dino memandang krisis asap sebagai ujian diplomasi Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia mencontohkan keberhasilan Indonesia memimpin penanganan tsunami Aceh dan Nias 2004 dengan dukungan negara tetangga. "Sejuta kawan terlalu sedikit, satu lawan musuh terlalu banyak," ujarnya, mengingatkan pentingnya menjaga hubungan baik dengan negara tetangga.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User