OJK Ungkap Cara Cegah Rekening Rp50 Ribu Milik Warga dan Pelajar Berubah Jadi Dormant

OJK menyiapkan strategi agar rekening program Satu Orang Satu Rekening dengan saldo awal Rp50 ribu tidak berubah menjadi rekening pasif. Edukasi dan pendampingan berjenjang dari SimPel ke SiMuda menjadi kunci, sekaligus mencegah penyalahgunaan rekening untuk pinjol ilegal hingga judi online. Program ini menyasar sekitar 25 juta warga desil 1 hingga 4 dengan anggaran Rp1,28 triliun.

Oct 24, 2026 - 00:01
Updated: 1 day ago
0
OJK Ungkap Cara Cegah Rekening Rp50 Ribu Milik Warga dan Pelajar Berubah Jadi Dormant
OJK Ungkap Cara Cegah Rekening Rp50 Ribu Milik Warga dan Pelajar Berubah Jadi Dormant

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyiapkan langkah agar rekening program Satu Orang Satu Rekening dengan saldo awal Rp50 ribu tidak berakhir menjadi rekening pasif atau dormant. Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menegaskan rekening yang tidak aktif berisiko disalahgunakan untuk kejahatan finansial, mulai dari pinjaman online ilegal hingga judi online.

Menurut Friderica, salah satu upaya yang dilakukan adalah memperkuat edukasi kepada nasabah agar rekening tetap aktif dan bermanfaat. OJK juga mengoptimalkan program Satu Rekening Satu Pelajar melalui produk Simpanan Pelajar (SimPel).

"Tentunya benar masalah concern-nya, supaya enggak jadi dormant, terus enggak dijadiin rekening yang dormant terus dimanfaatin oleh misalnya lupa naro, terus kemudian mungkin PIN-nya ketahuan orang, dan lain-lain bisa dipakai untuk pinjol dan lain-lain. Makanya terus kita lakukan edukasi supaya rekening-rekening ini terus jadi nemenin anak-anak itu," ujar Friderica usai Rakornas Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (22/10).

OJK mencatat saat ini 88 persen total pelajar di Indonesia sudah memiliki rekening tabungan. Tantangan terbesarnya bukan lagi membuka rekening, melainkan menjaga rekening tetap aktif agar manfaatnya terasa secara berkelanjutan.

Untuk itu, OJK merancang skema pendampingan keuangan bertahap sesuai jenjang usia nasabah. Ketika pelajar beranjak dewasa, fasilitas SimPel dapat dialihkan ke produk Simpanan Pemuda (SiMuda).

Melalui produk lanjutan itu, pemuda didorong mengelola keuangan yang lebih kompleks, mulai dari alokasi dana investasi hingga persiapan perumahan. "Nanti bisa pindah dari SimPel bisa ke SiMuda. Kalau SiMuda itu, Simpanan Pemuda itu bisa nanti dia mau apa, bisa sebagian disisihkan untuk beli properti, atau masuk ke reksa dana dan lain-lain. Jadi harapannya tabungan-tabungan ini nemenin anak-anak ini dari mulai sekolah sampai nanti dewasa. Makanya harus dibimbing supaya enggak jadi dormant," jelas Friderica.

Sementara itu, pemerintah menyiapkan anggaran Rp1,28 triliun untuk program Satu Orang Satu Rekening dengan saldo Rp50 ribu bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut dana itu dipakai membiayai setoran awal pembukaan rekening secara gratis bagi puluhan juta warga.

"Menindaklanjuti Bapak Presiden, kami siapkan program Satu Orang Satu Rekening, dan dengan program Satu Orang Satu Rekening ini, inklusivitas keuangan kita mendekati 99 persen, Pak. Jadi naik dari 93 persen menjadi 99 persen," ujar Airlangga.

Airlangga menjelaskan target penerima manfaat sekitar 25 juta warga kategori desil 1 hingga 4 yang berusia di atas 17 tahun. Pendataan penerima manfaat disiapkan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI dan perbankan syariah berdasarkan integrasi data kependudukan dan kesejahteraan sosial.

Setiap warga yang terdaftar akan langsung memperoleh fasilitas pembukaan akun keuangan tanpa dipungut biaya. "Ini untuk sekitar 25 juta warga desil 1 hingga 4 di usia di atas 17 tahun, dan ini disiapkan datanya oleh BRI dan Bank Syariah berdasarkan data Kemenkes daripada BPS dan juga LPS. Setoran awal disiapkan Rp50.000 dan anggarannya Rp1,28 triliun," terang Airlangga.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User