BMKG Peringatkan Musim Hujan Tahun Ini Datang Lebih Lambat, Waspadai Hujan Ekstrem
BMKG memprediksi awal musim hujan 2026/2027 mundur akibat kombinasi El Nino dan IOD. Sebagian wilayah baru masuk musim hujan pada November, sebagian lain Desember. Meski sifat hujan normal, periode hujan lebih pendek sehingga hujan lebat hingga ekstrem berpotensi lebih sering terjadi dan meningkatkan risiko banjir serta longsor.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan di Indonesia akan datang lebih lambat dibandingkan rata-rata klimatologis. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyebut kemunduran ini dipengaruhi oleh kemarau yang bertepatan dengan fenomena El Nino dan IOD yang masih berlangsung.
Menurut prediksi BMKG, sebagian wilayah Indonesia baru akan memasuki musim hujan pada November, sementara wilayah lainnya pada Desember. Kondisi musim hujan tahun ini pun diperkirakan berbeda dari sebelumnya. "Sifat hujannya normal, artinya curah hujan yang akan jatuh sama dengan rata-rata klimatologis 30 tahun terakhir, tapi periodenya lebih pendek. Sehingga nanti akan terjadi hujan lebat, sangat lebat hingga hujan ekstrem lebih sering di akhir tahun hingga awal tahun depan," ujar Faisal di Istana Negara, Rabu (21/10).
Faisal memperingatkan bahwa kondisi tersebut berisiko meningkatkan bencana seperti banjir dan longsor menjelang puncak musim hujan yang diprakirakan berlangsung pada Desember, Januari, dan Februari, tergantung wilayahnya. Musim hujan 2026/2027 yang mundur ini, menurutnya, merupakan akibat gabungan fenomena El Nino dan IOD yang tengah terjadi. Kombinasi anomali cuaca itu memicu kondisi kering bertahan hingga tahun depan dan menghambat pembentukan awan hujan.
"Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat," ungkap Faisal pada konferensi pers 'Prediksi Musim Hujan' secara daring pada bulan lalu (22/9).
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan memaparkan bahwa wilayah yang mengawali musim hujan pada November mencakup 185 zona musim (ZOM) atau sekitar 24,66 persen wilayah Indonesia, sedangkan 266 ZOM atau 17,31 persen wilayah baru masuk pada Desember. Dibandingkan rerata klimatologisnya, lebih dari 61 persen luas daratan Indonesia mengalami kemunduran jadwal musim hujan.
BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia baru akan mengalami puncak musim hujan pada Desember, Januari, dan Februari. Wilayah yang mencapai puncak musim hujan pada Desember 2026 sebanyak 155 ZOM (39,64 persen luas daratan Indonesia), pada Januari sebanyak 162 ZOM (25,68 persen), dan pada Februari sebanyak 190 ZOM (16,79 persen).
Untuk Desember 2026, puncak musim hujan diprakirakan terjadi di sebagian wilayah Sumatera, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi Utara, pesisir selatan Gorontalo, sebagian kecil Sulawesi Tengah, sebagian besar Sulawesi Barat, sebagian kecil Maluku, Papua Barat Daya bagian barat, sebagian kecil Papua Barat, Papua bagian utara, Papua Tengah bagian timur, dan Papua Selatan bagian barat.
Pada Januari 2027, puncak musim hujan diperkirakan meliputi Riau bagian selatan, Kepulauan Riau bagian tengah, sebagian kecil Jambi, Bengkulu bagian utara, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Selatan bagian barat, Lampung bagian utara, sebagian Jawa, Bali bagian tengah, NTB bagian barat, sebagian NTT, sebagian Kalimantan Barat, sebagian besar Kalimantan Tengah, sebagian kecil Kalimantan Timur, sebagian Kalimantan Selatan, sebagian Sulawesi, sebagian kecil Maluku Utara, Maluku bagian barat, dan sebagian Pulau Papua.
Sementara pada Februari 2027, puncak musim hujan diprakirakan terjadi di Lampung bagian tengah, sebagian besar Jawa, sebagian besar Bali, sebagian NTB, sebagian besar NTT, Sulawesi Barat bagian selatan, sebagian Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara bagian selatan, sebagian Maluku, dan sebagian besar Pulau Papua.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)