Trump Angkat Bicara soal Isu Senjata Biologis Rusia Setelah Kematian Misterius Staf Laboratorium Siberia

Presiden AS Donald Trump menanggapi kecurigaan Rusia mengembangkan senjata biologis usai kematian misterius staf laboratorium di Siberia. Trump menyatakan pihaknya tidak menilai demikian, namun berjanji akan mencari tahu. Kasus ini mencuat setelah Darya Shipilova, 28 tahun, meninggal akibat pneumonia tak diketahui penyebabnya, dengan lebih dari 200 kontak erat dalam pengawasan medis.

Oct 08, 2026 - 04:02
Updated: 1 day ago
0 0
Trump Angkat Bicara soal Isu Senjata Biologis Rusia Setelah Kematian Misterius Staf Laboratorium Siberia
Trump Angkat Bicara soal Isu Senjata Biologis Rusia Setelah Kematian Misterius Staf Laboratorium Siberia

Presiden Amerika Serikat Donald Trump akhirnya memberikan komentar terkait kecurigaan bahwa Rusia tengah mengembangkan senjata biologis. Isu ini mencuat setelah seorang staf laboratorium di Siberia meninggal dunia akibat infeksi misterius yang diduga kuat sebagai wabah pes. Menanggapi hal tersebut, Trump mengaku tidak sependapat dengan kecurigaan itu, namun ia menegaskan akan tetap mencari tahu kebenarannya.

"Kami rasa tidak. Kita akan segera mengetahuinya, tapi kami rasa tidak," ujar Trump kepada awak media di Gedung Putih pada Rabu (7/10), sebagaimana dikutip dari Anadolu Agency. Pernyataan ini disampaikan Trump saat menjawab pertanyaan wartawan mengenai kemungkinan keterlibatan Rusia dalam pengembangan senjata biologis.

Dalam kesempatan yang sama, Trump juga menyoroti pernyataan otoritas Rusia yang mengklaim bahwa situasi di Siberia saat ini sudah terkendali. Ia berharap Moskow benar-benar mampu mengelola masalah tersebut dengan baik. "Kami berharap sistem ini sangat canggih, sangat cerdas, dan mereka mengatakan semuanya terkendali dengan baik. Jadi kami berharap tidak demikian," tambahnya.

Kasus ini bermula dari meninggalnya seorang staf perempuan di Institut Anti-Wabah Irkutsk pekan lalu. Badan pengawas kesehatan Rusia, Rospotrebnadzor, mengidentifikasi korban bernama Darya Shipilova, 28 tahun, yang meninggal setelah menderita pneumonia dengan penyebab yang tidak diketahui. Kematiannya memicu spekulasi dan kekhawatiran internasional.

Sejumlah laporan menyebutkan bahwa Shipilova sempat memecahkan tabung reaksi yang berisi bakteri pes sebelum dirinya jatuh sakit. Namun, pihak Rusia dengan tegas membantah telah terjadi kecelakaan semacam itu di laboratorium tersebut. Bantahan ini disampaikan untuk meredam kekhawatiran publik dan internasional.

Saat ini, lebih dari 200 orang yang pernah berkontak erat dengan Shipilova masih berada di bawah pengawasan medis ketat. Selain itu, satu fasilitas rumah sakit yang sempat digunakan untuk merawat korban juga telah dikarantina sebagai langkah pencegahan penyebaran infeksi lebih lanjut.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Rabu (7/10) dilaporkan telah meminta informasi tambahan dari Rusia. Permintaan ini muncul setelah staf laboratorium lainnya dilaporkan terdeteksi mengalami pneumonia dengan penyebab yang juga tidak diketahui, memperkuat kekhawatiran akan potensi wabah yang lebih luas.

Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) pada Selasa (6/10) menyatakan bahwa pihaknya tengah memantau dengan cermat perkembangan kasus ini. Langkah CDC ini menunjukkan perhatian serius dari otoritas kesehatan Amerika terhadap situasi yang terjadi di Siberia tersebut.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User