Serangan Kapal di Selat Hormuz Makin Sering, Harga Minyak Dunia Kembali Melonjak
Harga minyak dunia naik lebih dari 1 persen pada Kamis (8/10) akibat kekhawatiran pasokan dari Timur Tengah yang meningkat seiring serangan kapal di Teluk dan Selat Hormuz. Brent naik ke US$101,53 per barel dan WTI ke US$89,39 per barel. Serangan terbaru menimpa kapal tanker di utara Qatar dan menimbulkan korban jiwa. Penurunan stok minyak AS turut menopang harga.
Harga minyak dunia kembali melonjak pada Kamis (8/10) di tengah kekhawatiran yang terus membayangi pasokan dari kawasan produsen utama Timur Tengah. Serangan terhadap kapal di Teluk dan Selat Hormuz yang semakin sering terjadi menjadi pemicu utama kenaikan tersebut.
Minyak mentah Brent tercatat naik US$1,33 atau 1,33 persen menjadi US$101,53 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat US$1,11 atau 1,26 persen ke level US$89,39 per barel.
Frekuensi serangan meningkat seiring bertambahnya volume minyak mentah yang keluar dari kawasan Teluk. Namun, pengiriman harus dilakukan dengan biaya lebih tinggi dan risiko yang lebih besar, baik terhadap kargo maupun awak kapal.
Dalam insiden terbaru, sebuah kapal tanker di utara Qatar terkena sejumlah proyektil dan menyebabkan korban jiwa. Informasi ini disampaikan badan United Kingdom Maritime Trade Operations pada Rabu.
"Pada serangan-serangan sebelumnya, kondisi ini menyebabkan penurunan pengiriman dari Teluk Persia. Kali ini, para produsen tampaknya bersedia mengambil risiko kapalnya rusak karena tidak ada jalur alternatif untuk membawa minyak mereka ke pasar internasional," ujar Daniel Hynes, ahli strategi komoditas senior di bank ANZ, seperti dikutip Reuters.
Sebelumnya, harga minyak sempat ditutup lebih rendah setelah Badan Energi Internasional (IEA) sepakat mempercepat pelepasan stok minyak dan memprioritaskan pasokan diesel. Langkah itu diambil pemerintah berbagai negara untuk mengatasi rekor harga bahan bakar dan gangguan pasokan akibat perang Iran.
Hynes menilai pelepasan minyak oleh IEA kemungkinan berasal dari stok yang sudah termasuk dalam rencana awal sebanyak 400 juta barel ketika konflik Timur Tengah dimulai. Menurutnya, langkah tersebut bukan tambahan pengurangan stok strategis. "Pada akhirnya, pelepasan stok strategis dapat menambah pasokan untuk sementara, tetapi tidak menciptakan kapasitas produksi baru," katanya.
Ancaman terhadap pengiriman minyak melalui Teluk dan Selat Hormuz terus meningkat sepanjang Oktober. Sebelum perang, jalur ini menjadi lintasan pengiriman minyak dan bahan bakar yang setara dengan sekitar 20 persen pasokan global. Serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz mencapai titik tertinggi pekan lalu dibandingkan pekan mana pun sejak perang Iran dimulai, bersamaan dengan peningkatan ekspor negara-negara produsen di kawasan Teluk.
Data persediaan minyak AS turut menopang kenaikan harga. Stok minyak mentah AS turun 3,2 juta barel menjadi 424,1 juta barel pada pekan yang berakhir 2 Oktober, menurut Energy Information Administration (EIA) pada Rabu. Penurunan itu lebih besar dari ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters sebesar 1,7 juta barel. Sementara itu, persediaan bahan bakar distilasi termasuk diesel dan bahan bakar pesawat turun 42 ribu barel menjadi 105,14 juta barel, jauh di bawah level periode yang sama dalam lima tahun terakhir.
What's Your Reaction?
Like
1
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)