Suhu di Sejumlah Daerah Indonesia Tembus 38 Derajat, BMKG Ungkap Pemicunya
BMKG mencatat suhu di sejumlah wilayah Indonesia menembus 38 derajat Celsius pada Oktober 2026 akibat kombinasi El Nino sangat kuat dan IOD Positif. Lampung menjadi daerah terpanas dengan 38,2 derajat Celsius. Kondisi ini memicu 1.297 titik panas dan diprediksi membuat musim hujan 2026/2027 datang lebih lambat serta lebih singkat.
Kombinasi El Nino kategori sangat kuat dan IOD Positif membuat sebagian besar wilayah Indonesia dilanda cuaca kering dan panas hingga pertengahan Oktober 2026. Dampaknya, suhu udara di sejumlah daerah melonjak, bahkan ada yang menembus 38 derajat Celsius.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 pada awal Oktober berada pada kategori sangat kuat, yakni positif 3,33 derajat Celsius. Sementara indeks El Nino-Southern Oscillation (ENSO) periode Agustus-September-Oktober mencapai positif 3,08, dan indeks Indian Ocean Dipole (IOD) dasarian tercatat positif 0,703.
Kondisi tersebut mengurangi potensi pembentukan awan hujan di Indonesia. Minimnya tutupan awan membuat radiasi matahari mencapai permukaan bumi secara maksimal sehingga suhu udara ikut memanas di sejumlah wilayah.
Berdasarkan data BMKG, suhu terpanas pada 12-13 Oktober 2026 tercatat di Lampung dengan 38,2 derajat Celsius. Disusul Jawa Barat dan Jawa Tengah yang masing-masing mencapai 37,8 derajat Celsius, lalu Papua Selatan dan Kalimantan Selatan dengan 37,4 derajat Celsius.
Panasnya cuaca juga meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan, terutama di daerah yang lama tanpa hujan. BMKG mengidentifikasi 1.297 titik panas yang tersebar di seluruh Indonesia.
"Sebaran terbanyak tercatat di Sumatera sebanyak 505 titik dan Kalimantan sebanyak 346 titik, disusul Papua dan Maluku sebanyak 330 titik. Sementara itu, Sulawesi terpantau memiliki 66 titik, Nusa Tenggara 38 titik, dan Jawa 12 titik," tulis BMKG di laman resminya.
Dampak lanjutan dari fenomena ini adalah mundurnya musim hujan 2026/2027. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyatakan kombinasi El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan memperparah serta memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia.
"Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat," ujar Faisal dalam konferensi pers Prediksi Musim Hujan secara daring pada Selasa (22/9).
BMKG memperkirakan puncak musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia terjadi pada Desember, Januari, dan Februari. Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menambahkan durasi musim hujan 2026/2027 diprediksi lebih pendek dari normalnya pada 482 ZOM yang mencakup 51,90 persen luas daratan Indonesia, lebih panjang pada 60 ZOM atau 8,58 persen, dan sama dengan normalnya pada 40 ZOM atau 5,06 persen.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)