Sebut Netanyahu Sudah Kehilangan Kontak dengan Realitas, Rivalnya Peringatkan Ancaman Besar bagi Israel
Menjelang pemilu Israel, pemimpin oposisi Gadi Eisenkot menilai Benjamin Netanyahu tak lagi layak memimpin negara. Ia mengkritik rencana Netanyahu menyiapkan sistem pembayaran alternatif seperti kripto untuk mengantisipasi sanksi internasional, yang dinilai justru mengancam keamanan nasional dan perekonomian Israel.
Pemimpin oposisi Israel, Gadi Eisenkot, melontarkan kritik tajam terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menjelang pemilihan umum yang dijadwalkan berlangsung Selasa (27/10). Menurut Eisenkot, Netanyahu sudah tidak layak lagi memimpin negara.
Kritik itu disampaikan Eisenkot melalui unggahan di media sosial X pada Sabtu (24/10), beberapa hari sebelum pemungutan suara. Ia menilai rencana Netanyahu menerapkan sistem pembayaran alternatif untuk menghadapi kemungkinan sanksi internasional justru dapat membahayakan keamanan nasional Israel.
Eisenkot, yang memimpin partai Yashar, menuding Netanyahu telah merusak persatuan masyarakat dan melemahkan militer. Ia juga menilai Netanyahu berisiko menghancurkan perekonomian Israel untuk generasi mendatang.
Menurut Eisenkot, pernyataan Netanyahu soal kemungkinan sanksi internasional menjadi bukti nyata bahwa ia telah kehilangan kontak dengan realitas dan memasuki dunia khayalan. Ia menuduh Netanyahu mempertimbangkan langkah yang dapat menjauhkan Israel dari sistem keuangan global.
"Ini adalah kegilaan seorang pria yang sudah tidak layak lagi memimpin negara," kata Eisenkot, seperti dilaporkan Middle East Monitor.
Kritik tersebut muncul sehari setelah Netanyahu mengungkapkan bahwa ia telah meminta penyusunan rencana ekonomi untuk mengantisipasi kemungkinan sanksi internasional. Rencana itu mencakup penggunaan metode pembayaran alternatif, termasuk mata uang kripto dan teknologi blockchain.
Netanyahu mengaku khawatir sanksi internasional dapat membatasi akses Israel terhadap sistem perbankan. Namun, ia tidak menyatakan bahwa Israel akan keluar dari sistem ekonomi global. Anggapan bahwa rencana tersebut akan mengisolasi perekonomian Israel merupakan bagian dari kritik Eisenkot.
Eisenkot juga menyindir rencana itu dengan menyebutnya sebagai "Bibicoin", gabungan dari julukan Netanyahu, Bibi, dan istilah yang merujuk pada metode pembayaran alternatif serta teknologi keuangan. Ia mempertanyakan bagaimana perusahaan teknologi Israel yang melayani klien asing dapat menerima pembayaran dan menarik investasi internasional apabila akses terhadap sistem perbankan global terganggu.
Selain itu, Eisenkot menyoroti kemungkinan kesulitan akuisisi lintas negara terhadap perusahaan Israel jika negara tersebut semakin terisolasi dari sistem keuangan internasional. Menurutnya, kebijakan tersebut berisiko mendorong perusahaan Israel memindahkan operasinya ke luar negeri, mengurangi tabungan dan investasi, serta mendorong lebih banyak warga meninggalkan Israel.
Eisenkot memperingatkan dampak ekonomi itu dapat berujung pada berkurangnya lapangan kerja dan menyusutnya anggaran untuk sektor penting seperti kesehatan dan pendidikan. Kondisi tersebut pada akhirnya dinilai dapat mengancam keamanan nasional Israel.
"Ini bukan skenario mimpi buruk yang dibayangkan, tetapi rencana Netanyahu untuk Israel jika dia terpilih kembali," kata Eisenkot dalam pernyataan pada Selasa (20/10). "Ini adalah peringatan nyata. Israel tidak akan mampu bertahan empat tahun lagi seperti ini," lanjutnya.
Sementara itu, Netanyahu juga memperingatkan bahwa bantuan militer Amerika Serikat kepada Israel tidak akan berlangsung selamanya. Ia meminta negaranya mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan berakhirnya bantuan tersebut dengan memperkuat kemandirian militer.
Rencana ekonomi Netanyahu turut menuai kritik dari kalangan ekonomi Israel. Media setempat mengutip seorang pejabat ekonomi senior yang tidak disebutkan namanya menilai mata uang kripto dan teknologi keuangan alternatif tidak dapat digunakan untuk menghindari sanksi perbankan secara efektif. Pejabat itu juga memperingatkan bahwa mengusulkan pendekatan semacam itu saja berpotensi merusak perekonomian Israel.
Perdebatan mengenai rencana tersebut berlangsung ketika Israel menghadapi tekanan internasional terkait perang di Jalur Gaza, perluasan permukiman, dan operasi militernya di Tepi Barat yang diduduki. Inggris dan sejumlah negara Barat lainnya telah mengambil tindakan terhadap individu serta entitas yang terkait dengan permukiman Israel, meningkatkan kekhawatiran di Israel mengenai kemungkinan meluasnya tekanan ekonomi dan diplomatik.
Perselisihan antara Netanyahu dan Eisenkot mencerminkan perpecahan politik menjelang pemilihan anggota parlemen Israel atau Knesset pada Selasa (27/10). Keduanya bersaing untuk memimpin pemerintahan berikutnya dengan perbedaan pandangan mengenai kebijakan keamanan, perekonomian, kepemimpinan nasional, serta hubungan Israel dengan negara-negara lain. Dalam unggahannya, Eisenkot menyerukan agar masyarakat memilih demi mewujudkan masa depan bersama yang lebih baik.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)