Besok Israel Memilih, 37 Partai Bersaing dan Lima Nama Ini Disebut Paling Berpeluang Gantikan Netanyahu
Israel menggelar pemilu pada Selasa (27/10) dengan 37 partai bersaing memperebutkan kursi Knesset. Sistem proporsional dan ambang batas 3,25 persen membuat tak ada partai yang bisa menang sendirian, sehingga koalisi 61 kursi jadi kunci. Selain Netanyahu, nama Gadi Eisenkot, Naftali Bennett, Yair Golan, dan Avigdor Lieberman disebut sebagai pesaing kuat.
Israel dijadwalkan menggelar pemilihan umum pada Selasa (27/10). Warga akan memberikan suara berdasarkan daftar partai, bukan memilih kandidat secara individu, dan partai yang meraih suara mayoritas berhak menentukan siapa yang akan menjadi perdana menteri.
Dalam pemilu kali ini, sebanyak 37 partai ikut berpartisipasi, termasuk Likud yang dipimpin Benjamin Netanyahu. Namun, tidak semua partai bisa lolos ke parlemen (Knesset) karena Israel menerapkan ambang batas parlemen sebesar 3,25 persen dari total suara nasional.
Kursi parlemen dibagikan melalui sistem proporsional murni. Menjadi partai dengan suara terbesar pun tidak cukup untuk langsung membentuk pemerintahan, sebab seorang perdana menteri membutuhkan 61 kursi. Sepanjang sejarah, belum ada partai yang mampu meraih mayoritas tersebut sendirian.
Setelah pemungutan suara, partai-partai akan berupaya membangun koalisi. Proses ini bisa memakan waktu berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Peneliti dari lembaga think tank Council on Foreign Relations (CFR), Elliot Abrams, menilai banyak isu yang membuat pembentukan koalisi menjadi sangat sulit.
Kesulitan itu antara lain menyangkut apakah partai Arab akan dilibatkan atau dikucilkan dalam koalisi baru, apakah keinginan kelompok ultra-ortodoks untuk tidak ikut wajib militer akan dipenuhi, serta apakah tokoh oposisi bersedia menyetujui koalisi pimpinan Netanyahu jika mengecualikan sayap kanan ekstrem. Abrams menilai komposisi partai kali ini sangat berbeda dari sebelumnya, dan jajak pendapat menunjukkan masa depan politik Israel penuh ketidakpastian.
Netanyahu tetap menjadi kandidat kuat perdana menteri. Likud, partai yang kini ia pimpin, tercatat menang sembilan kali dari 17 pemilu yang diikuti, sementara Israel telah menggelar pemilu sebanyak 25 kali. Namun, sejumlah pakar menilai koalisi Netanyahu tidak lagi sekokoh dulu. Pada 2025, Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir dari Otzma Yehudit menarik diri usai Netanyahu menyepakati gencatan senjata dengan Hamas. Kemudian pada September 2026, Bezalel Smotrich dari Partai Zionisme Religius membentuk aliansi baru dengan Partai Zehut.
Pesaing terkuat Netanyahu disebut-sebut adalah Gadi Eisenkot, pendiri Partai Yashar. Jajak pendapat terbaru Channel 12 menunjukkan Yashar diprediksi unggul dengan 23 kursi dibanding Likud 21 kursi, sementara survei Channel 14 yang pro-Netanyahu memperkirakan Likud meraih 30 kursi dan Eisenkot 20 kursi. Eisenkot membentuk partainya setelah keluar dari parlemen pada Juli 2025 dan meninggalkan aliansi National Unity pimpinan Benny Gantz.
Nama lain yang masuk bursa adalah Naftali Bennett, yang pernah menjabat perdana menteri pada Juni 2021 hingga Juni 2022. Tahun lalu ia membentuk Partai Bennett 2026, lalu pada April tahun ini partai tersebut melebur dan berkoalisi dengan Yesh Atid milik Yair Lapid. Aliansi itu didaftarkan dengan nama Beyachad dan memosisikan diri sebagai gerakan Zionis Liberal sayap kanan tengah, dengan fokus mereformasi wajib militer agar kelompok ultra-ortodoks ikut berpartisipasi serta menurunkan biaya hidup.
Selain itu, ada Yair Golan, eks Kepala Staf Angkatan Pertahanan Israel (IDF) yang membentuk Partai Demokrat. Terakhir, Avigdor Lieberman, tokoh sayap kanan yang vokal menantang Netanyahu dan disebut mengincar posisi strategis dalam pemerintahan. Ia membentuk Partai Israel Beytenu pada 1999 sebagai wadah politik bagi kepentingan imigran Yahudi berbahasa Rusia yang baru pindah ke Israel.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)