Dua Sekutu Trump Kalah di Pemilu Brasil dan Hungaria Meski Dukungan Terbuka
Dua sekutu Donald Trump, Flávio Bolsonaro di Brasil dan Viktor Orbán di Hungaria, sama-sama kalah dalam pemilu meski mendapat dukungan terbuka dari Presiden AS itu. Lula da Silva mengalahkan Flávio dengan lebih dari 51 persen suara, sementara Orbán kehilangan kekuasaan setelah 16 tahun berkuasa di Hungaria usai dikalahkan Partai Tisza pimpinan Péter Magyar.
Dua tokoh yang dikenal sebagai sekutu Presiden Amerika Serikat Donald Trump harus menelan pil pahit dalam pemilihan umum di negara masing-masing. Meski mendapat dukungan terbuka dari Trump, senator Brasil Flávio Bolsonaro dan mantan Perdana Menteri Hungaria Viktor Orbán sama-sama gagal mempertahankan kekuasaan.
Kekalahan terbaru dialami Flávio Bolsonaro, putra mantan Presiden Brasil Jair Bolsonaro, dalam pemilihan presiden yang digelar Minggu (25/10). Ia dikalahkan presiden petahana Luiz Inácio Lula da Silva. Berdasarkan penghitungan suara yang dikutip Al Jazeera, Lula meraih lebih dari 51 persen suara, sedangkan Flávio sekitar 48 persen. Otoritas pemilihan menetapkan Lula sebagai pemenang saat sekitar 98,76 persen suara telah dihitung.
Kemenangan itu membawa Lula, yang berusia 80 tahun, kembali menjabat presiden untuk keempat kalinya. Hasil ini sekaligus menjadi pukulan bagi keluarga Bolsonaro yang sebelumnya juga gagal mengalahkan Lula pada pemilihan presiden 2022.
Flávio menolak menerima hasil pemilu dan berencana menempuh jalur hukum. "Mustahil untuk mengakui hasil pemilu mengingat bagaimana peristiwa ini terjadi," kata Flávio kepada pendukungnya di Brasilia. "Kami akan menempuh jalur hukum. Kami akan meminta agar pemilihan ini dibatalkan," lanjutnya.
Perselisihan muncul setelah pemungutan suara di Brasil diperpanjang dua jam atas permintaan kedua kubu. Tim kampanye Lula meminta perpanjangan dengan alasan adanya insiden yang memengaruhi bus transportasi pemilih di sejumlah negara bagian, sementara tim Flávio meminta perpanjangan di beberapa wilayah karena hujan lebat dinilai menyulitkan pemilih mencapai tempat pemungutan suara. Hakim Mahkamah Agung Brasil Cristiano Zanin mengabulkan permintaan tim Lula, namun belum jelas bagaimana proses hukum yang dijanjikan Flávio akan memengaruhi hasil pemilu.
Sebelum pemungutan suara ditutup, Trump menyatakan dirinya sedang "memantau" pemilihan presiden Brasil. Ia tidak menyebut kandidat yang ingin dimenangkan, meski sebelumnya memuji penampilan Flávio pada putaran pertama. "Saya tidak ingin membahas itu, tetapi kami sedang mengamati," kata Trump kepada wartawan pada Minggu (25/10). Trump diketahui memiliki hubungan dekat dengan keluarga Bolsonaro dan pada 2022 secara terbuka mendukung Jair Bolsonaro saat mencalonkan diri melawan Lula.
Reuters melaporkan sejumlah pejabat di Kementerian Luar Negeri AS mendorong pemberian sanksi terhadap Brasil sebagai upaya menekan pemerintahan Lula dan membantu keluarga Bolsonaro kembali berkuasa. Lula sendiri menjadikan pembelaan terhadap kedaulatan Brasil dan penolakan campur tangan asing sebagai tema utama kampanyenya, sekaligus mengkritik kebijakan tarif Trump serta pernyataan publik presiden AS itu mengenai proses hukum terhadap Jair Bolsonaro. Dalam pidato kemenangannya, Lula menyebut pemilu ini sebagai "kekalahan bagi penyangkalan" dan "kekalahan bagi kebohongan".
Sebelum kekalahan Flávio, sekutu Trump lainnya, Viktor Orbán, lebih dulu kehilangan kekuasaan di Hungaria. Orbán kalah dalam pemilihan parlemen pada 12 April dari Partai Tisza yang dipimpin Péter Magyar setelah berkuasa selama 16 tahun. Kemenangan Magyar menandai perubahan politik besar di Hungaria, dengan arah politik yang lebih dekat ke Uni Eropa, sementara Orbán selama bertahun-tahun berselisih dengan blok tersebut mengenai berbagai isu, termasuk perang Rusia di Ukraina.
Trump secara terbuka mendukung Orbán menjelang pemilu melalui platform Truth Social pada 5 Februari, menyebutnya sebagai "pemimpin yang benar-benar kuat dan berpengaruh". Dukungan juga disampaikan Wakil Presiden AS JD Vance yang datang ke Hungaria menjelang pemilu, bahkan Trump sempat berbicara lewat telepon dalam rapat umum kampanye yang dihadiri Vance. Trump juga menyatakan pemerintahannya siap menggunakan kekuatan ekonomi AS untuk memperkuat perekonomian Hungaria jika Orbán kembali menang. Namun dukungan tersebut tidak cukup mempertahankan kekuasaan Orbán, dan pemilih Hungaria justru memberikan kemenangan kepada Magyar.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)