BMKG Peringatkan Potensi Hujan Tinggi di Sumatra dan Kalimantan Buntut Operasi Modifikasi Cuaca

BMKG mencatat potensi pertumbuhan awan hujan tinggi di Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah dalam lima hari ke depan berkat operasi modifikasi cuaca. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyebut musim hujan mundur 20-30 hari akibat El Nino, dengan puncak Desember-Februari, sehingga bencana hidrometeorologi basah perlu diwaspadai.

Oct 26, 2026 - 12:02
Updated: 1 day ago
0
BMKG Peringatkan Potensi Hujan Tinggi di Sumatra dan Kalimantan Buntut Operasi Modifikasi Cuaca
BMKG Peringatkan Potensi Hujan Tinggi di Sumatra dan Kalimantan Buntut Operasi Modifikasi Cuaca

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani mengungkapkan bahwa potensi pertumbuhan awan hujan di Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah tergolong tinggi dalam lima hari ke depan. Menurutnya, kondisi ini tidak terlepas dari upaya modifikasi cuaca yang dilakukan BMKG secara masif di wilayah-wilayah dengan titik panas cukup banyak.

"Kalau Kalimantan Tengah, hari ini sampai dengan lima hari ke depan ini potensinya tinggi untuk pertumbuhan awan. Kalau di Sumatra Selatan, itu mulai besok sampai lima hari ke depannya, ini tinggi," kata Teuku di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (26/10).

Teuku menjelaskan sebagian wilayah Indonesia akan memasuki musim hujan pada November hingga Desember, dengan puncak musim pada Desember, Januari, dan Februari. Ia mengingatkan sifat hujan yang normal perlu diwaspadai. "Artinya dengan rata-rata tingkat klimatologis 30 tahun terakhir, hujan yang jatuh itu sama, tetapi durasinya lebih pendek. Untuk akhir tahun ini hingga awal tahun depan, bencana hidrometeorologi basah perlu kita waspadai bersama," ujarnya.

BMKG juga memperkirakan musim hujan di seluruh Indonesia mundur sekitar dua hingga tiga dasarian atau 20-30 hari akibat pengaruh fenomena El Nino. "Musim hujan juga akan terakumulasi cukup banyak dengan durasi yang lebih pendek, dengan sifat hujan normal. Jadi, kita harus bersiap mulai sekarang," kata Teuku.

Dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan, Teuku menyatakan pihaknya menjalankan operasi modifikasi cuaca yang menggabungkan penggunaan dry ice dengan garam (NaCl). Atas arahan Presiden, operasi tersebut dilaksanakan secara masif dengan melibatkan pesawat Hercules, CN-295, hingga pesawat milik TNI.

Sebelumnya, BMKG melaporkan hujan mulai mengguyur wilayah Sumatra dan Kalimantan setelah operasi modifikasi cuaca dengan metode dry ice dan garam diterapkan. Hujan dengan intensitas tinggi terjadi di Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Menurut Faisal, ia bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Wakil Kepala Badan Pengelola Gambut Nasional mendatangi ketiga wilayah tersebut untuk mengendalikan kebakaran hutan dan lahan. Ia menyebut kebakaran meningkat dalam dua sampai empat minggu sebelum musim hujan, sehingga OMC dengan dry ice dan garam NaCl diterapkan untuk mengurangi kepekatan asap.

Faisal menjelaskan OMC dry ice dilakukan untuk membongkar lapisan inversi yang membuat asap terperangkap di ketinggian 6.000 sampai 7.000 kaki. Setelah asap naik, matahari dapat memicu penguapan dan pembentukan awan hujan, lalu BMKG melakukan penyemaian awan menggunakan NaCl.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User