Rupiah Nyaris Sentuh Rp18.200, BI Bongkar Deretan Penyebabnya
Bank Indonesia mengungkap sejumlah faktor yang menekan rupiah hingga mendekati Rp18.200 per dolar AS, mulai dari ketidakpastian konflik Timur Tengah, penguatan dolar AS, arus keluar modal asing, hingga kekhawatiran penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI. Rupiah ditutup melemah ke Rp18.184 per dolar AS pada Rabu (28/10), sementara BI terus melakukan stabilisasi di pasar.
Bank Indonesia (BI) membeberkan sederet faktor yang membuat nilai tukar rupiah terus tertekan hingga mendekati level Rp18.200 per dolar AS. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menyebut tekanan itu datang dari ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah, penguatan dolar AS, arus keluar modal asing, hingga kekhawatiran terhadap potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Menurut Erwin, pergerakan rupiah dan mata uang kawasan masih dipengaruhi ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah. Kondisi tersebut membuat harga minyak bertahan tinggi, yakni di atas US$115 per barel, sekaligus meningkatkan risiko fiskal ke depan. Ekspektasi kenaikan suku bunga AS yang juga meningkat menambah beban terhadap mata uang negara berkembang.
"Pergerakan Rupiah dan mata uang kawasan hari ini masih dipengaruhi ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah. Kondisi ini menjaga harga minyak tetap tinggi, di atas US$115 per barel, serta meningkatkan risiko fiskal ke depan. Ekspektasi kenaikan suku bunga AS juga meningkat," kata Erwin dalam keterangan tertulis BI terkait perkembangan nilai tukar rupiah, Rabu (28/10).
Erwin menjelaskan, memburuknya sentimen risk-off mendorong penguatan dolar AS dan arus keluar dana dari pasar negara berkembang. Kondisi itu terjadi di tengah kenaikan imbal hasil obligasi. Dari dalam negeri, kekhawatiran atas potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI turut menekan aliran dana, ditambah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat menjelang akhir bulan.
"Dari domestik, kekhawatiran atas potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI turut menekan aliran dana. Kebutuhan valas domestik yang meningkat menjelang akhir bulan juga menambah tekanan," terang Erwin.
Secara umum, BI menilai pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang kawasan. Secara bulanan, rupiah tercatat melemah 1,15 persen. Di tengah tekanan tersebut, cadangan devisa Indonesia masih terjaga sebesar US$146,3 miliar pada akhir September 2026.
Erwin menegaskan BI terus hadir di pasar untuk menjaga mekanisme pasar berjalan baik dan memastikan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga sesuai fundamentalnya. Stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan transaksi spot, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. BI juga berkoordinasi intensif dengan korporasi, pelaku pasar, dan pihak terkait lainnya.
Sebelumnya, rupiah ditutup melemah ke level Rp18.184 per dolar AS pada perdagangan Rabu (28/10), turun 28 poin atau 0,15 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong menyebut pelemahan terjadi di tengah meningkatnya sentimen risk-off dan berlanjutnya aksi jual bersih investor asing di pasar keuangan Indonesia.
"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen risk-off dan net sell asing yang berkelanjutan. Indeks dolar AS yang masih terus naik menjelang FOMC juga ikut menekan rupiah," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Rabu (28/10).
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)