Rupiah Ditutup Menguat ke Rp18.137 per Dolar AS, Ini Pemicunya

Nilai tukar rupiah ditutup menguat 47 poin atau 0,26 persen ke level Rp18.137 per dolar AS pada Kamis (29/10). Penguatan ini sejalan dengan mayoritas mata uang Asia dan pelemahan dolar AS pasca-rapat FOMC. Meski begitu, analis menilai penguatan rupiah masih terbatas akibat sentimen risk-off dan aksi jual bersih investor asing di pasar domestik.

Oct 29, 2026 - 20:01
Updated: 8 hours ago
0
Rupiah Ditutup Menguat ke Rp18.137 per Dolar AS, Ini Pemicunya
Rupiah Ditutup Menguat ke Rp18.137 per Dolar AS, Ini Pemicunya

Nilai tukar rupiah mencatatkan penguatan pada penutupan perdagangan Kamis (29/10) sore. Mata uang Garuda berakhir di level Rp18.137 per dolar AS, naik 47 poin atau 0,26 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Penguatan rupiah ini sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang Asia yang berada di zona hijau terhadap dolar AS. Yuan China menguat 0,06 persen, peso Filipina naik 0,30 persen, ringgit Malaysia terapresiasi 0,40 persen, dolar Singapura menguat 0,03 persen, dan won Korea Selatan naik 0,42 persen.

Sementara itu, yen Jepang justru melemah 0,03 persen dan dolar Hong Kong terkoreksi 0,01 persen terhadap dolar AS. Di antara mata uang utama negara maju, dolar Kanada bergerak datar, sedangkan euro melemah 0,17 persen, pound sterling Inggris turun 0,17 persen, dolar Australia terkoreksi 0,23 persen, dan franc Swiss melemah 0,01 persen.

Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong menjelaskan bahwa penguatan rupiah terjadi seiring pelemahan dolar AS setelah hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) sesuai dengan ekspektasi pasar. Namun, hasil rapat tersebut tidak memberikan panduan lebih lanjut mengenai prospek suku bunga The Fed.

"Rupiah ditutup menguat terhadap dolar AS yang terkoreksi pasca-FOMC, yang hasilnya sejalan dengan ekspektasi pasar. Namun, FOMC tidak memberikan panduan ke depan terkait prospek suku bunga The Fed," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.

Meski mencatat penguatan, Lukman menambahkan bahwa pergerakan rupiah masih terbatas. Hal ini dipengaruhi oleh sentimen risk-off di pasar global serta aksi jual bersih investor asing di pasar domestik.

Dengan kondisi tersebut, penguatan rupiah pada perdagangan kali ini dinilai masih belum sepenuhnya lepas dari tekanan eksternal yang membayangi pergerakan pasar keuangan domestik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User