Rupiah Kembali Melemah ke Rp18.168 per Dolar AS, Sentimen Pasar Saham dan Kasus Penyadapan Jadi Pemicu
Nilai tukar rupiah ditutup melemah 8 poin atau 0,04 persen ke Rp18.168 per dolar AS pada Rabu (4/11) sore. Analis DOO Financial Futures Lukman Leong menyebut pelemahan dipicu sentimen negatif pasar ekuitas domestik dan kasus penyadapan, meski indeks dolar AS turun dan mayoritas mata uang Asia justru menguat.
Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan pada penutupan perdagangan Rabu (4/11) sore. Mata uang Garuda berada di level Rp18.168 per dolar AS, turun 8 poin atau 0,04 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya.
Pelemahan rupiah ini terjadi di tengah pergerakan mata uang kawasan Asia yang bervariasi terhadap dolar AS. Yuan China tercatat melemah 0,07 persen dan peso Filipina turun 0,09 persen. Sementara itu, ringgit Malaysia justru menguat 0,20 persen, dolar Singapura naik 0,24 persen, yen Jepang terapresiasi 0,38 persen, won Korea Selatan menguat 0,46 persen, dan dolar Hong Kong naik tipis 0,01 persen.
Berbeda dengan Asia, mata uang utama negara maju kompak menguat terhadap dolar AS. Euro Eropa naik 0,46 persen, poundsterling Inggris menguat 0,51 persen, dolar Australia terapresiasi 0,49 persen, dolar Kanada naik 0,39 persen, dan franc Swiss menguat 0,61 persen.
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh sentimen negatif dari pasar saham domestik dan kasus penyadapan. "Rupiah melemah tertekan oleh sentimen yang masih lemah di pasar ekuitas domestik dan kasus penyadapan. Indeks dolar AS sendiri terpantau turun cukup besar dan mayoritas mata uang Asia juga menguat cukup besar terhadap dolar AS," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Dengan demikian, meskipun indeks dolar AS melemah dan banyak mata uang Asia menguat, rupiah tetap tertekan oleh faktor domestik. Hal ini menunjukkan bahwa sentimen internal masih menjadi penentu utama pergerakan rupiah pada perdagangan kali ini.
Pergerakan rupiah ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan sentimen pasar domestik, terutama terkait kondisi pasar ekuitas dan isu penyadapan yang tengah menjadi perhatian. Pelaku pasar akan mencermati apakah tekanan ini bersifat sementara atau berlanjut dalam beberapa hari mendatang.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)