Rupiah Kembali Melemah ke Rp18.156 per Dolar AS, Investor Masih Menanti Sinyal Pasar

Nilai tukar rupiah ditutup melemah 9 poin atau 0,05 persen ke level Rp18.156 per dolar AS pada perdagangan Senin (2/11). Analis DOO Financial Futures Lukman Leong menyebut pelemahan tipis ini mencerminkan kehati-hatian investor yang menanti data ekonomi domestik dan global serta pemilu legislatif paruh waktu AS, meski data inflasi dan perdagangan Indonesia relatif lebih baik dari perkiraan.

Nov 02, 2026 - 20:02
Updated: 2 days ago
0
Rupiah Kembali Melemah ke Rp18.156 per Dolar AS, Investor Masih Menanti Sinyal Pasar
Rupiah Kembali Melemah ke Rp18.156 per Dolar AS, Investor Masih Menanti Sinyal Pasar

Nilai tukar rupiah kembali berada di zona merah pada penutupan perdagangan Senin (2/11). Mata uang Garuda berakhir di level Rp18.156 per dolar AS, melemah 9 poin atau 0,05 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Pelemahan tipis rupiah terjadi di tengah pergerakan mata uang kawasan Asia yang bervariasi terhadap dolar AS. Yuan China menguat 0,11 persen dan peso Filipina naik 0,19 persen. Sebaliknya, ringgit Malaysia melemah 0,32 persen, dolar Singapura turun 0,05 persen, yen Jepang terkoreksi 0,10 persen, won Korea Selatan terdepresiasi 0,72 persen, dan dolar Hong Kong melemah 0,02 persen.

Mata uang utama negara maju juga bergerak tidak seragam. Euro Eropa menguat 0,35 persen, poundsterling Inggris naik 0,19 persen, dolar Kanada terapresiasi 0,01 persen, dan franc Swiss menguat 0,39 persen. Sementara itu, dolar Australia melemah 0,15 persen terhadap dolar AS.

Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong menilai pelemahan rupiah mencerminkan sikap hati-hati investor. Menurutnya, pasar sedang menanti sejumlah data ekonomi domestik dan global, termasuk pemilu legislatif paruh waktu Amerika Serikat.

"Rupiah ditutup melemah tipis terhadap dolar AS, mencerminkan kehati-hatian investor pada pekan yang diwarnai penantian terhadap data ekonomi domestik maupun global serta pemilu legislatif paruh waktu AS," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.

Lukman menjelaskan, data inflasi dan perdagangan Indonesia yang dirilis pada siang hari sebenarnya relatif lebih baik dari perkiraan sehingga turut menopang rupiah. Namun, tekanan datang dari aksi jual bersih investor asing di pasar saham yang masih membebani mata uang Garuda.

"Data ekonomi inflasi dan perdagangan Indonesia yang dirilis siang tadi relatif lebih baik dari harapan sehingga mendukung rupiah. Namun, aksi jual bersih investor asing di pasar ekuitas masih membebani rupiah," katanya.

Di sisi lain, indeks dolar AS dan harga minyak dunia terpantau melemah di tengah harapan berlangsungnya perundingan damai di Timur Tengah. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang mewarnai pergerakan pasar keuangan pada perdagangan kali ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User