Ratusan Juta Mengalir di Perayaan Maulid Lunang, Warga Ikhlas Meski Masjid Penuh Sesak
Perayaan Maulid Nabi di Lunang, Pesisir Selatan, berlangsung khidmat meski masjid penuh sesak. Warga dengan ikhlas membawa jamba (makanan) dan mengalah demi kenyamanan tamu. Tradisi tahunan ini menghabiskan ratusan juta rupiah, namun kebahagiaan dan keikhlasan tetap terpancar.
LUNANG, Pesisir Selatan – Ribuan umat Muslim memadati Masjid Nurul Hasanah di Kampung Lubuk Sitepung, Nagari Lunang, Kecamatan Lunang, untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Kamis (27/8/2026). Meski suasana berjubel dan panas, keikhlasan warga justru terpancar jelas. Mereka datang bukan hanya untuk bersalawat, tetapi juga membawa serta 'jamba' atau makanan khas yang akan dinikmati bersama-sama.
Tradisi tahunan ini telah berlangsung turun-temurun sejak zaman dahulu. Abdul Kadir Dt Bandaharo, tetua kampung sekaligus aktivis Badan Musyawarah (Bamus) Nagari Lunang, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah warisan leluhur yang terus dijaga. "Sejak saya masih kecil, kegiatan ini sudah ada. Jadi kami hanya melanjutkan tradisi yang sudah ada," ujarnya saat menerima tim Infosumbar di kediaman Mande Rubiah.
Sejak ba'da zuhur, kawasan masjid mulai dipadati warga. Para ibu dan wanita datang dengan membawa tentengan berisi makanan yang kemudian ditumpuk di bagian belakang masjid. Sementara itu, kaum bapak-bapak sibuk mengatur ruangan agar tetap kondusif. Meski kondisi di dalam masjid semakin sempit, tidak ada satu pun jemaah yang mengeluh. Wajah-wajah mereka tetap sabar dan ikhlas menanti puncak acara yang digelar menjelang waktu Asar.
Setelah bersalawat bersama, jamba yang tadinya menumpuk mulai disusun rapi memanjang dari depan ke belakang. Kaum bapak-bapak dengan sigap menata makanan, sementara para ibu justru memilih mengalah dengan keluar dari masjid atau tetap duduk di bagian belakang. Mereka dengan ramah mempersilakan para tamu untuk menikmati hidangan, bahkan membungkuskan makanan untuk dibawa pulang. "Silakan makan," ujar mereka dengan tulus, sembari memasukkan berbagai penganan, termasuk lemang yang menjadi simbol peringatan Maulid.
Menariknya, para ibu yang bersusah payah memasak sejak sehari sebelumnya itu justru tidak ikut menikmati makanan yang mereka bawa. Mereka lebih memilih melayani dan memastikan para tamu merasa nyaman. Tidak ada protes, tidak ada keluhan. Semua dilakukan dengan ikhlas tanpa basa-basi. Mereka bahkan membersihkan kembali masjid setelah acara usai agar dapat digunakan untuk salat berjamaah.
Perayaan Maulid di Lunang ini ternyata bukan acara yang murah. Seorang ibu muda bernama Nedia mengaku mengeluarkan biaya hingga Rp300 ribu untuk belanja kebutuhan memasak. Jika ditambah dengan gelamai, ia memperkirakan biayanya bisa mencapai Rp500 ribu. Jika dirata-ratakan ada seribu jamba yang dibawa warga, maka diperkirakan ratusan juta rupiah uang yang beredar untuk menunjang kegiatan ini. Namun, tidak ada kesan keberatan di antara mereka. Justru mereka merasa bahagia karena menganggap perayaan ini setara dengan hari raya.
Kegiatan Maulid tidak berhenti pada siang hari. Malam harinya, digelar pertunjukan Randai dan silat. Keesokan harinya, warga menjalang (berkunjung) ke rumah Mande Rubiah, sosok yang sangat dihormati di Lunang. Di tengah gempuran media sosial, tradisi ini tetap terjaga dan menjadi bukti bahwa nilai kebersamaan dan keikhlasan masih kuat mengakar di masyarakat.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)