Korea Selatan Tawarkan Teknologi Baterai dan Transmisi Bawah Laut, Indonesia Diminta Siapkan Aturan Pasar Listrik

Korea Selatan membuka peluang ekspor teknologi baterai canggih dan transmisi listrik bawah laut ke Indonesia untuk mendukung pengembangan energi terbarukan, termasuk PLTS 100 GW. Namun, sejak MoU April 2026 belum ada kemajuan konkret. Indonesia diminta membenahi regulasi pasar listrik agar investasi teknologi baterai dan baja rendah emisi bisa berjalan ekonomis.

Oct 31, 2026 - 12:02
Updated: 8 hours ago
0
Korea Selatan Tawarkan Teknologi Baterai dan Transmisi Bawah Laut, Indonesia Diminta Siapkan Aturan Pasar Listrik
Korea Selatan Tawarkan Teknologi Baterai dan Transmisi Bawah Laut, Indonesia Diminta Siapkan Aturan Pasar Listrik

Korea Selatan (Korsel) menawarkan peluang kerja sama ekspor teknologi baterai canggih hingga transmisi listrik bawah laut ke Indonesia. Teknologi tersebut dinilai dapat mendukung pengembangan energi terbarukan, termasuk ambisi Indonesia membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW).

Head of the Energy Market and Policy Solutions for Our Climate (SFOC) Gahee Han mengungkapkan kedua negara telah membahas pemanfaatan teknologi Korsel di sektor energi. Namun, ia mengakui belum banyak perkembangan konkret sejak nota kesepahaman (MoU) ditandatangani pada April 2026. "Sejujurnya, sejak MoU ditandatangani pada April 2026, kami belum melihat banyak kemajuan. Namun, kedua negara sudah duduk bersama untuk membahas teknologi Korea Selatan, seperti baterai canggih dan teknologi jaringan transmisi listrik ke Indonesia," ujar Gahee dalam workshop Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea (IKJN) di Jakarta, Jumat (30/10).

Salah satu teknologi yang dibahas adalah baterai canggih dan jaringan transmisi listrik bertegangan tinggi arus searah atau high voltage direct current (HVDC). Teknologi ini dapat digunakan untuk membangun jaringan transmisi listrik bawah laut. Pemerintah Korsel, kata Gahee, memiliki ketertarikan untuk mengekspor teknologi tersebut dan berharap dapat menjalin kemitraan ekspor-impor dengan Indonesia.

Meski demikian, Gahee menekankan kesiapan pasar energi menjadi prasyarat agar investasi perusahaan Korsel di Indonesia dapat berkembang. Ia mencontohkan industri baterai Korsel yang digerakkan perusahaan seperti SK, Samsung, dan LG. Perusahaan-perusahaan itu memiliki teknologi baterai kompetitif, tetapi menghadapi kesulitan finansial di pasar domestik karena belum tersedianya mekanisme pasar listrik yang memadai untuk memberikan kompensasi atas penggunaan teknologi tersebut. Karena itu, Indonesia perlu menyiapkan regulasi pasar listrik yang lebih maju agar investasi teknologi baterai dapat memberikan keuntungan yang layak bagi pelaku usaha.

Gahee juga menyinggung peluang kerja sama di sektor baja rendah emisi. Produsen baja asal Korsel POSCO telah mengembangkan teknologi hydrogen-based direct reduction iron (DRI), yakni produksi besi menggunakan hidrogen yang dapat menekan emisi dalam proses pembuatan baja. Namun, pemanfaatan teknologi itu masih menghadapi tantangan ketersediaan energi terbarukan. Gahee menyebut energi terbarukan baru menyumbang sekitar 10 persen dari bauran pembangkit listrik Korsel, sehingga POSCO dan produsen baja lainnya kesulitan memperoleh pasokan energi bersih yang cukup. "Untuk memproduksi baja hijau, serta mengembangkan dan mengekspor teknologi baterai yang dapat menguntungkan pasar, Indonesia dan Korea perlu memperbaiki aturan pasar listrik agar teknologi tersebut memperoleh kompensasi yang memadai," jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Program Transformasi Sistem Energi Institute for Essential Services Reform (IESR) Deon Arinaldo menilai kerja sama baterai RI-Korsel dapat diarahkan untuk mendukung integrasi PLTS dengan battery energy storage system (BESS). Menurutnya, integrasi PLTS dengan BESS membutuhkan perancangan sistem yang disesuaikan dengan kondisi jaringan listrik di setiap wilayah. "Untuk mengintegrasikan PLTS dengan sistem penyimpanan baterai agar dapat menjaga stabilitas jaringan listrik, diperlukan analisis dan desain sistem yang disesuaikan dengan masing-masing wilayah integrasi. Untuk pembangkit diesel, misalnya, dibutuhkan konfigurasi PLTS dan BESS yang berbeda," ucap Deon.

Deon juga menyoroti pentingnya memperkuat rantai pasok dan kapasitas manufaktur baterai dalam negeri. Ia menilai kebutuhan baterai untuk penyimpanan energi listrik berbeda dengan baterai kendaraan listrik. Baterai kendaraan listrik membutuhkan performa tinggi, sedangkan baterai penyimpanan energi lebih mengutamakan biaya rendah dengan tetap memenuhi kebutuhan layanan jaringan listrik.

Dari sisi pembiayaan, Deon memperkirakan pembangunan PLTS 100 GW membutuhkan investasi mendekati US$80 miliar atau setara Rp1.453,52 triliun (asumsi kurs Rp18.169 per dolar AS) untuk proyek skala utilitas. Angka itu berpotensi meningkat menjadi lebih dari US$100 miliar atau Rp1.816,80 triliun apabila kebutuhan penyimpanan energi dan jaringan transmisi turut diperhitungkan. Kebutuhan investasi tersebut jauh lebih besar dibandingkan realisasi investasi energi terbarukan Indonesia yang saat ini baru sekitar US$2 miliar hingga US$3 miliar. Karena itu, pembiayaan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi juga membutuhkan investor swasta, lembaga pembangunan multilateral, serta kerja sama dengan negara lain.

Deon menekankan Indonesia perlu membangun kapasitas riset dan sumber daya manusia (SDM) agar tidak hanya bergantung pada transfer teknologi dari negara mitra. Riset diperlukan untuk menyesuaikan teknologi baterai dengan kondisi iklim, karakteristik jaringan listrik, serta pola penggunaan energi di Indonesia. Ia juga menyoroti perlunya strategi pengembangan tenaga ahli, termasuk menghubungkan program beasiswa luar negeri dengan kebutuhan industri. Laboratorium industri di sejumlah perguruan tinggi dinilai dapat diarahkan untuk mengembangkan teknologi BESS, termasuk pemanfaatan nikel sebagai bahan baterai penyimpanan energi. "Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan kerja sama dan transfer teknologi. Kita juga harus berinvestasi dalam riset dan pengembangan, dengan mempertimbangkan sumber daya, iklim, serta kondisi yang berbeda di Indonesia," ujar Deon. Ia menambahkan kerja sama dengan Korsel perlu diarahkan agar Indonesia dapat menguasai dan mengembangkan teknologi, bukan sekadar menjadi pengguna, salah satunya melalui investasi riset bersama hingga kepemilikan kekayaan intelektual bersama atau joint intellectual property.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User