Netanyahu dan Eisenkot Disebut Bisa Berbagi Kursi PM, Kantor Herzog Angkat Bicara
Wacana koalisi antara blok Benjamin Netanyahu dan Gadi Eisenkot mencuat setelah pemilu Israel belum menghasilkan mayoritas. Skema itu disebut membagi masa jabatan perdana menteri, tetapi kantor Presiden Isaac Herzog membantah laporan tersebut sebagai kebohongan total. Hasil sementara menunjukkan blok Netanyahu 53 kursi, blok Eisenkot 48 kursi, dan partai Arab 19 kursi.
Wacana pembagian kekuasaan antara blok Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan pemimpin oposisi Gadi Eisenkot kembali mencuat setelah pemilihan parlemen belum menghasilkan mayoritas. Opsi koalisi antara dua peraih suara terbanyak itu muncul karena keduanya enggan menggandeng partai-partai Arab dalam pembentukan pemerintahan baru.
Laporan stasiun televisi Israel Channel 14 menyebut usulan tersebut menempatkan Netanyahu sebagai perdana menteri selama dua tahun pertama sebelum kursi kepemimpinan diserahkan kepada Eisenkot. Sebagai imbalannya, Eisenkot disebut harus mundur dari dunia politik dan menerima pengampunan penuh atas kasus korupsi yang sedang dihadapi Netanyahu.
Channel 14 juga melaporkan bahwa Presiden Israel Isaac Herzog tengah berupaya mendorong kesepakatan itu sebagai jalan keluar dari kebuntuan politik. Menurut laporan tersebut, Herzog telah mengupayakan kesepakatan serupa selama dua tahun, jauh sebelum masa kampanye dan pengumuman hasil pemilu. Netanyahu dikabarkan ingin tetap menjabat pada dua tahun pertama agar dapat melanjutkan kerja sama dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Namun, kantor Herzog dengan tegas membantah laporan itu. Mereka menyebut kabar mengenai kesepakatan pembagian kekuasaan sebagai kebohongan total dan menegaskan tidak terlibat dalam spekulasi mengenai proses penugasan pembentukan pemerintahan. Kantor presiden juga menjelaskan bahwa hasil resmi pemilu baru akan diserahkan kepada Herzog pada Rabu (4/11) pekan depan, setelah itu konsultasi dengan berbagai faksi parlemen akan dimulai sesuai kewenangan konstitusionalnya.
Sementara itu, hasil sementara yang dirilis Channel 12 Israel pada Rabu (21/10) malam menunjukkan blok pendukung Netanyahu memperoleh 53 kursi berdasarkan 85 persen suara yang telah dihitung, tidak termasuk surat suara khusus. Blok oposisi yang dipimpin Eisenkot melalui Partai Yashar meraih 48 kursi, sedangkan partai-partai Arab mengumpulkan total 19 kursi.
Dengan komposisi tersebut, belum ada blok politik yang mencapai 61 kursi untuk mengamankan mayoritas di Knesset yang beranggotakan 120 kursi. Penghitungan suara masih berlangsung, termasuk surat suara khusus dari tentara, tahanan, diplomat, serta pemilih yang sedang dirawat di rumah sakit.
Komite Pemilihan Pusat Israel mencatat tingkat partisipasi pemilih mencapai 77,7 persen, naik 7,1 poin persentase dibandingkan pemilu 2022 dan menjadi yang tertinggi sejak 1999. Netanyahu sendiri telah menjalani persidangan selama bertahun-tahun atas sejumlah tuduhan korupsi, termasuk penyuapan, penipuan, dan penyalahgunaan kepercayaan. Mahkamah Pidana Internasional (ICC) juga telah menerbitkan surat perintah penangkapan terhadapnya atas dugaan kejahatan perang di Jalur Gaza.
Netanyahu memimpin pemerintahan sayap kanan Israel sejak akhir 2022. Pemerintahannya secara luas dinilai sebagai salah satu yang paling ekstrem dalam sejarah Israel.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)