20 Kursi Bersejarah Partai Arab Israel, Kunci Oposisi Gulingkan Netanyahu
Partai-partai Arab Israel meraih 20 kursi terbanyak sepanjang sejarah pada pemilu 27 Oktober, terdiri dari Joint List 12 kursi dan Ra'am 8 kursi. Tanpa mayoritas tunggal di Knesset, dukungan mereka berpotensi menentukan langkah blok oposisi pimpinan Gadi Eisenkot untuk menumbangkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Hasil pemilihan umum Israel pada 27 Oktober lalu menempatkan partai-partai Arab dalam posisi yang jarang terjadi sebelumnya. Untuk pertama kalinya, perolehan kursi mereka mencapai angka tertinggi sepanjang sejarah, yakni 20 kursi di parlemen Knesset.
Rinciannya, Joint List atau Daftar Gabungan mengantongi 12 kursi, sementara Partai Ra'am memperoleh 8 kursi. Capaian ini membuat partai-partai Arab berpeluang besar memainkan peran penting dalam menentukan siapa yang akan menduduki kursi perdana menteri.
Pasalnya, tidak ada satu pun partai yang menguasai suara mayoritas di Knesset. Dalam sistem parlementer Israel, sebuah pemerintahan baru membutuhkan dukungan minimal 61 dari 120 anggota parlemen. Karena itu, tambahan kursi dari partai-partai Arab menjadi faktor yang diperhitungkan dalam proses pembentukan koalisi.
Sejumlah partai Arab disebut dapat membantu blok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot untuk menumbangkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Persaingan antara kubu Netanyahu dan oposisi pun kian bergantung pada arah dukungan partai-partai tersebut.
Joint List sendiri merupakan aliansi tiga partai kecil, yakni Hadash yang berbasis Arab-Yahudi dan komunis, Balad yang nasionalis Palestina, serta Ta'al yang nasionalis Arab. Aliansi ini pertama kali dibentuk pada 2015 dan kini dipimpin oleh Ahmad Tibi.
Dalam pernyataan resminya, Joint List menegaskan siap bergabung dengan partai lain untuk melengserkan Netanyahu dari kekuasaan. Mereka menyatakan akan mengerahkan seluruh kekuatan untuk mengakhiri pemerintahan Netanyahu dan terbuka pada kerja sama politik guna membentuk pemerintahan alternatif yang menghadirkan perubahan mendasar dari kebijakan pemerintah saat ini.
Sementara itu, Partai Ra'am merupakan partai politik kecil dengan basis pemilih Muslim Arab yang erat kaitannya dengan gerakan Islamisme. Partai yang dipimpin Mansour Abbas ini selama beberapa tahun berfokus pada isu-isu sosial ekonomi yang dihadapi warga Arab Israel.
Pada 2025, Mansour Abbas mengumumkan bahwa partainya akan memutuskan hubungan formal dengan organisasi-organisasi Islam agar lebih diterima oleh mayoritas Yahudi Israel. Setahun berikutnya, para pemimpin partai menempatkan Yoav Segalovitz, seorang Yahudi dan pendukung utama Zionisme, sebagai kandidat kedua dalam daftar pemilu mereka.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)