Bukan Cuma Mengorbit, Bulan Ternyata Menyusut Perlahan dan Ilmuwan Temukan Pemicunya

Studi terbaru mengungkap Bulan terus menyusut akibat pendinginan bagian dalamnya. Peneliti memetakan lebih dari 10.000 sesar muda dan memperkirakan jari-jari Bulan berkurang sekitar 45 meter selama 400 hingga 800 juta tahun terakhir. Karena Bulan hanya punya satu lempeng, sesar tersebar luas sehingga gempa Bulan bisa terjadi di mana saja.

Oct 19, 2026 - 04:02
Updated: 1 day ago
0
Bukan Cuma Mengorbit, Bulan Ternyata Menyusut Perlahan dan Ilmuwan Temukan Pemicunya
Bukan Cuma Mengorbit, Bulan Ternyata Menyusut Perlahan dan Ilmuwan Temukan Pemicunya

Bulan yang selama ini dikenal sebagai satelit alami Bumi ternyata mengalami perubahan ukuran. Para ilmuwan menyebut ukuran Bulan terus menyusut seiring proses pendinginan bagian dalam yang berlangsung bertahap dari waktu ke waktu.

Temuan tersebut dituangkan dalam jurnal berjudul "Thrust Faulting and Late-Stage Contraction of the Moon" yang diterbitkan The Planetary Science Journal pada Rabu (14/10). Penelitian ini mengidentifikasi lebih dari 10.000 sesar muda yang tersebar di permukaan Bulan.

Dari hasil kajian itu, para peneliti memperkirakan jari-jari Bulan telah berkurang sekitar 45 meter selama 400 hingga 800 juta tahun terakhir. Pemetaan dilakukan menggunakan pengamatan dari Lunar Reconnaissance Orbiter Camera (LROC) yang merekam lobate scarps, yakni ribuan bentang alam akibat penyusutan, serta punggung-punggung kecil di dataran mare. Pemetaan mencakup dataran tinggi Bulan maupun mare, hamparan daratan luas dan gelap yang tampak di permukaan Bulan.

Jika laju penyusutan jari-jari Bulan dianggap konstan sepanjang periode tersebut, para ahli memperkirakan ukuran Bulan menyusut sekitar 6 hingga 11 sentimeter setiap tahun, atau sekitar 0,1 mikrometer per tahun. Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan rata-rata pergerakan lempeng Bumi yang sekitar 1,5 sentimeter per tahun. Para peneliti menyebut pergerakan tersebut kurang lebih setara dengan laju pertumbuhan kuku.

Pergerakan lempeng Bumi sendiri didorong oleh pelepasan panas dari bagian dalam Bumi. Sekitar 90 persen aktivitas tektonik dan seismik Bumi diketahui terjadi di batas-batas lempengnya. Berbeda dengan Bumi yang memiliki lebih dari 15 lempeng litosfer tersusun seperti mosaik, Bulan hanya memiliki satu lempeng yang bertindak seperti cangkang utuh.

Karena itu, ketika bagian dalam Bulan mendingin dan menyusut, sesar tidak terkonsentrasi di sepanjang batas lempeng, melainkan tersebar luas di seluruh permukaannya. Dengan demikian, gempa Bulan dapat terjadi di mana saja, baik akibat pergeseran pada sesar yang sudah ada maupun akibat terbentuknya sesar baru.

Penelitian terbaru ini juga mengungkap sejumlah wilayah yang memiliki lebih banyak sesar dibandingkan wilayah lain. Bagian Bulan dengan kerak paling tebal tampaknya memiliki sesar paling sedikit, yang menurut para ilmuwan menunjukkan wilayah tersebut mungkin merupakan bagian paling stabil.

Mereka juga menemukan pembentukan sesar secara luas tidak terjadi pada tahap awal evolusi Bulan. Kerak Bulan yang tebal, berpori, dan dipenuhi retakan berfungsi sebagai lapisan penyekat yang menghambat pelepasan panas dari dalamnya. Kondisi ini disebut dapat memperlambat proses pendinginan dan penyusutan Bulan hingga periode yang relatif baru.

"Seiring dengan berlanjutnya proses pendinginan dan penyusutan bagian dalam Bulan, pertumbuhan sesar baru diperkirakan masih berlangsung hingga saat ini," kata Thomas R. Watters, pemimpin utama penelitian ini, dalam keterangannya, Rabu (14/10). Watters merupakan ilmuwan senior emeritus di Center for Earth and Planetary Studies. Ia melakukan penelitian ini bersama sejumlah ilmuwan lain, seperti Maria Banks, Cole Nypaver, dan Mark Robinson.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User