Lavrov Temui Pejabat Tinggi Iran di Teheran, Bahas Upaya Akhiri Perang AS-Iran
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov bertemu Menlu Iran Abbas Araghchi di Teheran untuk membahas perang AS-Iran dan upaya mengakhirinya. Kunjungan pertama sejak Februari 2025 ini juga membahas keamanan Selat Hormuz, komitmen kemitraan strategis 20 tahun, dan rencana kembalinya spesialis Rusia ke PLTN Bushehr.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov melakukan kunjungan diplomatik ke Teheran dan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Senin (19/10). Pertemuan tersebut menjadi ajang pembahasan perang antara Amerika Serikat dan Iran, termasuk langkah-langkah untuk mengakhiri konflik yang berkepanjangan.
Kunjungan Lavrov ke ibu kota Iran ini merupakan yang pertama sejak Februari 2025. Kedatangan tangan kanan Presiden Vladimir Putin itu berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, terutama gangguan pelayaran di Selat Hormuz.
Dalam pertemuan tersebut, Araghchi mengecam apa yang disebutnya sebagai ekspansi berbahaya Israel di kawasan. Ia menilai tindakan militer AS dan Israel terhadap Iran menjadi penyebab utama ketidakamanan di sekitar Selat Hormuz. "Ketidakamanan yang ada di sekitar Selat Hormuz adalah akibat langsung dari agresi militer AS dan Israel terhadap Iran, dan hal itu terus berlanjut dalam berbagai bentuk," kata Araghchi.
Araghchi menegaskan kebijakan Iran berfokus pada jalur diplomasi karena masalah regional tidak memiliki solusi militer. Ia juga mengkritik kebijakan negara-negara Eropa yang dinilainya turut berkontribusi terhadap konflik internasional. Menurutnya, Eropa harus membuka mata terhadap sejumlah kebenaran, sama seperti Amerika yang menderita akibat kesalahan perhitungan dan interpretasi yang salah.
Dari pihak Rusia, Lavrov menegaskan komitmen Moskow terhadap perjanjian kemitraan strategis selama 20 tahun dengan Iran yang mulai berlaku pada 2 Oktober. Ia juga menyampaikan bahwa para spesialis Rusia akan secara bertahap kembali bekerja di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr setelah meninggalkan lokasi tersebut selama perang. Lavrov turut mengaitkan pemulihan pelayaran dengan upaya menjamin keamanan Iran dari kemungkinan serangan baru.
Selain bertemu Araghchi, Lavrov mengadakan pertemuan dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Senin (19/10) sore. Pezeshkian menyatakan keyakinannya bahwa Rusia memiliki pandangan dan pendekatan yang sejalan dengan Iran mengenai pentingnya membangun hubungan internasional berdasarkan rasa saling menghormati. Kremlin menyebut kunjungan Lavrov sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan yang berlangsung sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari.
Sebelum tiba di Teheran, Lavrov mengunjungi Bahrain pada Minggu (18/10) untuk menghadiri dialog strategis antara Rusia dan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC). Dalam pertemuan itu, negara-negara anggota GCC meminta Moskow menggunakan pengaruhnya terhadap Teheran untuk mendorong dialog serius dan memulihkan pelayaran di Selat Hormuz. Ketua GCC Jasem Al Budaiwi menyebut negara-negara anggota telah menghadapi lebih dari 7.000 serangan rudal dan drone Iran sejak perang dimulai.
Dalam pernyataan penutup, enam negara Arab anggota GCC juga menyatakan keinginan agar program nuklir dan rudal Iran serta dukungan Teheran terhadap kelompok bersenjata di kawasan menjadi bagian dari pembicaraan untuk mengakhiri perang. Analis hubungan Iran-Rusia di Timur Tengah, Nikita Smagin, menilai rangkaian kunjungan Lavrov ke negara-negara Teluk dan Iran menunjukkan upaya Moskow mempertahankan hubungan dengan berbagai pihak yang terlibat dalam konflik. Menurutnya, Rusia ingin mempertahankan posisinya sebagai mediator di kawasan meskipun perang di Ukraina turut memengaruhi reputasi globalnya.
Di tengah upaya diplomatik tersebut, laporan intelijen yang dikutip sejumlah media AS menyebut Rusia dan China memberikan dukungan militer kepada Iran, termasuk citra satelit untuk membantu penentuan sasaran serta komponen senjata. Presiden AS Donald Trump membantah laporan tersebut pada pekan lalu dan mengatakan Moskow serta Beijing akan menghadapi terlalu banyak kehilangan jika membantu Iran. Di sisi lain, Washington telah memberikan pengecualian sanksi kepada Rusia dalam upaya menekan kenaikan harga bahan bakar yang dipicu perang dengan Iran.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)