Canva PHK 1.271 Karyawan, CEO Sebut Teknologi AI Ubah Cara Kerja

Canva mengumumkan PHK dan perombakan organisasi yang berdampak pada 1.271 karyawan atau 22 persen dari total tenaga kerja. CEO Melanie Perkins menyebut perubahan besar diperlukan untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan AI yang mengubah industri perangkat lunak. Perusahaan juga akan mewajibkan karyawan masuk kantor 2-3 hari seminggu mulai Januari dan menjadikan Sydney sebagai basis tim produk.

Nov 04, 2026 - 20:01
Updated: 1 day ago
0
Canva PHK 1.271 Karyawan, CEO Sebut Teknologi AI Ubah Cara Kerja
Canva PHK 1.271 Karyawan, CEO Sebut Teknologi AI Ubah Cara Kerja

Canva, perusahaan teknologi asal Australia, resmi mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) dan perombakan struktur organisasi yang berdampak terhadap 1.271 karyawan, atau sekitar 22 persen dari total tenaga kerjanya. Keputusan ini diambil di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang kian mengubah industri perangkat lunak.

CEO Canva Melanie Perkins dalam memo kepada karyawan yang diunggah di situs resmi perusahaan pada 4 November menyatakan bahwa perubahan besar diperlukan agar Canva dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi. Menurutnya, teknologi baru telah mengubah apa yang dapat diciptakan orang, cara mereka menciptakannya, serta ekspektasi terhadap produk yang digunakan. "Saya sampai pada kesimpulan sulit bahwa perubahan kecil tidak akan cukup," tulis Perkins, seperti dikutip The Straits Times.

Meski demikian, Perkins tidak merinci berapa jumlah karyawan yang akan terkena PHK dari total 1.271 orang yang terdampak perubahan tersebut. Ia menjelaskan bahwa perubahan mencakup karyawan yang kehilangan pekerjaan, berpindah peran, hingga harus direlokasi ke kantor pusat perusahaan.

Perkins, yang mendirikan Canva bersama Cliff Obrecht dan Cameron Adams, menyebut perusahaan perlu menyederhanakan struktur bisnis dan kembali mengandalkan tim-tim kecil dengan kewenangan lebih besar. Ia juga mengungkapkan bahwa pertumbuhan Canva melambat untuk pertama kalinya dalam satu dekade. Karena itu, perusahaan akan mengurangi spesialisasi pekerjaan yang terlalu spesifik dan menyusun ulang tim agar lebih sederhana. Perkins menggambarkan restrukturisasi ini sebagai "momen tersulit dalam 13 tahun sejarah perusahaan".

Perubahan di Canva mencerminkan tekanan yang lebih luas terhadap industri perangkat lunak akibat perkembangan AI. Teknologi ini memungkinkan pengguna menyelesaikan lebih banyak pekerjaan secara mandiri tanpa bergantung pada program khusus. Di sisi lain, perusahaan juga mulai memanfaatkan AI untuk menjalankan operasional dengan jumlah tenaga kerja yang lebih sedikit.

Kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan model bisnis perusahaan perangkat lunak turut meningkat. Sejumlah investor memangkas nilai perusahaan di sektor tersebut karena khawatir teknologi baru, termasuk Claude milik Anthropic, dapat mengambil alih sebagian pasar yang selama ini dilayani produk perangkat lunak konvensional.

Sebagai bagian dari perubahan organisasi, Sydney akan menjadi basis utama bagi lebih banyak tim produk Canva. Perkins juga mengatakan perusahaan akan mendorong lebih banyak karyawan untuk bekerja secara langsung di kantor. Mulai Januari, sebagian besar karyawan dengan pola kerja hibrida akan diwajibkan masuk kantor dua hingga tiga hari dalam sepekan.

Perombakan ini dilakukan ketika Canva tengah mempersiapkan kemungkinan melantai di bursa saham. Valuasi perusahaan sempat mencapai US$40 miliar pada 2021, namun turun menjadi sekitar US$26 miliar setahun kemudian di tengah aksi jual saham perusahaan teknologi secara luas. Valuasi Canva kemudian kembali meningkat, meskipun dampak gejolak industri teknologi terbaru terhadap nilai perusahaan belum diketahui secara pasti.

Perubahan di Canva berlangsung di tengah meningkatnya tekanan terhadap perusahaan teknologi untuk membuktikan bahwa investasi besar pada AI dapat menghasilkan keuntungan finansial. Pada Oktober, Firmus Grid membatalkan rencana penawaran umum perdana saham (IPO) di Australia dengan nilai hingga US$5,5 miliar. Sementara itu, saham operator pusat data NextDC anjlok pada bulan yang sama setelah perusahaan mempertimbangkan opsi force majeure dan memangkas proyeksi pendapatannya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User