Buku Baru Bongkar Kamp Kerja Paksa China, Investigasi Rahasia 1991 Kini Nyaris Mustahil Diulang
Orville Schell menerbitkan buku tentang investigasi rahasia CBS tahun 1991 ke kamp penjara Laogai China, dipandu penyintas Harry Wu. Buku itu mengungkap kerja paksa, indoktrinasi, dan penyensoran diri yang membungkam Schell selama puluhan tahun. Kini sistem represi berevolusi ke Xinjiang dengan pengawasan teknologi tinggi, membuat investigasi serupa nyaris mustahil diulang.
Investigasi rahasia yang pernah mengguncang publik Amerika Serikat pada 1991 kembali menjadi sorotan lewat sebuah buku baru. Orville Schell, salah satu pengamat China paling dikenal di Barat, merilis karya berjudul "Inside China's Secret Prisons: An Undercover Exposé and Its Lasting Legacy" yang diterbitkan Columbia University Press pada 2026. Buku ini membedah operasi tim CBS yang menyusup ke China dengan kamera tersembunyi untuk membuktikan barang buatan narapidana diekspor ke toko-toko di AS, melanggar hukum federal.
Dalam ulasan yang dibahas sosiolog sekaligus direktur CESNUR, Massimo Introvigne, dijelaskan bahwa misi tersebut dipandu Harry Wu (1937-2016), penyintas yang menghabiskan 19 tahun di kamp penahanan sebelum beremigrasi ke AS. Wu berulang kali kembali ke China dengan risiko besar untuk merekam fasilitas tempat ia dan ribuan orang lain menderita. Sistem yang didokumentasikan tim Schell adalah laogai, kependekan dari laodong gaizao atau reformasi melalui buruh.
Introvigne menyebut Schell membandingkan laogai dengan gulag Soviet yang sama-sama mengeksploitasi tahanan sebagai tenaga kerja murah. Namun ada ciri khas China Maois, yakni reformasi pemikiran. Kerja paksa di kamp diiringi program indoktrinasi, pengakuan paksa, dan kritik diri di muka umum yang dirancang merombak mental tahanan agar loyal kepada Partai Komunis China. Banyak narapidana politik, menurut buku itu, dipaksa mengakui kejahatan yang tidak pernah mereka lakukan.
Schell menggambarkan dunia tersebut melalui lensa sastra Franz Kafka dalam "The Trial" dan konsep "banality of evil" dari Hannah Arendt, di mana birokrat memproduksi rasa bersalah dan kekejaman menjadi rutinitas harian. Kisah penundaan penerbitan buku ini selama puluhan tahun juga menjadi sorotan. Schell sempat menulis laporan panjang untuk majalah New Yorker, tetapi memilih menyimpannya karena istrinya lahir di China dan ia khawatir PKC akan menghukum keluarganya serta menutup akses kerjanya sebagai jurnalis dan akademisi.
Menurut Introvigne, keputusan Schell mengakui ketakutan itu secara terbuka memberikan gambaran langka tentang cara kerja intimidasi Beijing dalam memproduksi penyensoran mandiri di kalangan jurnalis, akademisi, dan pebisnis asing. Buku tersebut juga menunjukkan bahwa metode yang didokumentasikan Wu dan Schell tidak pernah mati, melainkan bermigrasi dan berevolusi ke wilayah Xinjiang. Di sana, ratusan ribu warga Uyghur dan Muslim Turkik dikurung di fasilitas yang disebut "pusat pelatihan kejuruan" dan dipaksa bekerja di pabrik-pabrik yang terhubung dengan rantai pasok global.
Sistem pengawasan lama itu kini disempurnakan dengan teknologi tinggi, mulai dari pengenalan wajah, pengumpulan data biometrik, hingga penyensoran daring. Tingkat efisiensinya jauh melampaui yang pernah diimpikan Mao Zedong. Akibat pengetatan informasi dan penolakan visa, Introvigne menilai investigasi seperti yang dilakukan CBS pada 1991 hampir mustahil diulangi hari ini.
Buku Schell turut membongkar perdebatan panjang di kalangan pengamat China Barat. Harapan lama bahwa perdagangan dan keterlibatan ekonomi akan meliberalisasi rezim, yang sempat tampak nyata di era Deng Xiaoping, kini runtuh di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping. PKC kembali memperkuat kontrol tersentralisasi dan kaku berlandaskan akar Leninis. Introvigne menyebut represi adalah bagian dari kode genetik sistem pemerintahan China.
Di bagian akhir, Schell menuntut pertanggungjawaban moral para pengamat internasional. Meski jurnalis dan sarjana tidak lagi dapat memasuki kamp secara langsung, ia menegaskan mereka tetap bertanggung jawab mendukung inisiatif HAM, menyuarakan para disiden di pengasingan, dan menolak sikap bungkam yang dipaksakan China.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)