BRIN Uji Dry Ice Redam Asap Karhutla, Efektifkah Melemahkan Lapisan Inversi?

BNPB memakai dry ice untuk mengurangi asap karhutla, tetapi BRIN menegaskan metode ini masih diuji. Dry ice bersuhu minus 78,5 derajat Celsius diharapkan menimbulkan pendinginan lokal yang melemahkan lapisan inversi penghambat pertumbuhan awan. Namun mekanisme itu baru hipotesis dan harus dibuktikan lewat pengamatan data atmosfer sebelum efektivitasnya disimpulkan.

Oct 19, 2026 - 08:02
Updated: 22 hours ago
0
BRIN Uji Dry Ice Redam Asap Karhutla, Efektifkah Melemahkan Lapisan Inversi?
BRIN Uji Dry Ice Redam Asap Karhutla, Efektifkah Melemahkan Lapisan Inversi?

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memakai metode penyemaian dry ice atau es kering untuk menekan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan teknologi ini masih dalam tahap pengujian dan evaluasi untuk melihat seberapa besar kemampuannya memengaruhi kestabilan lapisan atmosfer yang menahan pergerakan asap sekaligus menghambat pembentukan awan hujan.

Perekayasa Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN Florentinus Heru Widodo menjelaskan, tebalnya asap karhutla tidak semata ditentukan oleh luas kebakaran. Kondisi atmosfer turut berperan, terutama fenomena inversi suhu yang membuat asap tertahan dekat permukaan Bumi. Dalam kondisi normal, suhu udara menurun seiring bertambahnya ketinggian sehingga udara hangat di dekat permukaan bisa naik dan mendukung pertumbuhan awan. Namun saat inversi terjadi, lapisan udara hangat berada di atas udara dingin dan menghambat pergerakan vertikal udara.

"Lapisan inversi ini dapat diibaratkan sebagai penutup yang menghambat pergerakan udara ke atas. Akibatnya, asap dari kebakaran sulit menyebar secara vertikal dan semakin terkonsentrasi di dekat permukaan. Pada saat yang sama, kondisi atmosfer yang stabil juga menghambat pertumbuhan awan hujan," ujar Heru, dikutip dari laman resmi BRIN.

Karena itu, BNPB bersama lembaga terkait mulai mencoba penyemaian dry ice. Berbeda dengan penyemaian awan yang bertujuan meningkatkan peluang hujan pada awan yang memenuhi syarat, penggunaan dry ice dalam konteks ini diarahkan untuk menguji kemungkinan perubahan kondisi termal pada lapisan inversi. Dry ice memiliki suhu sekitar minus 78,5 derajat Celsius dan mengalami subliminasi saat dilepaskan ke atmosfer, berubah dari fase padat menjadi gas sambil menyerap panas lingkungan sekitarnya.

Secara konseptual, pendinginan lokal yang muncul diharapkan memengaruhi perbedaan suhu dan kerapatan udara, memicu pergerakan udara setempat, serta meningkatkan peluang pencampuran udara secara vertikal. Jika perubahan itu cukup besar dan kondisi atmosfer mendukung, lapisan inversi berpotensi melemah sehingga udara bergerak lebih bebas dan pertumbuhan awan berpeluang berkembang.

Meski demikian, Heru menegaskan mekanisme tersebut masih berupa hipotesis ilmiah. "Penggunaan es kering diharapkan dapat menimbulkan pendinginan lokal dan memengaruhi kestabilan udara pada lapisan inversi. Namun, mekanisme ini masih merupakan hipotesis ilmiah. Kita harus menguji apakah perubahan yang dihasilkan benar-benar cukup untuk melemahkan inversi dan mendukung pertumbuhan awan," jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa lapisan inversi bisa mencakup wilayah luas dengan tingkat kestabilan berbeda-beda. Gangguan suhu di satu lokasi belum tentu cukup mengubah kondisi atmosfer secara keseluruhan. Karena itu, keberhasilan metode dry ice tidak bisa disimpulkan hanya dari perkiraan mekanisme pendinginan, melainkan harus dibuktikan melalui pengamatan dan analisis data atmosfer.

Untuk mendukung operasi, BRIN dapat menganalisis data pengamatan atmosfer yang dikumpulkan instansi pelaksana operasi dan BMKG. Data itu mencakup profil suhu udara vertikal, kelembapan, ketinggian dan ketebalan lapisan inversi, serta parameter kestabilan atmosfer. Pengukuran dapat memanfaatkan data radiosonde dan pengamatan suhu selama penerbangan untuk mengidentifikasi lapisan inversi serta memperkirakan ketebalannya. Pengamatan sebelum, selama, dan sesudah penyemaian perlu dilakukan sistematis agar setiap perubahan kondisi udara terdokumentasi dan bisa dibandingkan, sebab efektivitas teknologi modifikasi cuaca sangat bergantung pada kondisi atmosfer saat operasi berlangsung.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User