BPOM Klaim 25 Izin Edar Terbit dari Hilirisasi Riset Kampus, Taruna Ikrar Beberkan Strateginya
BPOM memperkuat kolaborasi Academia, Business, and Government (ABG) untuk mendorong hilirisasi riset perguruan tinggi. Dalam dua tahun, 25 Nomor Izin Edar telah diterbitkan bagi produk inovasi kampus. Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan peran regulator sebagai regulatory enabler, didukung program BRIDGE dan kemitraan dengan lebih dari 190 perguruan tinggi.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menegaskan posisinya sebagai penggerak inovasi nasional melalui kolaborasi Academia, Business, and Government (ABG). Dalam dua tahun penguatan program tersebut, BPOM telah menerbitkan 25 Nomor Izin Edar (NIE) bagi produk hasil hilirisasi inovasi perguruan tinggi.
Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan komitmennya menjembatani hasil riset akademisi agar tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah. Menurutnya, riset kampus harus berkembang menjadi produk inovatif yang aman, bermutu, bernilai ekonomi, dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat.
Taruna menyoroti kekayaan biodiversitas dan sumber daya manusia unggul Indonesia, ditambah ribuan hasil penelitian dari berbagai perguruan tinggi. Namun, potensi besar itu membutuhkan ekosistem hilirisasi yang kuat agar mampu menghasilkan produk bernilai tambah dan berdaya saing global.
Salah satu tantangan terbesar inovasi nasional, kata dia, adalah kesenjangan antara hasil penelitian, kesiapan industri, kebutuhan pasar, pembiayaan, dan pemenuhan persyaratan regulasi. Karena itu, sinergi lintas sektor menjadi kunci.
"Perguruan tinggi memiliki kekuatan riset dan inovasi, dunia usaha mempunyai kemampuan investasi serta produksi, sementara pemerintah hadir memastikan kebijakan dan regulasi mampu mendukung percepatan hilirisasi tanpa mengabaikan keamanan, khasiat, manfaat, dan mutu produk," ujar Taruna Ikrar di acara Gebyar ACB, Tangerang, Kamis (5/11).
Ia menjelaskan, BPOM tidak lagi hanya hadir di tahap akhir untuk menerbitkan izin edar. Regulator kini terlibat sejak perencanaan riset melalui pendampingan ilmiah, pengembangan produk, pengujian, kesiapan fasilitas produksi, hingga pemenuhan persyaratan registrasi. Langkah ini merupakan transformasi BPOM sebagai regulatory enabler, yang tetap menjalankan fungsi pengawasan sekaligus memfasilitasi inovasi dan pertumbuhan industri nasional.
Untuk mempercepat pengembangan inovasi berbasis sumber daya alam Indonesia, BPOM menjalankan program BRIDGE atau Bersinergi Dalam Riset Inovatif, Berdaya Saing Global, dan Ekspansi Pasar. Melalui program itu, BPOM telah menjaring 24 penelitian yang melibatkan 18 lembaga penelitian untuk didorong menuju hilirisasi menjadi produk obat bahan alam, obat kuasi, suplemen kesehatan, kosmetik, dan pangan olahan. Program ini juga mempertemukan inovator kampus dengan mitra industri, investor, serta jaringan pemasaran.
Taruna mengungkapkan, BPOM telah menjalin kerja sama dengan lebih dari 190 perguruan tinggi di berbagai wilayah Indonesia. Kemitraan itu diarahkan untuk memperkuat tridarma perguruan tinggi, meningkatkan kualitas riset, mendorong transfer teknologi, memperluas literasi keamanan obat dan makanan, serta mendukung pengawasan hingga pelosok negeri.
"BPOM tidak dapat bekerja sendiri. Dibutuhkan sinergi seluruh pemangku kepentingan agar inovasi yang lahir dari perguruan tinggi mampu berkembang menjadi kekuatan industri nasional dan memberikan manfaat bagi masyarakat," tegasnya.
Penguatan kolaborasi ABG disebut Taruna sebagai kontribusi konkret BPOM dalam mendukung dua tahun pelaksanaan Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. BPOM berkontribusi pada Asta Cita kedua dalam memperkuat kemandirian bangsa di sektor obat dan pangan, Asta Cita ketiga dalam mendorong kewirausahaan dan perluasan akses pasar UMKM, serta Asta Cita keempat dan kelima dalam penguatan SDM, sains dan teknologi, serta percepatan hilirisasi dan industrialisasi.
Dukungan terhadap Asta Cita keenam diwujudkan melalui program Desa Pangan Aman, penguatan usaha lokal, dan pendampingan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) agar berkembang dengan tetap memenuhi standar keamanan dan mutu. Taruna juga menekankan pentingnya transformasi digital layanan BPOM untuk menciptakan sistem regulasi yang cepat, transparan, terintegrasi, dan berbasis risiko, sejalan dengan penguatan pengawasan sebelum dan selama produk beredar.
Ia optimistis sinergi ABG yang semakin kuat dapat menjadi fondasi penting mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen dan mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. "Besar harapan kami kolaborasi ABG dapat terus menghasilkan inovasi yang bermanfaat nyata, meningkatkan daya saing produk Indonesia, memperkuat kemandirian nasional, dan menjadi bagian dari upaya bersama mewujudkan Indonesia Emas 2045," pungkas Taruna Ikrar.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)